Beranda > Kata Hati > Catatan Lazuardi #3: Dimensi Galau (ending)

Catatan Lazuardi #3: Dimensi Galau (ending)


“Komitmen untuk sebuah rasa cinta tanpa harus mengharap balasan cinta, cukuplah bersungguh-sungguh membuktikannya, tak peduli apa yang terjadi dan paham betul konsekuensinya, setidaknya orang yang kita cinta itu tahu kalau kita benar-benar mencintainya.” (Heavenly Forest)

Demam Film Korea: Belajar Kehidupan

Dahsyat!!! Kata itu yang spontan terucap dariku setelah untuk pertama kalinya aku’dipaksa’ menangis lagi setelah hari bersejarah: 20 Mei 2010. A moment to remember, drama Negeri Gingseng (baca: Korea) telah merobohkan benteng ketegaran yang susah payah ‘kubangun’ setelah kesedihan panjang: kekaguman yang terkandaskan. Film sederhana, sedikit ilmiah dibalut romantisme dan ketulusan cinta. Kontras dengan film-film negeriku, hampir semua ber-isense horror dan seks. Nggak bisa dipungkiri juga sih, masih ada beberapa film bagus: yang diangkat dari novel2 Best Seller tentunya. Namun, hanya sepersekian jumlahnya dibandingkan film-film ‘belum bermutu’ yang makin menjamur (apalagi setelah film manca, terutama Hollywod, dilarang tayang di bioskop tanah air).

Sisi-sisi hidup penuh makna digambarkan begitu polos, sederhana, dalam kisah-kisah yang biasa. Sineas Korea emang pandai mendandani kisah kehidupan menjadi elegant, berbobot dan mengajak kita berfikir dan menebak alurnya, dan akhirnya tebakan kita pasti salah! Sengaja, memang begitu trik yang digunakan. Kita seolah-olah ikut bermain di dalamnya, terhanyut dalam emosi film, berfantasi jauh, dan akhirnya terbawa arus. Kadang haru, tertawa, dan tidak jarang menangis.

“Cinta hanyalah memberikan sedikit ruang untuk rasa benci”, potongan dialog dalam “A Moment to Remember”. Begitu sederhana, tapi cukup berkelas. Menegur kesalahan seseorang dalam bersikap melalui kata yang begitu halus, tapi dalam. Apabila dianalogikan dengan sebuah hadits, “Janganlah kamu mencintai seseorang berlebihan, karena mungkin suatu saat dia akan menjadi orang yang paling kamu benci. Dan janganlah kamu membenci seseorang berlebihan, karena mungkin suatu saat dia akan menjadi orang yang paling kamu cintai.” Sungguh, sineas Korea jauh lebih paham tentang hal itu dari kita. Subhanallah, ilmu itu datang hanya kepada orang yang siap menerimanya.

Apabila kita telisik lebih dalam, begitu banyak pesan moral, titah kebijaksanaan yang dapat kita petik dari film Korea yang notabene dicap film cinta-cintaan, eksploitasi kecantikan dan ketampanan, metroseksual dan sebagainya. Jauh dari itu, sungguh mereka terlalu cerdas untuk dibayangkan mampu menyisipkan pesan dalam setiap karya yang mereka hasilkan.
“Komitmen pada sebuah janji dan kesetiaan. Cinta bukanlah memiliki seseorang, tetapi cinta adalah membahagiakan seseorang. Memberkaskan kenangan untuk sebuah pertemuan. Menjaga kesucian cinta dan menghargai mahal untuk ‘cinta’ itu.” Itulah sedikit hikmah dalam film “My Girl and I”. Lagi-lagi, film ini menginspirasi tentang “menjaga hati”. Nilai-nilai ketulusan untuk mencintai berarti ketulusan pula untuk menjaganya. Seseorang selalu berharap cinta yang ditemuinya menjadi cinta sejatinya, menjadi cinta terakhirnya untuk dunia sekarang dan yang akan datang (akhirat). Komitmen menjaga cinta bukanlah hal yang sepele dan sederhana. Jihad Akbar yang tak sembarangan orang mampu melaksanakannya.

Sahabat, pasti sudah bosan ketika saya bercerita tentang cinta. Sebenarnya pun saya merasa tak pantas bercerita. Saya bukan pula seorang pecinta yang sukses. Sedikit pengalaman dan semuanya berakhir sad ending tapi membahagiakan (ambigu banget_pen). Ketika teman saya bertanya, “Gimana pengalaman cintamu Laz?”. Dengan tertunduk saya menjawab, “Nggak ada yang baru. Aku menemukannya dan harus mengikhlaskannya bahagia.” Nah, emang begitu yang terjadi. Mungkin kisah cintaku sekarang (yang kedua ini-pen) akan berbeda. Dukungan dan doa dari orang tua terkasih menyemangatiku ‘tuk berjuang sampai akhir, nggak mundur dan menyerah seperti sebelumnya.

“Cinta itu perjuangan. Berjuang tidak berarti kamu harus mengekspresikan kegilaan cintamu padanya setiap waktu. Cukup kau tunjukkan cinta sederhanamu padanya, jagalah cintamu itu untuk membahagiakannya. Kalaupun tidak bersambut, janganlah putus asa. Kamu sudah berhasil menjadi pemenang meski tidak mendapatkannya.” (My Hero_Abah)

Belajar cinta dari ‘doremifasolasido’

Banyak sekali kisah inspiratif dari film ini. Dimulai dari kejengkelan dan mungkin kebencian yang berubah menjadi rasa cinta. Konflik batin antara cinta masa lalu dengan cinta yang dijalani. Keadaan yang memaksa seseorang melepaskan cintanya demi kebahagiaan orang lain. Dilema persahabatan dan cinta. Dan diakhiri dengan kesungguhan seseorang mengembalikan kebahagian orang yang dicintainya. Semua terangkum dalam kisah yang begitu mengharukan dan sulit dijelaskan dengan bahasa kata.

Film ini begitu mengusik batinku ketika dihadapkan dalam jalan hidup nyataku. Aku bukanlah siapa-siapa, walau sempat berangan menjadi seperti tokoh dalam film ini, ganteng, dikagumi dan dicintai banyak orang, piawai bernyanyi dan didukung kehidupan yang mencukupi. Tentunya itu hanyalah cerita. Kisah nyataku??? Hmm, orang biasa, terlambat jatuh cinta! Ketika pada umumnya sahabat-sahabatku bercerita tentang kisah cinta monyetnya atau cinta pertamanya, aku hanya diam. Aku tidak mengerti apa yang mereka ceritakan karena aku belum mengalaminya di masa itu: masa SMA. Kumulai kagum (entahlah, mungkin juga jatuh cinta) ketika aku masuk kuliah. Gubraksss!!! Telat banget mungkin. Tetapi itu faktanya.

Kumenonton film ini ketika aku menemukan cintaku. Cinta yang belum kumiliki, cinta yang kurasa pada seseorang yang begitu istimewa. Sang Putri, Princess dulu kusempat memanggilnya. Namun, kini tak lagi aku berani memanggilnya begitu lagi, tak pantas seorang Laz menginginkan sang Putri. Hehe. Cinta itu ketulusan rasa bukan harga mati mendapatkan sesuatu. Jujur, ini memang bukan yang pertama tetapi yang paling dalam. Tidak sekedar kekaguman tetapi sudah menjadi bagian dari hidup. Harapan dan ekspektasi besar dari keluarga (terutama ummi) kepada seseorang yang spesial itu. Tanpa status tetapi aku terlanjur memperkenalkannya sebagai sahabat baik, dan mereka berharap menjadi menantunya. Hehe.

Harus bagaimana? Aku sama sekali tak menyangka dan membayangkannya pun belum pernah. Aku begitu utopis dengan harapan-harapan (lebih tepatnya mimpi-pen) yang begitu tinggi. Nah, konsekuensinya aku harus siap jatuh dan merasakan sakitnya. Aku tak sekuat orang lain yang begitu mudahnya putus-nyambung. Aku masih pemula, anak kecil yang awam. Aku sangat berharap cinta ini menjadi cinta terakhir. Kurasakan ini benar-benar cinta itu, nggak sebatas kekaguman belaka. Cinta ini yang membuatku nggak bosen minum obat. Cinta ini yang membuatku mandiri dan berjuang untuk hidupku. Cinta ini yang menjadi bahan bakar semangatku berprestasi. Cinta ini yang membuatku ingin menjadi extraordinary people.

Fakta Sekarang
Semua seakan hanya potongan episode ftv yang bisa langsung ditebak endingnya. Memfiksikan sebuah kisah nyata kehidupan tidak semudah yang kubayangkan. Semua real kualami, begitu banyak pertimbangan diksi untuk berkata, takut salah interpretasi, subjektif, dan mengada-ada. Banyak hati yang harus dijaga, banyak kias yang seakan harus terdenotatifkan menjadi kalimat-kalimat berita.

Ini Luar Biasa. Cinta membuatku tak berdaya (lebay.com). Semakin kesepian, semakin tak menentu arah. Aku merindukannya. Merindukan sapaan usil “hai om…”, gaya ketawa “xixi”, setiap kali kumemujinya “apa an ci?”, setiap kali kugoda dia “mule deh…”, yang paling aku rindukan: “Banguuuunnd QL yukss” kata sapaan pagi buta yang mengalahkan alarm manapun, membangkitkan semangat untuk beribadah kepada-Nya…

Aku begitu merindukannya, amat sangat merindukannya. Aku kehilangan dirinya, kehilangan semangat hidupku, kehilangan motivasi. Aku hidup dengan separuh jiwa, terbang tak tentu arah, terbawa arus tanpa sempat ku tersadar aku sudah terlalu jauh terperosok. Ketika kuterbangun dari tidur panjang ini nanti, aku harus mengikhlaskan kepergiannya. Kutahu dia berusaha menjauh dan semakin jauh. Aku paham itu. Sejak awal aku datang pada masa yang tak tepat. Ibarat sayembara, aku datang dengan tangan hampa berharap bisa bersaing dengan puluhan pangeran dengan segala kuasanya. Aku hanya rakyat jelata datang bermodal cinta, tak lebih dari itu. Pantaskah mendapatkan cinta sang Putri yang begitu baik, cantik, dan dipuja???

Komitmen Awal
Cinta yang sehat tanpa penyakit. Komitmen awal yang kubangun sejak dahulu. Berharap ada seorang sahabat yang bisa membersamaiku menuju kebaikan. Mengingatkanku di kala kulupa, menyemangatiku di kala ku terpuruk. Sahabat yang begitu kurindukan untuk menapaki jalan suci menuju kesempurnaan iman kelak. Mungkin sederhana tetapi begitu utopis.
Praktiknya, semua begitu susah dan berat. “Ketika kumenemukannya, aku harus mengikhlaskannya pergi”. Selalu saja begitu. Semua orang berhak bahagia. Kulepas semua yang kuinginkan, kututup semua pintu hati untuk orang lain, hanya untuknya seorang. Setiap pilihan harus siap segala konsekuensinya. Dan aku paham sekali hal itu. Inilah yang harus aku jalani. Begitu banyak cinta orang-orang terkasih yang ‘seakan’ kuabaikan dan berharap sepenuhnya kelak akan mendapatkan balasan cinta darinya, bidadari dhuha, hemm.

Sahabat-sahabat yang begitu aku cintai kini satu persatu menjauh, menghilang dan mengabaikanku. Aku pantas mendapatkannya. Ketika persahabatan itu dinilai dari kedekatan ragawi, maka aku bukanlah sahabat yang baik untuk mereka. Interaksi yang semakin jarang karena kesibukan dengan amanah masing membuat ukhuwah renggang. Tapi jikalau persahabatan itu dinilai dari kedekatan ruhani, niscaya aku begitu dekat dengan mereka. Meskipun kini kutahu mereka sudah tidak lagi mempedulikanku. Tak masalah, aku akan selalu menganggap mereka sahabat-sahabat terbaikku. Banyak kenangan yang telah terukir di perjumpaan singkat itu dan tidak mungkin mudah terlupakan begitu saja.

Kini mereka semua telah bertemu dengan kehidupan dan kebahagiaan masing-masing. Penuh canda, penuh tawa, ikutku berbahagia melihat semua ini. Semua orang berhak bahagia dan terkadang untuk membahagiakan orang lain kita harus mengorbankan kebahagian kita sendiri. Itulah sahabat.

“Biarlah semua orang membenciku, mungkin dengan cara itu mereka tidak akan merasa kehilangan ketika aku pergi dari kehidupan mereka…”

Titik Kulminasi Kejenuhan

“Jenuh”. Rangkaian peristiwa dan kejadian yang menyertai membuat rasa ‘tidak nyaman’ bersemayam. Rasa yang tidak mengenakkan dan membuat semua yang kita jalani terasa hambar, hampa, dan tidak ada sensasinya. Semua nggak spesial, datar, cenderung membosankan. Setiap manusia yang bernyawa niscaya pernah mengalaminya, yang membedakan hanyalah sikapnya dalam menghadapinya. Orang-orang yang berada dalam kejenuhan, terkadangan kalap dan berbuat yang diluar logika akal sehat manusia. Bunuh diri, membunuh, psikopat, dan perilaku menyimpang yang lain. Semuanya adalah pelampiasan kejenuhan semata. Kontrol dan kecerdasan emosi seseorang berperan penting terhadap kesuksesan seseorang menyikapi segala problem yang dihadapi.

Anti-Jenuh = Anti-Stress = Anti-Frustasi

“Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan…” dengan semangat itu niscaya kita akan selalu menjadi pribadi yang bersemangat. Jadikan masalah sebagai tantangan yang harus ditaklukkan dan berusahalah menjadi pemenang dalam setiap peluang dan dalam setiap kesempatan. Semua adalah pilihan hidup kita. Tidak ada manusia yang tercipta begitu saja. Manusia yang terlahir adalah bintang. Semua memiliki potensi besar untuk menjadi yang terbaik dalam keahliannya masing-masing.

Tips: selalu ingat pada Allah (dzikir), selalu bertakwa, perbanyak taubat dan istighfar serta teruslah berprasangka baik. Berawal dari positive thingking, menuju pribadi yang siap tempur dan siap berjuang. Semangat!!!

“Mencintaimu, menyayangimu, dan menjadikanmu bagian dari hidupku adalah pilihan dan keputusan terbaik yang pernah aku ambil… Percayalah, aku tak akan menyerah untuk membuktikan keseriusanku…”

_selesai_

April 2011
^be better together

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: