Beranda > Artikel, Education > Guru: Pengabdian atau Pekerjaan? *)

Guru: Pengabdian atau Pekerjaan? *)


Guru Indonesia

Antusiasme calon peserta didik (mahasiswa) untuk memasuki program studi kependidikan mulai meningkat belakangan ini. Hal ini terlihat dari data di lapangan, khususnya dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang menunjukkan peningkatan animo calon mahasiswa untuk memilih program studi kependidikan sebagai pilihan utama maupun pilihan keduanya. Trend peningkatan minat tersebut tidak lepas dari serangkaian kebijakan pemerintah yang mulai ‘mengistimewakan’ pendidikan sebagai pilar sentral pembangunan nasional.

Melalui kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) misalnya. Pemerintah sesuai UUD 1945 hasil amandemen keempat mengamanatkan alokasi dana pendidikan mencapai 20% dari APBN, sebuah nilai yang fantastis dan cukup besar. APBN 2011 mencapai 1200 Triliyun rupiah sehingga untuk dana pendidikan sekitar 240 Triliyun. Dari dana tersebut sekitar 70-80% dihabiskan untuk Dana Alokasi Umum (DAU), yang di dalamnya terdapat komponen gaji guru atau pendidik.

Seiring dengan pengakuan guru sebagai profesi layaknya dokter maupun advokat maka dituntut profesionalitas dalam menjalankan tugasnya. Untuk mengakomodasi hal tersebut pemerintah mengadakan program sertifikasi guru sebagai standardisasi keprofesionalitasan seorang guru dalam menjalankan tugas dan profesinya sebagai tenaga kependidikan. Pemerintah pun memberikan iming-iming tunjangan profesi guru yang mencapai satu kali gaji pokok bagi mereka yang lolos program sertifikasi tersebut. Nah, inilah yang menjadi daya tarik istimewa mulai meningkatnya animo mahasiswa memilih program studi kependidikan.

Tidak ada yang salah dengan program sertifikasi yang dilakukan oleh pemerintah mengingat tujuan awalnya yang baik demi kemajuan pendidikan nasional. Namun, dalam perkembangannya, sertifikasi yang dijalankan sekarang ini masih sebatas seleksi portofolio yang rentan dengan manipulasi. Untuk mengejar kredit point, guru-guru mulai berbenah dan sering antri mengikuti diklat, seminar, maupun workshop-workshop kependidikan. Sebuah kegiatan yang cukup bagus apalagi diniatkan untuk mengupgrade kompetensi dan pengalaman tetapi tidak dapat dipungkiri terbersit keinginan sebatas meningkatkan kredit point semata. Hal ini yang patut dijadikan catatan dan koreksi. Forum keilmiahan dan forum intelektual setingkat seminar maupun workshop hendaknya dijadikan wahana share pengetahuan dan pengalaman bukan ajang jual-beli sertifikat semata.

Jika dibandingkan dengan orde sebelum reformasi tentunya terdapat banyak hal yang bertolak belakang. Masih teringat cerita Oemar Bakri menjalankan pengabdiannya sebagai seorang guru dengan penuh perjuangan dan pengorbanan di masanya. Menjadi guru tidak hanya dimaknai sebagai seorang yang bekerja mengajar tetapi lebih dalam lagi sebagai seorang pendidik. Terdapat nilai filosofis dan ibadah disana, yaitu tholabul ‘ilmi. Era sekarang, guru lebih dimaknai sebagai sebuah pekerjaan, mengajar dan kemudian mendapatkan gaji dan tunjangan di akhir bulan. Sungguh sangat ironis, mengingat sangat pentingnya peran seorang guru bagi perkembangan pendidikan nasional dan kemajuan bangsa ini.

Guru atau pendidik dalam Pasal 1 Ayat 6 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.”

Selanjutnya pada Pasal 39 ayat 2, dinyatakan bahwa: ”Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.

Terlepas dari komparasi yang ada, profesi mulia sebagai seorang guru haruslah dimaknai lebih dari sekedar pekerjaan melainkan harus dimaknai pula sebagai sebuah pengabdian. Penghasilan yang diperoleh sebagai seorang guru mutlak dibutuhkan untuk penghidupan dan peningkatan kualitas-kuantitas kerja profesional, namun bukanlah hal yang utama yang sepantasnya kita jadikan orientasi, mendidik anak-anak bangsa menjadi lebih baik adalah tugas mulia dan amal jariyah yang kelak akan memberikan kebermanfaatan di masa yang akan datang.

Ingat pepatah: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari…
Guru yang profesional, berkualitas, dan berakhlak mulia sangat dibutuhkan bangsa ini untuk meningkatkan kemajuan pendidikan nasional…

*) ditulis oleh Ary Gunawan, Ketua HIMA IPA Universitas Negeri Yogyakarta Periode 2011

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: