Beranda > Artikel, Education > Generasi Anti-Frustasi, Anti-Stress*)

Generasi Anti-Frustasi, Anti-Stress*)


“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

Mau seperti ini???

Kegagalan merupakan kesusksean yang tertunda. Mungkin pepatah tersebut tidak semua orang bisa memaknainya sebagai motivasi untuk bangkit. Hati terlalu mudah untuk berputus asa, sedih, atau mungkin galau (istilah anak gaul sekarang). Gagal meraih sesuatu yang diinginkan dan dicita-citakan tidak jarang membuat seseorang menjadi frustasi, terkadang pula bisa bermutasi menjadi stress apabila gagal mengendalikan diri.

Gagal ujian, tidak naik kelas, nggak diterima kerja, kalah dalam perlombaan, diputusin pacar (salah sendiri yang pacaran_pen), atau mungkin mendapatkan musibah dan cobaan pun bisa menyebabkan seseorang menjadi stress. Frustasi dan stress termasuk kategori penyakit dan gangguan psikologis yang berhubungan dengan kemampuan seseorang memanajemen hati dan jiwanya.

Hati memegang peranan sentral dalam aktivitas kehidupan manusia. Hati ibarat raja bagi seluruh anggota badan.Semua tunduk dan bekerja dibawah perintahnya, keinginan untuk berbuat istiqomah dan ketaatan maupun keinginan untuk berbuat maksiat dan pelanggaran. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw,

“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).

Lalu,bagaimana kita menyikapi frustasi dan stress secara bijak???

Frustasi dan Stress

Frustasi adalah suatu keadaan dimana kita merasa sulit karena apa yang kita inginkan atau impikan tidak sesuai dengan harapan. Stress muncul dipicu oleh ketidaknyamanan hati yang salah satunya disebabkan karena frustasi, kekecewaan, atau mungkin ketidakmampuan hati dalam menyikapi problema kehidupan. Sedih ketika gagal mencapai cita-cita adalah hal yang wajar, selama itu tidak berlarut-larut dan menghambat proses perjalanan hidup kita.

Sebenarnya, perasaan tidak nyaman, sedih, atau sakit bagi seorang muslim bisa jadi merupakan penghapus dosa-dosa yang pernah diperbuat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

“Tidaklah orang yang beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas, rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/ kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kesedihan yang dirasakan janganlah sampai membuat kita menjadi lemah dan loyo dalam menjalani hidup. Kegagalan yang dialami tidak selamanya harus membuat diri menjadi frustasi karena dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Banyak orang-orang sukses setelah mengalami puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali kegagalan, tentunya masih ingat kisah seorang Thomas Alva Edisson, pemilik KFC, dan ilmuan-ilmuan terkemuka dunia lainnya. Ingat firman ALLAH SWT, “Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sesunggunya setelah kesulitan ada kemudahan.” (TQS. Al-Insyirah: 5-6). Allah mengulang dan menegaskan mengenai ada harapan kemudahan setelah kesulitan dengan pengulangan ayat. Hal ini menunjukkan optimisme dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang mau berusaha dan bangkit untuk berjuang menyelesaikan masalahnya.

Anti-Frustasi dan Anti Stress

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya frustasi dan stress dalam hidup kita. Esensi pokoknya adalah menenteramkan hati dan ketaatan kepada Allah SWT.

Selalu dzikrullah, mengingat Allah SWT

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS. Ar-Ra’du: 28)

Kita harus senantiasa sadar dan yakin bahwa sumber dari kedamaian dan ketenangan jiwa adalah dengan mengingat dan mendekatkan diri pada Sang Pemilik Kehidupan, Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl: 53, “Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah, kemudian jika kalian ditimpa kemudharatan kepada-Nya-lah kalian memohon pertolongan.”

Selalu bertakwa kepada Allah SWT

Bertakwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi serta meninggalkan apa yang menjadi larangan-Nya. “Katakanlah Muhammad, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (TQS. Al-An’am: 162-163)

Dalam surah yang lain, Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (TQS. At-Thalaq: 2-3)

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam semua urusannya.” (TQS. Ath-Thalaq: 4)

Memperbanyak taubat dan Istighfar (mohon ampun pada Allah SWT)

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (TQS. An-Nuur: 31)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nasuha, semaga Rabb kalian menghapuskan keburukan-keburukan kalian dan memasukkan kalian kedalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.” (TQS. At-Tahrim:8)

Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah. Demi Allah aku sungguh-sungguh bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)

Khusnudzan, berprasangka baik kepada Allah SWT

Allah tidak memberi apa yang kita inginkan tetapi memberikan apa yang kita butuhkan. Terkadang kita sering salah sangka terhadap takdir Allah. Semua yang telah ditentukan oleh Allah pastiada hikmahnya, hanya kita yang belum menemukan atau tidak mengetahuinya. Apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah SWT, demikian pula sebaliknya, apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk dihadapan Allah.

Dalam hadits Qudsi Allah berfirman, “Aku bergantung pada persangkaan hamba-Ku.”. Dengan selalu berprasangka baik atas segala ketetapan/takdir Allah, kita akan lebih menikmati hidup ini. Allah Maha Berkehendak, sebagai seorang makhluk, selayaknya kita menyikapi kehendak Allah dengan sebaik-baik sikap dan sebaik-baik amal.

Ikhtiar Maksimal dan Tawakal

Setiap masalah pasti ada solusi dan alternatif penyelesaiannya. Manjadda wajadda, barangsiapa bersungguh-sungguh, pasti mendapatkan (hasil kesungguhannya). Yang terpenting adalah upaya (ikhtiar) maksimal kita dalam menyikapinya. “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan menjamin kemudahan baginya.”

Serumit apapun masalah yang kita hadapi, selalu ada jalan keluarnya. Mendekatkan diri kepada Allah dalam segala kondisi dan situasi adalah solusi terbaik. Jangan biarkan frustasi dan stress menggelayuti dan mengganggu perjalanan hidup kita. Semangat beribadah, semangat berkarya! Hamasah!

Hidup sangat sia-sia jika hanya diisi dengan keputus-asaan. Sugestikan diri dalam kondisi terbaik. Berbuatlah yang terbaik untuk seburuk-buruk keadaan.” (Ary Gunawan)

Referensi: Tazkiyatun Nafs, Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Imam al-Ghazali dan sumber lain.

*)ditulis oleh Ary Gunawan, Komunitas Qiyamul-Lail Call 02:45, ^be better together

  1. Aniezt
    15 Juni 2011 pukul 08:15

    sipp… bermanfaat🙂

  2. Niah Azzahra
    3 Desember 2012 pukul 23:28

    alhamdulillah, setelah membaca ini pikiran sy jd tenang & semangat lg mnjlni hidup🙂

    • 4 Desember 2012 pukul 20:08

      alhamdulillah.. semoga bermanfaat🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: