Beranda > Artikel > Motor Gedhe vs Hak Pengguna Jalan

Motor Gedhe vs Hak Pengguna Jalan


Motor Gedhe atau Moge (ilustrasi)

Motor Gedhe atau Moge (ilustrasi)

Sabtu siang, 15 Agustus 2015, ada yang nampak berbeda di jalan lingkar utama Jogjakarta (Ringroad). Puluhan petugas dari polisi lalu lintas (Polantas) nampak berjaga di perempatan dan traffic light. Sempat terpikir dalam benak saya, mungkin pejabat negara (baca: Presiden atau Wakil Presiden) sedang melintas untuk kunjungan kerja kenegaraan.

Ehm, hampir tiga kali lampu hijau menyala, tetapi tetap saja semua arus dihentikan. Antrian panjang mengular di perempatan Ringroad Jalan Kaliurang Kentungan. Nampak raut wajah pengguna jalan sudah mulai tidak sabar, mengingat lalu lintas sedang padat-padatnya usai jam istirahat makan siang. Rombongan “eksekutif” yang memiliki hak khusus patroli pengawalan (patwal) tak kunjung datang. Siapa sebenarnya pejabat “penting” negara itu? Lebih pentingkah dari mobil ambulan pembawa pasien sakit parah? Atau lebih dibutuhkan dari mobil pemadam kebakaran (damkar)? Entahlah…

Terdengar raung sirine khusus dari kejauhan, dan dengan cepat petugas segera mensterilkan jalan. Akhirnya terlihatlah konvoi motor gedhe (moge) dalam jumlah besar menuju ke arah Prambanan (info diperoleh setelah googling). Dengan dikawal patwal, rombongan itu melaju dengan santainya di antara ribuan pengguna jalan lain yang “dinomorduakan” oleh petugas. Membuat hati bertanya, seberapa pentingkah “mereka” bagi negeri ini? Begitu “istimewa” nya mereka hingga dikawal patwal sekelas pejabat negara. Ehm, lagi-lagi sambil mengelus dada, teringat dulu masa awal jadi presiden, “Pak Jokowi saja dulu lho, dulu banget, nggak mau dikawal patwal…” Ujar seorang pengendara yang juga terjebak antrian di sebelahku. Hehe🙂

Motor gedhe alias Moge, sebuah kendaraan “kelas atas” dan termasuk barang mewah. Jelaslah, tak sembarangan orang bisa memilikinya. Pejabat berkantong tebal dan pengusaha yang berpenghasilan di atas rata-rata lah yang mampu mengoleksinya. Entah sebagai kendaraan penunjang aktivitas atau sekedar aksesoris gengsi menunjukkan kelasnya. Terlepas dari semua itu, moge termasuk bagian dari kendaraan yang menggunakan jalan umum milik seluruh umat. Nggak ada bedanya dong dengan pesepeda (baca di social media sangat heboh, kasus heroik seorang goweser menegur pengguna moge), ataupun pejalan kaki sekalipun.

Hak pengguna jalan untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan dalam berkendara. Resiko kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh konvoi kendaraan cukuplah besar. Bahkan, data yang ada menunjukkan faktor pembunuh dan penyebab kematian terbesar di dunia bukanlah penyakit tetapi kecelakaan lalu lintas. Sungguh sangat ironi sekali ketika tata aturan yang sudah ada dasar hukumnya bisa dilanggar atau lebih tepatnya dikesampingkan untuk alasan tertentu. Bukan kali ini saja aksi konvoi moge bermasalah, beberapa tahun silam pun sempat heboh hingga meninggalnya alm. Sophan Sophian (semoga ingatan kita masih merekamnya).

Akhirnya, sebagai pengguna jalan, saya sangat berharap sekali polantas dan aparat bijaksana. Menempatkan hak umum melebihi kepentingan pribadi atau golongan. Sudah saatnya, aparat bersikap adil dan menjalankan amanah rakyat dengan sebaik-baiknya. Mungkin ada “insentif lebih” ketika melakukan patwal kelompok “elit” negeri ini. Namun, seyogyanya masih diingat, gaji bulanan diambil dari pajak rakyat, masyarakat umum yang mungkin belum pernah naik moge sekalipun, ah membayangkannya pun tidak.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: