Beranda > Kata Hati > Catatan Lazuardi #2: Analogi Bisu

Catatan Lazuardi #2: Analogi Bisu


Aku memang tertakdirkan hadir di penghujung jalan,
Hadir di akhir-akhir tanpa tahu kapan harus berhenti,
Hadir membawa analogi bisu, tak bermakna,
Singgah tanpa bekas,
Berkoar tanpa terdengar,
Biarlah dalam diam, kini aku berjuang,
Biarlah dalam doa, kini aku berperang,
Bersama ketulusan, bersama ikhlas, bersama mimpi dan harapan,
Biarlah deru caci maki, sapuan kasar menghendus ragaku,
Tak akan kecewa jikalau masih ada tapak yang terbekas,
Langkah-langkah pejuang tanpa peluh tangis,
Pejuang teriring senyum menuju keabadian,
Dalam diam, hanya dalam diam, diam, dan diam…
Diamku bukanlah penyerahan,
Diamku bukanlah kekalahan,
Diamku hanyalah penyambutanku akan kemenangan,
Menang tanpa harus membawa kesombongan,
Menang tanpa harus membuat orang lain merasa dikalahkan,
Semua hanya analogi bisu, morfologi buta,
Tapi itu semua yang akan kubuktikan pada dunia yang selalu menertawakanku…

(Midnight, 00:07)

Harga diri.

Masihkah benda abstrak itu kumiliki? Setidaknya walau secuil, aku masih punya. Aku sadar bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanya anak desa, cupu, dari keluarga sederhana, sama sekali nggak ada yang bisa kubanggakan. Harta tak punya. Kekuasaan tak ada. Keturunan dari rakyat jelata. Dimana harga diriku??? Bukankah manusia dinilai Allah berdasarkan keimanan dan ketaqwaannya???

Untukku yang sejak dilahirkan, dibesarkan dengan kasih sayang oleh abah-ummi, dididik dengan agama yang benar, diberikan nasihat dan bimbingannya sampai aku menjadi seperti sekarang. Mungkin tidak terbersit pula dalam hidupku, hidup orang tuaku melihat anak kesayangannya dihinakan seperti sekarang. Seakan aku di-judge tidak bermoral, penjahat kehidupan, atau mungkin dengan arogannya meng-kafirkan seseorang. Kalimat terakhir mungkin menyiratkan atau bahkan menyuratkan emosi dan kekecewaan. Tapi itulah yang kurasakan. Astaghfirullah…

Menyakiti Perempuan=Menyakiti Ummi=Durhaka

Kalian tentu akan berkata, “Dasar anak kecil, cengeng, dikit-dikit mengeluh, gak gentle, pecundang, penakut, de el el…”. Kalian tidak salah berkata seperti itu. Semua berhak berpendapat tapi jangan sampe men-judge seseorang berdasarkan fitnah, berdasarkan buruk sangka dan hanya berdasarkan kegalauan hati karena tidak sanggup menerima kenyataan. Kalau cinta jangan marah, apalagi sampai dengan teganya merendahkan martabat dan harga diri seorang perempuan, apalagi perempuan itu ‘katanya’ orang yang kalian cintai dengan sepenuh hati. INGAT UMMI-mu sahabat!!!. Masih teringat pesan ummi, yang diingatkan lagi oleh seorang sahabat, adik yang begitu kusayang, “Le, kalo kamu menyakiti hati cewek, artinya kamu juga nyakitin hati ummi.” Sederhana sebenarnya kata-kata itu, biasa saja, tapi kalau kita baca lagi menyakiti cewek=menyakiti ummi. Artinya, beda-beda tipis dengan DURHAKA. Ummi adalah malaikat yang diutus Allah membersamai kita, di bawah telapak kakinya surga berada. Hormat padanya tiga kali di atas Abah. Sungguh sangat spesial posisi Ummi/Ibu dalam kehidupan. So, pantaskah seorang laki-laki sejati (yang merasa dilahirkan dari rahim seorang Ummi) menghardik, menghinakan, dan merendahkan perempuan???

Tanyakan pada hati kalian.

Tidak ada pembenaran untuk sebuah emosi dan amarah. Aku tahu itu. Aku memang salah jikalau aku tak kuasa menahannya. Sempat berargumen, melakukan keburukan untuk suatu kebaikan itu baik. Tapi itu salah. Tidak mungkin kita mencuci baju dengan air kencing. Astaghfirullah… Mencoba bersabar tidak semudah yang terbayangkan, tidak semudah orang berkata, perlu belajar untuk ‘benar-benar’ bersabar. Apakah aku bisa? Belum, masih dalam proses. Inilah yang mendewasakanku, meyakinkanku aku belum mampu. Setidaknya aku harus meneladankan sesuatu yang baik untuk anak-cucuku kelak. Pengalaman ‘kurang manis’ yang pernah singgah. Bagus, pembelajaran untuk ke depannya.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Terlepas dari semua ego dan subjektivitas, jujur diakui tidak ada manusia yang sempurna, meski dibandingkan makhluk lain kita tergolong paling sempurna. Dimanakah letak kesempurnaan itu??? HATI. “Jikalau hati baik, maka semua akan baik.” Menjaga hati bukanlah hal yang mudah. Godaan selalu datang silih berganti. Godaan bagi seorang laki-laki yang terbesar adalah perempuan. Sejarah mencatat sekian banyak orang-orang hebat tunduk dan hampir tunduk karena perempuan. Mulai dari sejarah penciptaan manusia, Nabi Adam a.s. yang begitu taatnya kepada Allah SWT, terjaga dari bujuk rayu iblis, namun akhirnya tunduk pada keinginan istrinya, tulang rusuknya, Siti Hawa, yang terpaksa Allah mengeluarkannya dari tempat terindah (baca: surga) ke muka bumi. Nabi Yusuf a.s. hampir saja tergoda oleh rayuan Siti Zulaikha, kasih sayang Allah-lah yang mengingatkan nabi Yusuf di kala itu yang membuatnya terselamatkan dari fitnah. Masih teringat Cleopatra? Bukankah dia yang berhasil menundukkan hati sekian banyak petinggi kerajaan di masanya, kalau tidak salah seorang Julius Caesar, pemimpin yang begitu disegani, tertunduk takluk padanya (catatan penulis: mohon di ralat kalau salah)

Nah, begitu dahsyatnya kekuatan seorang perempuan. Makhluk yang dianggap lemah selama ini. Sesungguhnya dibalik kelemahannya itu tersembunyi kekuatan maha dahsyat untuk memperdaya, atau bahkan menguasai laki-laki, makhluk perkasa dalam raga namun rapuh dalam jiwa. Dibalik laki-laki pemimpin yang hebat, selalu ada perempuan hebat di belakangnya. Dahsyatnya perempuan!!!

Analogi Bisu, Morfologi Buta

Sedikit curhatan dari seorang Laz…

Puisi diawal adalah kata hati yang sempat bergema di sebuah kamar kost ukuran (2,5 x 3) m2, di salah satu sudut Gejayan. Kata-kata nggak jelas, bingung memaknainya. Itulah uniknya Laz, anak AREMANIA, fans Roman Camello, haha. Kegelisahan hati yang menyelimuti membuat enggan beranjak, selalu stagnan, begini-begini saja, nggak ada yang baru. Terkadang pengin mengulang waktu, kembali ke masa dimana Laz menjadi seorang siswa putih-abu-abu, potongan rambut 70-an (sering dipanggil Pak Karno, hehe), anti-perempuan, pemalu, pendiem, hanya mampu berkata lewat tulisannya (tulisan amburadul, hehe). Sayang, itu semua hanya angan kosong, bukan kaya film 17again. Jangan menunda kebaikan, karena sang waktu berjalan, atau bahkan berlari dengan ke-egoisannya. Yuppsss,, bener banget. Berubah yang begitu ekstrim terkadang membuat kita menjadi aneh, ragu akan diri kita sendiri, bahkan terkadang susah mengenali diri kita. Kita seperti boneka yang kita ciptakan sendiri, bukan langgam hidup kita yang real, kamuflase. Nggak sepenuhnya salah. Perubahan itu mutlak diperlukan oleh manusia, berpacu dengan masa dan berirama dengan perkembangan kehidupan. Perubahan yang terbaik adalah perubahan menjadi lebih baik. Itu yang mungkin gagal, lebih tepatnya belum berhasil kujalani.

Terus gimana?

Hhmm, bingung juga mendefinisikannya. Orang tahu itu benar ketika dia melakukan kesalahan, atau belajar dari kesalahan orang lain. Belajar dari kesalahan sendiri: Muhasabah Diri. Sepertinya itulah jalan terbaik yang harus aku lakukan sekarang. Entah harus memulai darimana aku juga masih dalam kebingungan yang nyata. Yang terfikirkan olehku: aku ingin berubah menjadi baik dan lebih baik bersama seseorang, orang yang mampu mengingatkanku, membersamaiku menuju ketaatan bersama. Menggantungkan harapan pada manusia terkadang membuat kita kecewa. Sebaik-baik tempat bergantung pada Allah, Rabb semesta alam. Bukankah kita harus tolong menolong dalam kebaikan dan takwa? Bukankah kita harus saling nasihat-mensihati? Perlulah seorang saudara, seorang teman, lebih jauh dari itu adalah seorang sahabat untuk senantiasa bersama menuju kebaikan itu.

Kesalahan: terlalu memaksakan diri mencari ‘seseorang’ itu tanpa melihat siapa diri kita. Terkadang kita melupakan banyak cinta yang ada di sekeliling kita, masih banyak orang baik yang peduli dan berusaha membahagiakan kita. Terlepas dari ‘status’. Kebaikan itu tanpa pamrih dan tidak bersyarat. Keyakinan akan cinta sejati yang harus dicari, dikejar, dan diperjuangkan memang baik. Namun, akan lebih baik ketika perjuangan itu secara sadar dipertimbangkan terlebih dahulu. Jangan asal nekad, seperti yang aku lakukan. Cukuplah jadi pengalaman yang mungkin bisa teman-teman ambil hikmahnya. Cukuplah berjuang dalam diam dan doa.

Aku yakinkan hatiku telah memilihnya, jikalau dia tidak memilihku itu bukanlah suatu kesalahan karena dia berhak bahagia. Biarlah aku setia, istiqomah menjaga rasa ini, semoga Allah membimbing untuk mencapai ridho-Nya. Tidak ada dateline dalam cinta, cinta bukan karbitan, cinta bukan kejar setoran. Cinta adalah ketulusan dan penantian yang tak berujung dengan kepedulian dan ketaatan.

Kisah cinta ini belum berakhir, baru dimulai.

Aku tahu kau begitu istimewa, begitu dipuja.  Aku memang bukan apa dibandingkan sekian banyak cinta yang ingin singgah di hatimu. Aku pun bukan orang terbaik diantara sekian banyak orang yang bisa membahagiakannya nanti, tapi aku akan selalu berusaha menjadi orang yang paling mencintainya karena hanya dengan mencintainya aku berusaha membuatnya bahagia. Hanya itu yang mampu kulakukan sekarang. Ketika ada kesempatan bersamanya, aku yakin dan percaya aku akan bisa melakukan lebih dari itu.

Mencintaimu, menyayangimu, dan menjadikanmu bagian dari hidupku adalah keputusan dan pilihan terbaik yang pernah aku ambil. Tak peduli entah suatu saat nanti akan berakhir seperti apa, yang terpenting setidaknya aku pernah benar-benar mencintai seseorang dengan segenap ketulusanku…

Terus berjuang dalam diam dan terus berperang dengan doa.
Bersama angin, kukirimkan doa terindah: semoga kau selalu bahagia!

Sepertiga malam terakhir, 5 Maret 2011
^be better together

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: