Beranda > Artikel, Education > Anak Zaman

Anak Zaman


Pentingnya Pendidikan (ilustrasi)

Pentingnya Pendidikan (ilustrasi)

Sebuah pengalaman,

Tahun ajaran baru 2015/2016 baru dua minggu berjalan. Peserta didik (istilah yang berlaku sekarang, dahulu siswa) memasuki masa-masa orientasi dan pengenalan terhadap jenjang baru dalam pendidikannya, baik jenjang sekolah maupun kelas. Banyak hal baru yang akan menjadi modal awal dalam meniti proses pendidikan selanjutnya.

Yang unik di tahun ini adalah hadirnya beberapa peserta didik yang ‘unik’ dan bertalenta luar biasa. Saya menyebutnya dengan istilah ‘anak zaman’. Mengapa demikian? Secara khusus, saya menganggap generasi baru ini sebagai anak-anak terpilih yang telah memahami dimana passion-nya sejak dini. Lalu apa yang membuatnya berbeda dengan peserta didik yang lain? Mari simak secuil kisah saya ini. Mudah-mudahan bermanfaat dalam mengarahkan bakat dan talenta peserta didik kita, dimanapun jenjang pendidikannya.

Alya Tandiva, itu namanya (selanjutnya hanya akan penulis sebut inisial AT). Remaja putri yang enerjik, penuh percaya diri dan sangat friendly untuk anak seusianya. Gayanya yang khas dan cenderung polos, sangat menggemaskan ditambah lakunya yang cukup aktif. Kemampuan berbahasa Inggris yang cas-cis-cus membuatnya nampak berbeda. Ehm, mungkin bagi kita sangat jamak menemukan pribadi yang seperti itu. Namun, yang membuat kisah ini spesial menurut saya adalah AT baru duduk di kelas VII SMP. Lebih tepatnya peserta didik baru.

Well, saya lanjutkan ceritanya. Selidik punya selidik, AT sudah memiliki hobi bernyanyi sejak masih kecil. Untuk menyalurkan minat dan bakatnya tersebut, orangtuanya sangat mendukung dan memfasilitasi AT untuk ikut berbagai audisi lomba menyanyi dan ajang pencarian bakat lainnya. Alhasil, pernah dalam suatu ajang pencarian bakat, AT berhasil lolos seleksi tahap akhir untuk wilayah audisi DIY, tetapi harus terhenti sebelum memperoleh golden ticket untuk beraksi di Jakarta.

Kemampuan bernyanyi anak ini memang tidak diragukan. Terbukti dalam rangkaian kegiatan orientasi di sekolah (Masa Taaruf, istilah di sekolah kami), dia berhasil menjadi pemenang lomba menyanyi. Inilah awal mula “bintang” itu kami kenal. Aktivitasnya yang aktif dalam kegiatan membuatnya pun dinobatkan sebagai peserta terbaik dalam rangkaian acara tersebut.

Anak Zaman

Disini ‘anak zaman’ itu dimulai. Bermula dari cerita dari teman kelasnya yang heboh menceritakan AT sebagai artis Youtube, saya pun tertarik membuktikannya. Luar biasa, saya menemukan channel khusus milik anak ini. Terkejutlah saya, melihat puluhan video sudah diunggah di jejaring video terbesar di dunia itu. Tidak tanggung-tanggung, jumlah viewer sudah mencapai ribuan. Wow… saya mengernyitkan dahi seolah tidak percaya.

Ehm, saya paham, mungkin masih banyak yang beranggapan ini hal yang biasa. Semua belum selesai sampai disini. Coba tebak video apa yang diunggah anak tersebut? Saya jamin kebanyakan tebakan Anda salah. Hehe. Awalnya saya mengira video yang ada adalah rekamannya bernyanyi atau pentas dalam event yang sudah dia ikuti. Lagi-lagi saya salah. Unpredictable student!

Video yang diunggah anak ini sudah berkarakter. Memiliki visi yang jelas sebagai sebuah kanal Youtube profesional. Sangat tidak lazim untuk ukuran pengelola anak-anak. Beberapa video yang diunggah menampilkan covering lagu hits berbahasa Inggris dengan genre lagu yang tidak biasa untuk anak-anak. Lagu-lagu nada tinggi dan penuh kosakata yang “cukup berat” untuk ukuran anak-anak. Selain itu, ada pula semacam reality show yang sengaja dia perankan dan sutradarai sendiri dengan hashtag #ALYAVLOG. Ehmm, benar-benar luar biasa. Penasaran? Silakan kunjungi kanal AT di link berikut ini. AT, “anak zaman”

Semua video yang dibuat berbahasa Inggris. Gaya bicara, dialog, dan aksentuasi cukup memadahi. “Anak zaman” inilah yang saya maksud. Globalisasi dan persaingan semakin ketat menuntut kita untuk lebih maju, khususnya dalam berkomunikasi. Nah, bahasa Inggris, adalah satu jembatan komunikasi terpenting di abad ini. “Anak zaman” harus selalu dididik dan dibekali kemampuan untuk survive di zamannya, bukan di zaman kita.

Sosok AT, hanya pemantik kecil di tengah ramainya akhir zaman ini. Anak-anak sudah harus mengenal dan paham bagaimana menggunakan teknologi sejak dini. Bahkan, seiring majunya teknologi, anak dilahirkan pun langsung diajak selfie oleh orang tuanya, haha. Fenomena jejaring social yang sudah mendunia dan menguasai dunia perlu disikapi dengan sangat hati-hati, bijaksana, dan penuh antisipasi.

Di tangan “Anak zaman” inilah masa depan negeri ini kita titipkan. Mereka harus dipersiapkan dari sekarang untuk menjadi pemenang di zamannya. Tentu zaman yang jauh berbeda dengan zaman yang kita alami sekarang ini. “Anak zaman” adalah anak-anak teknologi. “Anak zaman” adalah anak-anak kreatif. “Anak zaman” adalah anak-anak masa depan. Mereka semua adalah anak-anak yang di masa lalu hanyalah dongeng tetapi mulai sekarang telah benar-benar dilahirkan oleh “zaman”.

Akhirnya, tulisan ini adalah sebuah kebanggaan dan sekaligus kekhawatiran sebagai seorang pendidik. Kebanggaan karena “anak zaman” itu mulai terlahir. Kekhawatiran karena “anak zaman” ini harus benar-benar dijaga dan diarahkan menuju kehebatannya masing-masing. Itulah tanggungjawab berat yang harus diemban oleh seorang “guru peradaban”, bukan sekedar guru bimbingan soal atau sukses dalam ujian. Ingat, ujian terbesar bagi anak-anak kita kelak adalah: sukses atau gagal dalam menjalani kehidupan yang sesungguhnya.

Ary Gunawan, bermimpi meneruskan generasi

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: