Beranda > Inspirasi > Madrasah Cinta

Madrasah Cinta


Sahabat, begitu banyak kata dan cerita yang teruntai di Hari Ibu, 22 Desember. Status Facebook, twitt di Twitter, dan jejaring sosial lain penuh dengan keyword: Ibu, Hari Ibu, Mother’s Day, dan sejenisnya. Sungguh sangat menyentuh dan membuktikan bahwasanya seorang ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang. Surga di bawah telapak kaki ibu, memang layak dan sudah sepantasnya atas segala perjuangan, pengorbanan, dan ketulusannya merawat, mendidik, dan membimbing anak-anaknya. Nah, bersyukur sekali saya bisa mengikuti kuliah twitt bersama seorang Motivator Hebat (Pak Bayu Gawtama), ini dia resumenya dalam tajuk Madrasah Cinta.🙂🙂

Sedikit berbagi, semoga memberi arti…🙂

  1. Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan
  2.  Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; “positif”.
  3. Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya
  4. Menangis, tertawa, sedih & bahagia tak berbeda baginya, krn ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya.
  5. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana?
  6. Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.
  7. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran.
  8. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar. Tak ada yg lebih membanggakan utk diperbincangkan selain anak.
  9. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak.
  10. Si kecil baru saja berucap “Ma…” segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar telepon.
  11. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan takut si kecil terjatuh dan luka.
  12. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya.
  13. Meskipun disaat yg sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya.
  14. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.
  15.  “Demi anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil.
  16. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue.
  17. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.
  18. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak.
  19. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.
  20. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.
  21. Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yg serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, … nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain.
  22. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya.
  23. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli.
  24. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
  25. Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia.
  26. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.
  27. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu.
  28. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel.
  29. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya.
  30. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau.
  31. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik.
  32. Namun, si kecil belum juga terpejam dan meminta dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.
  33. Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus.
  34. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta.
  35. Serta merta kalimat, “sudah makan belum?” tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah.
  36. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu  sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.
  37. Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yg paling menangis? Siapa yg lebih dulu menitikkan air mata?
  38. Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap.
  39. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan.
  40. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin.
  41. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun2 menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya.
  42. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”
  43. Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya.
  44. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian”
  45. Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya.
  46. “Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.
  47. Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak.
  48. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya.
  49. Ibu lah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta.
  50. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.

(Bayu Gawtama)

 

Kisah di Hari Ibu ini belum berakhir. Berjubel SMS tentang sosok perempuan teladan nan penuh kasih itu datang silih berganti (hehe). Banyak inspirasi, motivasi, dan instrospeksi yang penulis dapatkan. Mengingat jasa-jasa Ibu yang begitu besar benar-benar menyentuh hati. Nah, ini salah satu sajak sederhana yang begitu berbekas di hati. Sedikit berbagi, semoga memberi arti🙂

Sebuah sajak sederhana.
Terlahir atas kerinduan dan cinta,
Tercipta atas pengorbanan terhebat,
Hingga udara malu atas tulusmu,
Surya sungkan atas senyummu,
Air tak mampu menyentuh basah pipimu…

Andaikan aku memiliki seluruh isi bumi dan kuberikan padamu,
Maka tak akan sebanding dengan pengorbanan dan cinta kasih yang pernah kau beri…

Atau jika seluruh mata air di muka bumi ini kuberikan padamu,
Maka tak akan sanggup mengganti bulir-bulir air mata dan doa yang kau ucap setiap waktu…

Terima kasih ibu, atas kasih sayang yang pernah kau beri,
Atas tatapan bidadari yang menyejukkan,
Atas senyum tegar dan tangis rindu,
Terima kasih sumber kekuatanku…

 (Novita Amalinda Dini Rachman)

Akhirnya,
Selamat Hari Ibu untuk para ibu dan para calon ibu di seluruh dunia🙂
Kasih sayang tulusmu sepanjang jalan tak mungkin terbalas dengan apapun,
Yaa Allah… berikan kami kesempatan ‘tuk berbakti dan membahagiakan ibu kami…

Salam Hangat,
Ary Gunawan
-sedikit berbagi, semoga memberi arti-

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: