Beranda > Artikel, Inspirasi > Ngaji, Piknik Masa Kini

Ngaji, Piknik Masa Kini


Ngaji Yuk.. (ilustrasi)

Ngaji Yuk.. (ilustrasi)

Sering sekali melihat dan mendengar “Kamu kok lesu? Kamu kurang piknik yah?”. Ah, nggak juga sebenarnya. Piknik sebagai aktivitas penyegaran (refreshing) mungkin menjadi kebutuhan di masa kini, saat setiap orang dihadapkan pada tekanan dan stress yang cukup besar. Namun, piknik yang secara umum diartikan bepergian ke sebuah destinasi (baik wisata maupun objek lainnya) memerlukan waktu yang realtif lama dan pertimbangan lain berupa biaya.

Islam telah mengatur kehidupan pemeluknya dengan sangat detail dan terperinci. Bangun tidur hingga tidur kembali semuanya diatur begitu sempurna (syamiil). Bahkan, hingga manusia sendiri sering terlambat mengetahui alasannya secara ilmiah. Namun, selalu ada alasan logis terbaik yang mengikutinya. Hebatnya, sebagian besar yang dapat menemukan jawabannya adalah ilmuan yang bahkan belum memeluk Islam Subhanallah🙂

“Piknik-nya (baca: hiburan) seorang Muslim adalah mengikuti pengajian.” Pesan yang selalu saya ingat dari Pak Wakhid, Kepala SMP Muhammadiyah 3 Depok, tiap kali menghadiri pengajian rutin. Memang benar yang disampaikan beliau. Hati, merupakan bagian penting kehidupan manusia. Hati adalah tempat jiwa bersemayam. Apabila hati-nya baik, hati-nya sehat, maka akan baik dan sehat dirinya. Pantaslah kiranya hati mendapatkan asupan nutrisi yang tepat, tidak hanya secara fisik dalam bentuk gizi dan makanan halal dan thayyib, tetapi juga nutrisi ruhani untuk men-charge keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta.

Sutradara Terbaik

Allah memang MahaBaik. Membersamai anak-anak mempersiapkan kelas untuk lomba ternyata memberikan hikmah yang luar biasa. Mungkin ini rencana Allah agar aku bisa berkesempatan mengikuti Kajian Rutin Jumat Malam di Masjid Jendral Sudirman, Kompleks sekolahku mengajar. Selepas ramadhan, baru kali ini bisa berkesempatan mengikuti kajian lagi. Kebetulan yang lain, pematerinya pun Ustadz yang biasa kuikuti sebelumnya, Ustadz Didik Purwodarsono, pengasuh Pondok Pesantren Takwinul Mubalighin.

Kajian dimulai ba’da shalat Maghrib dan seperti biasa diikuti hampir 90% (perkiraanku) jamaah dewasa dan beberapa pemuda takmir masjid yang merupakan mahasiswa. Dimulai dengan pengantar yang santai tetapi sarat akan pesan hikmah. Ustadz Didik terkenal piawai dalam diksi sehingga kalimat yang terucap sangat berpola dan berirama, hal ini yang membuat jamaah Nampak antusias, termasuk saya.

“Mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan bertepuk tangan, semoga tidak bertepuk sebelah tangan.” Kalimat pembuka yang membuat jamaah menyunggingkan senyum dan beberapa gelak tawa terdengar. Sebuah pesan sederhana sebenarnya. Antara harapan dengan kenyataan seyogyanya memang beriringan agar tidak lahir kekecewaan. Ekspektasi yang berlebihan terkadang menyakitkan ketika tidak tercapai dan cenderung membuat kita putus asa atau kehilangan harapan.

Materi Kajian kali ini bertemakan “Nikmat Kemerdekaan”. Tema yang wajar dibahas mengingat bulan Agustus merupakan bulan bersejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia biasanya dirayakan dengan cukup meriah semua elemen masyarakat. Hal yang umum dan sangat biasa adalah adanya berbagai perlombaan, diantaranya balap karung, estafet kelereng, hingga panjat pinang dengan berbagai hadiah.

Horizontal vs Vertikal

Kegiatan perlombaan yang dilakukan dalam rangkaian HUT RI dapat dimaknai sebagai pesan keberagamaan kita. Dalam kehidupan dikenal habluminannas (berbuat baik kepada sesama manusia yang dikenal sebagai ibadah horizontal) dan habluminallah (beribadah kepada Allah yang dikenal sebagai ibadah vertikal).  Kedua hal ini tersimbolisasi dengan sangat lembut dan halus dalam jenis lomba HUT RI.

Lomba balap karung, estafet kelereng, dan tarik tambang, misalnya. Semuanya dilakukan dalam bidang horizontal. Semua bisa dengan mudah melakukannya, tak pandang usia, bahkan agama sekalipun. Begitu juga dalam ibadah kepada sesama manusia. Semua sangat mudah dijalankan dan hampir semua orang bisa melakukannya.

Sebaliknya, lomba panjat pinang. Lomba ini dilakukan dalam bidang vertikal. Penuh tantangan dan rintangan untuk mendapatkan hadiah yang jelas dijanjikan. Namun, tidak semua orang berani dan sanggup melakukannya. Barangsiapa berhasil mencapainya, maka hadiahnya serta merta berhak dimilikinya. Begitulah dengan habluminallah, jelas janji-Nya akan balasan bagi orang-orang yang berhasil menjalankan syariat-Nya dengan balasan terbaik.

Kebutuhan Hidup Bahagia

Ustadz Didik menyampaikan bahwa ada sepuluh kebutuhan yang perlu dimiliki manusia untuk mencapai kebahagiaan, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Sepuluh kebutuhan ini, tujuh diantaranya mudah atau sudah terpenuhi dewasa ini. Namun, tiga terakhir yang susah dan perlu usaha keras untuk memenuhinya. Peran pemerintah sangat penting dalam mewujudkannya.

  1. Mangan wareg (kebutuhan pangan)
  2. Nyandhang rapet (kebutuhan pakaian)
  3. Mlaku cepet (kebutuhan transportasi)
  4. Turu anget (kebutuhan papan)
  5. Dompet kebek (kebutuhan finansial)
  6. Kesehatan
  7. Keselamatan dan Keamanan
  8. Kesyukuran
  9. Kemuliaan
  10. Keberkahan

Diantara semua kebutuhan itu, tiga terbawah (kesyukuran, kemuliaan, dan keberkahan) merupakan kebutuhan yang sulit diwujudkan dan mungkin jauh bagi bangsa Indonesia. Dibutuhkan kesadaran kolektif dan jami’iyyah dari pemerintah hingga masyarakat untuk mewujudkannya.

Berkah vs Musibah

Gusti Allah SWT secara tegas mempersilakan hamba-Nya untuk memilih balasan-Nya, baik berupa Berkah ataupun Musibah. Semua hal ini sudah tertulis secara jelas dan nyata di dalam Al-Quran. Keterbatasan pengetahuan dan rasa ingin tahu kita yang mebuat kita kerap kali terlupa untuk mempelajari dan mengamalkannya.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. Al A’raf [7]: 96)

“Dan jika Kami (Allah) hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu).” (TQS. Al Isra’ [17]: 16)

Nah, jelaslah sekarang mana yang harus kita pilih, berkah atau musibah? Allah memberikan kebebasan kita untuk berjuang dalam ketaatan atau terlalai dalam kemaksiatan. Wallahu a’lam. Semoga Allah menjaga hati kita dalam ridho-Nya. Allahumma amin. InsyaAllah berlanjut…

“Karena ALLAH adalah Sutradara Terbaik, kita harus berusaha menjadi aktor terbaik pula…” (Ary Gunawan)

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: