Beranda > Artikel > The Power of Kepepet *)

The Power of Kepepet *)


Berdamai dengan Masalah

Hidup adalah loncatan dari satu masalah ke masalah yang lain. Kesuksesan hidup itu tercapai ketika mampu menyelesaikan setiap masalah dengan sikap terbaik untuk menuju masalah-masalah selanjutnya. Namun, terkadang tidak kita sadari, kita terlalu cepat mengeluh dan merasa putus asa untuk menghadapinya. Seakan semua terasa berat dan begitu membebani. Padahal, Allah sudah mengatakan dengan setegas-tegasnya bahwa Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Nah, itulah fitrah hidup manusia yang mudah berkeluh kesah dan mudah berputus asa dari rahmat Allah.

The power of ‘kepepet’, kata yang lumrah kita dengar sehari-hari. Sebuah kekuatan maha dahsyat bagi seseorang yang memiliki hobi bekerja dalam tekanan, untuk orang yang suka menunda dan menumpuk pekerjaan untuk dikerjakan kebut-kebutan semalam. Dalam keadaan penuh tekanan dan tuntutan, otak kita bekerja jauh lebih cepat dari biasanya. Ide-ide yang belum sempat kita fikirkan dalam kondisi santai, tiba-tiba beterbangan di atas kepala kita. Ide-ide yang tak terduga yang tidak kita sadari datangnya darimana, tiba-tiba mengalir begitu saja. Seakan sudah terjalin komunikasi intensif dalam alam bawah sadar kita. Namun, kemampuan istimewa ini tidak serta-merta datang begitu saja, perlu adanya stimulus yang bisa membangkitkan reaksi neuron-neuron syaraf bekerja ekstra-maksimal. Akibatnya, setelah mendapatkan the power of ‘kepepet’ ini seseorang mengalami sering kelelahan, ngantuk, dan mungkin sakit. Hal tersebut terjadi karena sangat  banyak energi yang terkuras untuk menemukan ‘titik kulminasi’ ide-ide tadi.

Bisakah the power of ‘kepepet‘ ini hadir setiap saat? Tentunya harus bisa! Munculnya energi ini terjadi karena ada tuntutan dan keadaan yang ‘memaksa’ mau tidak mau harus menyelesaikan suatu tugas, pekerjaan, atau yang lain. Sebenarnya, paksaan tergolong dalam salah satu bentuk motivasi, namun motivasi yang negatif. Alah biasa karena terpaksa, mungkin bisa dikatakan demikian. Motivasi yang dibangun dari keterpaksaan biasanya hanya bertahan sesaat dan berjalan tidak begitu maksimal karena setelah kewajiban dan keharusannya terselesaikan, serta-merta pula semangatnya itu akan luntur, memudar, dan akhirnya hilang. Kepuasaan ‘sesaat’ setelah menyelesaikan urusan atau masalah dianggap sebagai titik puncak keberhasilan. Inilah yang berbahaya, yang membuat seseorang tidak memiliki sugesti lagi untuk mencapai hal yang lebih baik dan lebih maksimal lagi. “Yang penting kelar!”. Hanya sebatas itu.

Ada motivasi negatif, tentunya ada motivasi positif. Motivasi positif inilah yang harus selalu dibangun dan dikembangkan. Motivasi positif ini bisa berasal dari keinginan hati yang teguh untuk berprestasi, menjadi yang terbaik, dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai, orang tua, sahabat, kekasih, dan sebagainya. Cukuplah untuk membangkitkan semangat, setidaknya untuk jangka menengah. Motivasi positif adalah motivasi dosis menengah, tidak sehebat motivasi negatif yang notabene mengandung unsur ‘stress’ dan ‘sanksi’. Motivasi positif bisa menjadi motivasi dosis tinggi ketika mampu dikelola secara bijak. Salah satu caranya adalah dengan mengubah orientasi hidup menjadi orientasi jangka panjang.

“Segala sesuatu bergantung pada niat”. Dengan niat yang mulia, niatkan segala usaha dan ikhtiar kita sebagai ibadah. Atas dasar itulah, kepuasan yang kita peroleh akan jauh lebih bermakna, karena tidak hanya kita rasakan sesaat ketika keberhasilan itu tercapai tetapi juga kita rasakan sebagai investasi amal jangka panjang. Tabungan akhirat, tabungan abadi untuk masa depan. Orientasi hidup jangka panjang inilah yang harus kita rancang dan berusaha kita capai. Ketika hal itu dapat kita lakukan, motivasi internal dan eksternal dapat saling berkolaborasi menemukan ‘seni’ dan pola-pola kesuksesan kita. Amin.

The power of love. Kekuatan cinta memang kekuatan yang luar biasa. Bisa membangkitkan orang dari keterpurukan dan juga bisa menjatuhkan orang dari kesuksesan. Ketika berbicara cinta, asosiasi kita  terkadang terlalu sempit, hanya sebatas kecintaan antar dua-insan lawan jenis. Sejatinya, tidak hanya sebatas itu. Cinta disini dalam konteks yang lebih luas, cinta orang tua, cinta sahabat, cinta guru, cinta kekasih, dan cinta-cinta yang lain.

Ketika berbicara cinta orang tua dan cinta sahabat, semuanya sebagian besar cenderung merupakan motivasi positif dan membangun. Orang tua pasti berharap yang terbaik untuk anak-anaknya, setidaknya menjadi lebih baik dari apa yang dialami orangtua, begitupun sahabat, selalu berharap kebahagiaan untuk sahabatnya, saling mendukung dan saling menasihati untuk bersama-sama menuju kebaikan. Orang tua dan sahabat adalah amunisi dan roket peluncur kita mencapai kesuksesan. Dukungan dan doa mereka adalah kekuatan ‘dunia lain’ yang seringkali tidak terjangkau logika kita tetapi mampu secara simultann membuka jalan kesuksesan kita.

Kekuatan cinta yang lain adalah cinta dari kekasih, orang yang kita cintai (banyak istilah untuk ini, pacar, doi, yang, dan lainnya_pen). Ketika dalam masa-masa bahagia, cinta ini bisa menjadi motivasi untuk sukses, berprestasi, maju dan menjadi sosok yang terbaik. Tidak lain dan tidak bukan  semua dilakukan untuk membahagiakan dan membuat kagum sang pujaan hati. Namun, ketika dalam masa-masa sulit, hubungan tidak baik, marahan, atau bahkan putus cinta, hal ini dapat menyebabkan gangguan psikologis yang cukup berbahaya. Mulai dari stress, mengurung diri, bahkan bunuh diri dengan sebotol racun tikus rasa coklat, atau yang lainnya. Ada dilema dalam sebuah kedekatan suatu hubungan adalah hal yang wajar, ada konflik tentu ada penyelesaian. Kondisi mental seseorang memegang peran penting dalam menentukan karakter dan kemampuan menyelesaikan masalahnya. Hal yang kurang disadari adalah masalah selalu dikonotasikan kedalam hal yang menakutkan, seharusnya sebaliknya. Berteman dan berdamai dengan masalah adalah sikap sukses terbaik yang harus kita miliki.

Berkaitan dengan cinta, ada orang bijak yang berkata, “Mencintai adalah menyiapkan hati untuk terluka”. Ketika seseorang telah memilih untuk menjalin suatu hubungan istimewa dengan seseorang hendaknya dilandasi keseriusan dan atas dasar iman. Tidak sekedar having fun saja. Menjalin hubungan dengan manusia adalah bentuk hubungan yang kompleks, karena melibatkan karakter dengan pola masing-masing. Dengan hubungan yang dewasa, yaitu hubungan atas dasar kebaikan, saling mempererat ukhuwah, silaturahmi, saling menasihati dan memotivasi dalam kebaikan dan kesebaran adalah hal yang sangat dianjurkan. Bukanlah seperti hubungan yang ada sekarang, terlalu mengeksploitasi kesenangan, hedonisme dan nafsu semata.

Cinta itu bisa membutakan seseorang namun juga bisa menjadi pelita yang terang benderang membawa seseorang ke jalan kebaikan dan ketaatan pada pencipta-Nya. Cinta akan menjadi motivasi positif atau menjadi penghalang tergantung kemampuan seseorang mengelola dan memanajemen cinta dan hatinya. “Sakit yang paling menyakitkan adalah disakiti oleh orang yang paling kita cintai.”

The power of ‘kepepet’ dan The power of love adalah dua kekuatan yang hampir sama. Beda keduanya hanya dilihat dari sumber motivasinya. Jadikan kelemahan sebagai kekuatan dan nilai lebih yang bisa membangkitkan semangat kita untuk berjuang dalam hidup. Orang-orang besar tidak menjadi besar karena kelebihannya saja, sebagian diantara mereka sukses dan menjadi orang hebat karena kelemahannya. Lihat JK Rowling, Braille, Stephen Hawking, dan masih banyak lagi. Jika mereka yang memiliki kelemahan saja bisa berhasil, apalagi kita yang dilahirkan dalam kondisi yang sempurna…

Semangat sukses selalu!
Dunia terlalu indah untuk disia-siakan. Masih ada kesempatan dan peluang dalam setiap masalah dan persoalan. Bersahabat dan berdamailah dengan masalah!

*)ditulis oleh Ary Gunawan, Komunitas Qiyamul-Lail Call 02:45, ^be better together

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: