Beranda > Artikel, Inspirasi > Jalan Baru Ustadz “Outbond”

Jalan Baru Ustadz “Outbond”


Foto bersama Ustadz 'Outbond'

Foto bersama Ustadz ‘Outbond’

Akan ada cerita yang berbeda setiap masanya. Nampaknya itu bukan sekedar kias atau petuah bijak. Kenyataan harus berpisah bukanlah sebuah ketidakmungkinan, justru sebaliknya. Memoriku terbawa mundur dua tahun yang lalu. Ehm, pada suatu siang menjelang dhuhur, di SMP Mugadeta (tempatku belajar dan berbagi ilmu sekarang ini), awal perjumpaan dengannya, Ustadz “Outbond”, panggilan khas-ku pada beliau.

Dengan berbekal informasi minim via jejaring facebook, kuberanikan mendaftarkan diri menjadi salah seorang staf pengajar di sekolah ini. Belum lulus kala itu, lebih tepatnya menunggu yudisium. Masih ragu bagaimana harus memulai, hingga akhirnya Sang Ustadz “Outbond” tempat pertama bersapa.

“Maaf, ada yang bisa dibantu?” tanyanya jelas, tegas, tanpa basa-basi.

“Begini Mas, eh Pak, saya mohon informasi penerimaan staf pengajar, saya dapat info dari kakak senior IMM bla bla bla…” jawabku rada sungkan sembari menyerahkan amplop coklat berisi kelengkapan standar sebuah lamaran pekerjaan.

“Begini, surat ini saya terima. Informasi lebih lanjut kami hubungi.” jawabnya pendek, sambil tersenyum.

“Terimakasih Pak, bla bla…” obrolan pun tiba-tiba berlanjut sangat cair ketika sudah mulai berdiskusi tentang pergerakan mahasiswa dan dinamika kampus.

***

Ehm, sudah… itu sebuah kisah awal perkenalanku dengan Ustadz “Outbond” itu.

Kini, setelah dua tahun berjalan, hubungan yang terjalin sudah lebih dari sekedar rekan kerja. Persahabatan sebagai rekan muda, kakak yang usil dan nyebelin dengan jahilnya yang nggak ketulungan. Jauh dari kesan sangar atau angker (baca: jaim) seperti dulu saat pertama bertemu. Banyak pelajaran organisatoris, pengalaman berkarir, bahkan pengalaman asmara yang sudah dibagi. Sempat terbersit untuk menulis romantika asmara beliau, tetapi semua itu belum terwujud hingga hari ini.

Ustadz “Outbond”. Muhammad Thariq Aziz, M.Pd.I., itulah sosok senyatanya. Pribadi sederhana, tanpa make-over berlebihan dalam bergaul. Alumni Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki yang terkenal tegas dan mantap dalam beribadah, lebih umum dikenal sebagai aktivis jihad seperti rekan-rekan seperguruannya (tidak semua, tetapi cukup terkenal). Ustadz yang berhasil menamatkan jenjang sarjana dan master Pendidikan Bahasa Arab ini terkenal sebagai instruktur outbond di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Majelis Pendidikan Kader (MPK) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Mungkin apa yang muncul di benak akan berbeda dengan yang nampak sejatinya. Sosok Ustadz “Outbond” ini jauh dari kesan galak atau sangar, sebaliknya. Dalam keseharian berinteraksi dengan guru atau santri cenderung friendly dan penuh humor. Gaya bercanda yang khas (baca: sedikit tetapi makjleb) membuat suasana diskusi rekan muda semakin heboh. Ahh, saya sering sekali menjadi objek bullying-nya. Haha.

Namun, jalan takdir mengisahkan lain. Ustadz “Outbond” harus melanjutkan pengabdian dan perjuangan dakwah di tempat lain. Keputusan itu membawanya harus meninggalkan SMP Mugadeta. Berat untuk kehilangan figur “polisi ibadah” seperti beliau yang sudah melekat di hati warga sekolah. Ketegasan yang terarah dan butuh keputusan yang tepat dalam waktu singkat. Jelas gaya IMMawan sejati.

Mengapa Ustadz “Outbond”?

Panggilan ini sengaja kuselipkan karena ada satu hal tak terlupakan akan sosok beliau. Mengapa? Pernah di suatu siang, tepat ketika jelang Shalat Jumat. Beliau mendapatkan jadwal mengisi Khatib di Masjid binaan Muhammadiyah, daerah Karangmalang. Sebelum berangkat, beliau sempat berkata pada saya, “Saya sebenarnya nggak mau dipanggil Ustadz atau jadi Ustadz, mendingan jadi ustadz lapangan, dakwah lewat oubond. Saya ini linguistik, bahasa… hehe.” jawabnya dengan khas.

Sejak itu saya berpikir serius ungkapan beliau. Sebutan “ustadz” yang menyempit menjadi tokoh agama agaknya memang menjadi perhatian. Secara bahasa, “Ustadz” berarti “guru”, bukan sekedar “guru agama” atau “guru ngaji”. Tentunya, belajar dari istilah tersebut semua guru layak dipanggil ustadz. Bahkan, tidak harus guru sebagai profesi tetapi guru sebagai aktivitas, maksudnya siapapun yang mengajarkan atau berbagi ilmu dapat pula dipanggil ustadz. Nah, itu dia salah satunya, Ustadz “Outbond.”

Mungkin sedikit berkisah. Tulisan ini semata-mata berbagi pengalaman. Terimakasih Ustadz “Outbond”, saya belajar banyak darimu. Terimakasih untuk sandal yang kupinjam dan tak kembali, sudah ada orang lain yang membutuhkannya walau tanpa izin. Banyak rencana yang dahulu kita bicarakan, perlahan, sedikit demi sedikit akan coba terlaksana. Masih saya ingat: “…ketika melakukan perubahan, sudah mulai stabil, tinggalkan, ketika dalam zona nyaman grafiknya pasti turun… Segeralah cari medan baru…”

 

Terimakasih Kakak…

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: