Beranda > Artikel > Alam Menangis, Salah Siapa? *)

Alam Menangis, Salah Siapa? *)


“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
TQS. Ar Ruum [30]: 41

Indonesia, negeri yang dahulu dikenal sebagai zamrud khatulistiwa, sekarang mungkin tinggal kenangan sejarah. Negeri ini sudah tak sehijau dahulu. Hutan yang terbentang menghijau, paru-paru dunia, kini sudah mulai botak, bahkan gundul di sana-sini. Sungguh sangat menyedihkan dan sangat memperihatinkan.

Dalam realita kehidupannya, manusia tidak terlepas dari alam dan lingkungannya, karena hal tersebut merupakan hubungan mutualisme dalam tatanan keseimbangan alam dan kehidupannya (Balancing Ecosytem), atau dalam konsep Islam dikenal dengan tawazun. Adapun kemampuan manusia hidup dan mempertahankan kehidupannya (survive) dalam rangka pengembaraannya dimuka bumi adalah sebagai proses pembentukan pribadi individu yang peka terhadap alam dan lingkungannya.

Namun, dalam sejarahnya alam selalu menjadi korban keserakahan manusia yang seharusnya bisa menjadi pemimpin (khalifah) di muka bumi ini. Manusia yang menjadi pusat peradaban seharusnya mampu menggunakan alam dan segala isinya secara arif dan bijaksana. Orientasi dan perpektif Anthroposentrik, yaitu orientasi manusia untuk kepentingan manusia itu sendiri harus mulai diubah. Bumi dan alam tempat hidup kita ini bukanlah warisan nenek moyang, melainkan titipan anak cucu kita.

Dalam dimensi ilmu lingkungan (ekologi), lingkungan hidup manusia adalah objek yang menjadi fokus utama kajian. Oleh karena itu, manusia berada sebagai pusat (centrum) dan lingkungannya, yang terdiri dari lingkungan biofisik, dan lingkungan sosio-kultural sebagai komponennya.  Dalam perpektif Altruistik, orientasi manusia lebih diarahkan untuk kepentingan yang lebih luas. Orientasi ini berpandangan bahwa keberlanjutan fungsi lingkungan lebih diutamakan dan lebih mementingkan generasi mendatang. Dengan orientasi Altruistik ini, maka dapat terjamin kepentingan hidup manusia secara berkelanjutan (sustainable life).

Secara tegas, Pedoman Hidup tertinggi ummat Islam yaitu Al-Qur’an telah menjelaskan pentingnya menjaga alam. Sebagai makhluk yang diberikan keistimewaan oleh Sang Khaliq sekaligus diberikan kepercayaan untuk mengelola dan memimpin alam ini, manusia memiliki peran sentral dalam menjaga kelangsungannya. Manusia harus menempatkan diri sebagai konsumen yang sadar untuk terus melestarikan. Sapa nandur, bakal ngunduh, begitulah falsafah Jawa mengatakan.

Sudah saatnya kita menjadi hamba yang altruistik, mementingkan kehidupan generasi kita di masa yang akan datang. Alam yang mulai memberontak dan menunjukkan kesedihannya adalah pertanda bumi kita makin tua. Alam butuh kasih sayang, bukan untuk mereka, tapi untuk diri kita sendiri. Di alam kita hidup dan mencari penghidupan, tidak sekedar hidup di dunia tapi juga hidup yang lebih abadi di akhirat nanti. Alam ini adalah ladang amal kita. Menjaga dan menyayangi  alam adalah salah satu wujud kecintaan kita kepada Pencipta-Nya, Allah SWT.

Sayangi Alam,
Selamatkan Generasi Masa Depan…
^be better together

Sebuah lirik lagu dari Ebiet G. Ade, Berita Kepada Kawan… semoga membuka hati kita untuk bisa berbuat lebih untuk alam dan negeri ini… Download disini!

Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih …

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

*) ditulis oleh Ary Gunawan, Komunitas Qiyamul-Lail Call 02:45, Hidupkan malammu dengan QL, Temukan dahsyatnya!

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: