Outing Class sebuah Joyfull Learning


IMG-20160208-WA0001

Miris. Itu yang pertama terbersit di benak saya ketika membaca sebuah meme yang intinya mengatakan bahwa “Sekolah adalah Penjara.” Sungguh sangat kontradiktif dengan prinsip yang dikembangkan Bapak Pendiidikan Ki Hajar Dewantara. Sekolah seharusnya menjadi taman yang menyenangkan dan memberikan kegembiraan.

Joyfull Learning, atau dikenal pula dengan Pembelajaran Menyenangkan, menjadi trend positif dalam dunia pendidikan kita. Siswa (sekarang disebut sebagai peserta didik untuk menghindari bias gender), oleh sebagian kalangan dinilai berada dalam kondisi penuh tekanan (stress) berlebih. Hal ini terjadi karena orientasi pendidikan kita (tidak semuanya) masih menekankan pada kemampuan kognitif sebagai tolak ukur utama dengan sedikit mengesampingkan aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan).

Salah satu kegiatan Joyfull Learning bisa diterapkan adalah melalui pembelajaran kontekstual dan pembelajaran di luar kelas (outdoor learning activity). Inilah yang diterapkan oleh SMP Muhammadiyah 3 Depok (SMP Mugadeta) beberapa waktu lalu. SMP Mugadeta mengadakan outing class berbasis alam ke Pantai Drini dan Baron, Gunungkidul. Siswa diarahkan untuk memahami alam dan belajar langsung mengenai gejala alam baik biotik maupun abiotik.

Outing class dilaksanakan pada hari Minggu, 7 Februari 2016. Sengaja dipilih pada long weekend dengan harapan bisa mengisi kegiatan liburan dengan kegiatan positif dan produktif. Selain itu, pembelajaran yang diperoleh siswa lebih komprehensif, tidak sekedar sains (IPA) tetapi juga belajar bersosialisasi, berkomunikasi, dan etika wisata yang sesuai.

Budaya Selfie dan Grouppie 

Generasi 2000-an merupakan generasi digital alias digital native. Alat komunikasi dan gadget sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka sejak kecil Salah satunya adalah budaya selfie atau groppie untuk mengabadikan momen penting. Kebebasan dalam berkreasi inilah salah satu kompetensi (Skill) abad 21 yang perlu dikembangkan. Terlebih lagi, kita sudah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejak 1 Januari 2016 yang lalu.

IMG-20160208-WA0005

Tulisan ini sudah dimuat di Kompasiana.

Belajar Berpikir Positif

3 September 2015 Tinggalkan komentar

Saya menemukan video inspiratif ini dari situs berbagi Youtube. Awalnya saya merasa biasa saja karena video ini hanyalah sebuah iklan dan promosi produk. Sungguh berbeda dengan negeri ini, iklan di negeri Gajah realatif lebih bermakna dan selalu membawa pesan hikmah, selain promosi tentunya. Monggo disimak, insyaAllah ada pesan hikmah yang luar biasa.

Agaknya pesan dalam video itu selaras dengan pesan Allah Swt dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan) karena sebagian prasangka itu adalah dosa.” (Q.S al-Hujurat: 12). Berpikir negatif (suudzan) memang sangat dilarang dalam ajaran agama. Namun, dengan sifat MahaPenyayang Allah tidak mencatat niat/prasangka buruk sebagai sebuah dosa. Andaikan dicatat, entah berapa banyak timbunan dosa akibat niat atau prasangka buruk itu. Naudzubillah.

Sudah saatnya mulai menata diri untuk selalu berpikir positif (husnudzan). Setiap niat baik selalu dicatat oleh-Nya sebesar satu pahala. Tentunya akan berpahala lebih ketika diimplementasikan dalam bentuk nyata berupa amaliyah dan perilaku. Tidak ada ruginya berpikir positif, hemat energi dan menentramkan hati dan pikiran kita.

Salam #PostiveThinkingAcademy, mari senantiasa berproses menjadi yang lebih baik. Memantaskan diri menjadi yang pantas dicintai-Nya. Allahumma amiin.

Aku Berbeda


Aku Berbeda (ilustrasi)

Aku Berbeda (ilustrasi)

PASTI kamu merasakan perubahanku akhir-akhir ini. Semua pasti akan terasa sangat berbeda. Begitupun aku yang menjalaninya. Perubahan ini bukan semata inginku. Keadaan yang memaksaku melakukannya. Ehm, sejujurnya aku berusaha sangat kuat melawan hatiku sendiri. Semua demi menebus kesalahanku.

Kesalahan

Sejak awal aku harusnya menyadari apa yang terjadi dan tidak memaksakan egoku. Aku harus bercermin dan melihat diriku sendiri. Aku tak mungkin merusak indahnya harapan dan angan seseorang (bahkan yang saat ini selalu aku semogakan dalam doa). Seharusnya aku tahu diri dan bisa menempatkan diri dan menjaga hati ini.

“Hanya bunga yang indah yang dikelilingi banyak kumbang.” Pesan mahadahsyat di perjalanan siang kemarin yang membuka mata batinku. Kau memang begitu istimewa (untukku) dan ketika kau bertanya kenapa? Aku pun tak bisa menjelaskannya. Semua mengalir begitu cepat bahkan aku sendiri tak menyadarinya sejauh ini aku terjatuh, sejauh ini aku terhanyut.

Kesalahan. Mungkinkah ini sebuah kesalahan? Aku menaruh hati pada seseorang yang ‘mungkin’ sudah melabuhkan hatinya bagi orang lain. Mungkin pula ‘dia’ adalah pelabuhan hati seseorang. Mungkin aku tahu semua itu sejak awal dan berusaha seolah-olah “buta” dan melawannya.

Pantaskah aku “berpura bahagia” untuk kebahagiaanku? Adilkah jika aku mengharapkan balasan kasih darinya? Ehm… Semua serba bias. Aku sendiri masih terdiam dalam tanya. Apakah ini nyata? Ketika aku harus “jatuh”, aku ingin jatuh dalam pelukan kebahagiaan yang hakiki. Namun, semua sudah terjadi. Membiasakan hati yang tak biasa ini sungguh menyiksa. Aku nggak bisa berdusta, aku sudah “memilihnya”. Aku harus merelakan hati ini sedikit terluka, hanya sedikit, sebagiannya lagi aku bahagia. Aku merasa merdeka, merdeka mencintai, merdeka mengasihi, merdeka dengan semua yang terjadi tanpa harus berdusta pada hati ini.

Tidak ada sesal

Semua berjalan dengan alur cerita terbaik. “Bukankah sinetron atau drama yang laris selalu penuh konflik?” Ah, aku terlalu mendramatisisasi keadaan. Dunia sufi (suka film) membuatku sering berperan ganda: selalu bahagia meskipun menderita, dan saat ini aku sedang memerankannya. Semoga saja aku sukses menjadi aktor terbaik :-)

Teruntuk kau yang selalu aku semogakan, berbahagialah. Aku akan membersamaimu dalam bahagia. Kau yang kukenal selalu ramah. Kau yang kukenal selalu sumringah. Semoga aku masih bisa melihat semua itu lebih lama lagi…

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya