Beranda > Kata Hati > Catatan Lazuardi #1: Infinity

Catatan Lazuardi #1: Infinity


Terbangun di penghujung malam meski sempat terlelap sejenak. Entah ada apa, kali ini kuterbangun karena ada ganjalan di hati, infinity. Sesaat teringat sebuah janji: cinta sehat tanpa penyakit, janji yang kuucap 19 Desember tahun lalu. Komitmen yang kudengungkan dihadapan orang yang kusayang, orang yang kuharapkan kelak dipertemukan oleh-Nya dalam peraduan terindah. Ehhmmm, harapan semu for invisible-man. Tak ada yang tak mungkin untuk sebuah niat tulus menuju kebaikan. Namun, predikat dan image sebagai ‘pecinta wanita’ (mungkin terlalu halus: baca playboy) yang secara tidak sadar kuciptakan sendiri menjadi bumerang dan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Pernah terfikir, “sayangilah semua dalam porsi yang sama agar tak ada yang merasa istimewa, tetapi satu cintamu untuknya seorang”. Filosofi yang kuanut selama ini. Bergaul dengan siapa saja, bersikap biasa tanpa ada ‘rasa’ yang diistimewakan. Bohong besar!!! Semua tidak sesederhana yang aku bayangkan, hati terlalu lembut untuk tersentuh. Perhatian, sikap peduli, kelakar dan canda terkadang disalah artikan oleh banyak orang sebagai sebuah ‘cinta’. Ya begitulah… Terlalu awam dalam masalah rumit (baca: cinta), membuatku terkadang salah dalam bersikap. “anak kecil”, emang masih anak kecil. “bodoh”, emang masih bodoh. “bla-bla-bla”, emang bla-bla-bla.

Jikalau aku boleh memerintah hati sesukaku, mungkin aku akan memintanya terkunci untuk sementara, menunggu tamu itu benar-benar datang dan siap mengisinya. “kamu ini laki-laki, berjuanglah!!!”, setiap kali sahabat2 memprovokasiku. Provokasi positif yang sulit terealisasikan secara bijak olehku. Aneh, nggak biasa, cupu, dibuat-buat, lebay. Nah itulah hasilnya… Siapa yang bersalah??? AKU. Tidak ada asap, kalau tak ada api. Menyesal??? MUNGKIN.

Tidak ada artinya sebuah penyesalan. Hidup adalah perbuatan yang disertai tanggung jawab atas setiap konsekuensi, atas setiap pilihan, dan atas setiap keputusan. Tidak ada yang dapat mengulang kehidupan, kita hanya dapat memulainya sekarang dan membuat akhir yang baru. Semoga masih ada kesempatan untuk mencoba dan berusaha menjadi sosok yang lebih baik.

Terus berjuang dalam DIAM! Mungkin itu yang terbaik. Hampir saja komitmen (cinta sehat tanpa penyakit) itu kunodai. Allah masih sayang padaku, Dia perintahkan hamba-Nya nan istimewa itu menyadarkanku. “Belum Bisa!”, kata terindah yang menghias angin malam. Mendesis perlahan, menembus daging, menyelinap masuk ke hatiku, seakan berkata, “kamu tidak salah pilih.” Dia mendewasakanku untuk bersikap. Tidak ada cinta yang instant, apalagi karbitan.

Cinta bukan polesan paras rupawan, atau bahkan menjadi sosok lain. Cinta lahir dari dalam diri insan sejati. Lahir dari hati ibarat matahari yang terbit, mulai menghangatkan semesta, memulai kehidupan… Terima kasih cinta. Kau begitu indah dibalik sederhanamu. Bahkan untuk orang aneh sepertiku. Hari ini adalah awal perjalanan panjang ke depan, Ku akan menantimu bersama cinta ini, Penantian dalam diam, Penantian tulus tanpa memaksamu menghampiriku suatu saat nanti… Karena kau berhak bahagia…

Subuh, 4 Maret 2011
Ditulis bersama ketulusan dan rasa syukur,
^be better together

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: