Beranda > Artikel, Education, Inspirasi > Saya Menyebutnya Keluarga

Saya Menyebutnya Keluarga


Hari ini, 17 Agustus, merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari yang begitu istimewa dengan rangkaian prosesi dan peringatan mengiringinya. Sebagai hari ulang tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan, nampaknya hal itu sangatlah wajar dan patut diapresiasi. Hari ini pulalah ada pengalaman berkesan yang membuat hati merasa sangat bahagia, bukan karena kebetulan, tetapi sebuah rencana yang indah dari Allah dalam takdir baik-Nya.

Upacara peringatan HUT RI ke-70 sebagaimana rutinitas tahunan memang wajib dilaksanakan setiap institusi bahkan lapisan masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan sekolah dimana saja menjadi bagian di dalamnya, sebagai pendidik atau guru lebih tepatnya. Tidak ada yang berbeda dengan pelaksanaan upacara bendera. Semua berjalan dengan sangat biasa, pengibaran bendera, pembacaan teks UUD 1945, dan pembacaan teks Pancasila, serta amanat sambutan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Kanjeng Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Dalam upacara ini pun disuguhkan dua lagu nasional Indonesia Pusaka dan Tanah Air oleh tim paduan suara SMP Muhammadiyah 3 Depok (SMP Mugadeta). Upacara berjalan dengan khidmat dan dalam waktu yang relatif singkat. Peserta upacara pun nampak “baik-baik” saja, dalam artian tidak ada yang meninggalkan upacara karena kelelahan ataupun sakit. Sungguh, upacara yang berkesan.

Sesuatu yang Berbeda

Ada yang berbeda di hari ini. Sungguh nyaman berada di sekolah dan enggan segera pulang. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikan untuk program yang akan dijalankan. Alhamdulillah semua terkondisikan. Ngadem di ruang Laboratorium Komputer sembari mempersiapkan tim lomba dan sedikit berbagi tentang Kelas Riset kepada anak-anak “terpilih” yang siap berjuang untuk almamaternya. Penuh riuh canda, sesekali lelucon menghibur secara spontan muncul sekedar menghangatkan suasana, sebuah kesyukuran melihat anak-anak begitu bersemangat dalam belajarnya.

Tak terasa sudah hampir jam 10 pagi. Sekolah semakin sepi, anak-anak sudah mulai dijemput orangtuanya. Saya pun akhirnya mulai berkemas, bersegera melanjutkan aktivitas di tempat lain. Namun, langkah kaki terhenti di depan salah satu kelas. Tampak beberapa anak masih asyik dalam kesibukannya. Ohh, ternyata sedang melaksanakan tugas kelompok membuat majalah dinding (mading) kelasnya.

Keceriaan Anak Membuat Mading

Keceriaan Anak Membuat Mading

Sejenak singgah dan membersamai mereka. Keceriaan mereka membawaku pada kenangan setahun yang lalu. Masa-masa itu mungkin tidak akan pernah terlupakan. Ehm, kebersamaan dengan kelompok kelas “spesial” yang begitu akrab, bahkan sudah seperti keluarga. Tidak ada sekat selain etika dan sopan santun. Batasan antara guru dan siswa laksana sahabat dalam porsi yang sangat adil, cair, dan berbaur dengan sangat halus.

Harmonisasi hubungan seorang guru dengan siswa yang terbingkai dalam semangat kekeluargaan. Guru sebagai orang tua kedua yang selalu menjadi sosok pelindung, penjaga, dan pemberi semangat. Guru sebagai sahabat tempat berbagi cerita dan meminta nasihat. Ahh, semua itu selalu membuat hati ini merindu, merindukan “kelas itu” dan berharap akan menjumpainya lagi. “Selamat belajar di sekolah yang baru, semoga kalian lebih berhasil kelak.” Doaku untuk mereka.

Kejutan

Waktu beranjak siang. Dengan langkah sedikit berat, kaki membawaku untuk pergi. Baru beberapa langkah di koridor sekolah, terlihat dari kejauhan beberapa anak tersenyum. Entah siapa mereka. Lebih cepat berjalan dan ingin berjumpa. Betapa terkejutnya saya… “Pak Ary…” sapa mereka. Sapaan yang tidak asing dan sering kudengar. Tanpa melihatnya pun aku tahu siapa anak-anak ini.

Allah MahaBaik. Sungguh indah rencana takdirnya. Jujur. Beberapa hari ini aku sangat merindukan mereka. Kini, mereka hadir di depanku. Ahh… anak-anakku… adik-adikku… kalian datang😥

Tiga remaja putri memberi salam dan membuatku terhenti di ruang tamu sekolah. Singgah, menyapa dan larut dalam obrolan hangat, seperti dulu, saat mereka masih menjadi anak-anak didikku. Entahlah, kenangan apa yang mereka ingat tentang sosokku, yang jelas aku selalu mengenangnya sebagai “siswa-siswi istimewa”. Sejujurnya air mata tak tertahan. Aku pun mungkin lelaki rapuh yang mudah menangis. Kebahagiaan terobatinya rindu menegarkan hati (mungkin lebay, tetapi jujur itu yang kurasakan). Anak-anak inilah yang membuatku bertahan dari godaan “materialisme” dunia yang lebih menjanjikan kala itu.

Beberapa saat berselang, satu per satu anak-anak yang lain datang. Walau sekarang mereka sudah melanjutkan pendidikan di sekolah yang berbeda, tetapi kebersamaan itu masih sangat nyata. Sungguh, mereka telah berubah menjadi sosok yang lebih dewasa, santun dalam berkata, tetapi tidak meninggalkan kocaknya canda biasanya. Ruang tamu itu pun makin penuh, makin ramai. Obrolan mengenang masa SMP yang baru beberapa bulan mereka tinggalkan sangat asyik membersamai.

Entahlah, ada angin apa yang membawa mereka ke sekolah hari ini. Entahlah, kenapa aku masih sempat bisa berjumpa mereka. Aku yakin ini bukan kebetulan. Allah sudah merencanakan dengan sangat baik. Bahkan lebih baik dari yang kita inginkan. Allah tahu apa yang kita butuhkan🙂

Kebersamaan 9 Diamond

Kebersamaan 9 Diamond

Aku masih mengajar di kelas yang sama seperti tahun lalu. Tidak ada yang jauh berbeda dengan materi yang kusampaikan. Yang jelas berbeda hanyalah siswa-siswinya. Setiap generasi memiliki ciri khasnya sendiri. Saya paham itu. Tidak mungkin metode yang sama selalu pas untuk semuanya. Ini tantangan terberat yang harus aku pecahkan. Semangat!!!

“Gimana Pak adik-adik kelas? Se-ngeyel kita-kita nggak? Hehe” celetuk beberapa anak.

Banyak sekali cerita dan obrolan yang terungkap. Mereka adalah anak-anak hebat yang pernah bersamaku. Secara pribadi, saya masih merasa belum berhasil mengantarkan mereka ke gerbang impian yang mereka harapkan. Anak-anak itu sudah mulai menemukan jalannya. Memilih sekolah adalah keputusan penting dalam jenjang hidup sekaligus jenjang karir di masa depan. Cita-cita, hobi, dan peluang adalah variabel penting dalam memilih kelanjutan studi.

Beberapa diantara mereka telah yakin dengan pilihannya. Saya selalu berdoa untuk itu.  Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil. Ketika memilih sesuatu, maka harus siap kehilangan sesuatu yang lain. “Nak, dimanapun kamu melanjutkan studi, istiqomahlah. Belajarlah yang serius. InsyaAllah, jalan rizki Allah terbuka sangat lebar. Jangan mengkhawatirkan masa depan, jalani masa kini dengan sikap terbaik. Cukup itu.” Pesanku pada anak-anak.

Menjelang ashar. Perjumpaan ini harus diakhiri. Kegiatan dan aktivitas lain sudah menunggu. Anak-anak hebat itu pun harus mempersiapkan dirinya untuk esok hari. Luar biasa hari ini. Sangat berkesan dan penuh kenangan. Hari Merdeka untuk memerdekakan hati. Merdeka dan membebaskan hati untuk menerima dan mempersiapkan generasi. Salam Merdeka. Salam Diamond!!!

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: