Beranda > Artikel, Inspirasi > Bidadari “Selatan”

Bidadari “Selatan”


Bidadari Selatan (ilustrasi)

Bidadari Selatan (ilustrasi)

“Nyi Roro Kidul!!!” beberapa komentar masuk, ada yang wujudnya komentar di jejaring jutaan umat Facebook maupun private messages (PM) di Blackberry Messengers. Hashtag #BidadariSelatan memang menjadi ciri khas akhir-akhir ini. Mungkin karena “unik”-nya, banyak orang yang langsung berasosiasi pada sosok “Penguasa Ghaib Laut Selatan” itu. Hehe. Persepsi yang muncul tidaklah salah karena bisa dimaklumi hastag itu sangatlah multitafsir dan multi-interpretasi. Sejujurnya tidak ada maksud mengumbar sensasi atau meningkatkan popularitas, toh secara pribadi saya tidak membutuhkannya (nada penuh percaya diri, bukan sombong lho!)

Diksi

Dalam kaidah kebahasaan disebutkan tentang diksi atau pilihan kata. Diksi yang sesuai akan memberikan kesan berbeda terhadap sebuah kalimat, bahkan terhadap makna yang tersurat sekalipun. Terkadang, kejelian pemilihan bahasa ini bisa mendongkrak nilai dan keterbacaan sebuah tulisan, umumnya opini.

Begitu juga kata “Bidadari Selatan” yang sengaja saya pilih menjadi tagar dalam status social media. Kata “Bidadari Selatan” sebenarnya bukanlah istilah asing serapan, semuanya asli produk dalam negeri: Indonesia. Bidadari secara umum pasti sudah dipahami maknanya sebagai sosok yang indah, cantik, bahkan didambakan dengan segala penggambaran tentang kelebihan dan ke-“luar-biasaan” yang menyertainya. Demikian pula kata selatan, sebuah kata yang menunjukkan arah mata angin pokok, selain utara, timur, dan barat.

Sederhana, berdasarkan epistemologi-nya, “Bidadari Selatan” dapat diartikan sebagai sosok yang luar-biasa lebihnya yang berasal dari arah selatan. Memang maknanya sesederhana itu. Saya pikir semua akan sependapat tanpa perlu diperdebatkan. Hehe.

Filosofis

Saya selalu meyakini hukum sebab-akibat yang saya maknai secara fisika (bidang ilmu yang saya geluti) sebagai ejawantah (perwujudan) dari Hukum III Newton tentang Aksi-Reaksi. Secara kontekstual keduanya berbeda, namun secara filosofisnya saya rasa sangat dekat dan saling mendukung. Tak  da satupun peristiwa di alam semesta ini yang terjadi tanpa sebab. Semua memiliki alasan dan faktor penyebab yang menyertai. Hanya ada satu hal yan berdiri sendiri tanpa sebab, yaitu Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Dalam istilah Yunani disebut sebagai causa prima, penyebab utama.

Secara filosofis, “Bidadari Selatan” lahir melalui perenungan yang mendalam. Terkandung makna yang tersirat di dalam kata tersebut. Bahkan, cukup mendalam bagi saya, tentang cita-cita, cinta, dan keteguhan hati. Bidadari sebagai perlambang keindahan dan kebaikan. Bidadari menjadi kias makna “surge” yang telah dijanjikan dengan segala kenikmatannya. Begitupun bidadari, figure istimewa yang kelak akan menemani pribadi terbaik yang akan menempati Jannah.

Selatan. Salah satu arah mata angin ini menjadi kata terpilih. Sejatinya, selatan hanyalah simbolisasi dari arah dan tujuan. Dimana dalam setiap perjalanan dan perjuangan harus bermuara pada tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Selatan sebagai perwujudan dari pentingnya arah yang jelas dalam mencapai apa yang dicita-citakan. Lalu kenapa harus selatan? Bukan utara atau yang lain? Jawabnya sederhana. Selatan adalah yang terpilih. Terdapat istilah matching-click atau kesesuaian kata. Nah, itu alasan yang bisa digunakan untuk memantapkan gabungan kata “Bidadari Selatan” sebagai sebuah tagar. Aspek subjektivitas pribadi tidak bisa dipungkiri. Perasaan (feel) dan rasa (taste) menjadi standar tak baku yang saya gunakan. Toh, ini sebuah tagar sederhana yang tak perlu dirisaukan. Hehe

Ketenangan Batin

Status ataupun PM yang muncul dengan hashtag “Bidadari Selatan” umumnya adalah kutipan tentang perasaan. Banyak yang bilang tentang “cinta” saya pun meng-“iya”kannya, tentunya pemaknaan cinta dalam artian luas dan membumi. Tak terhenti disitu, sempat terpikir untuk menjadikan #BidadariSelatan sebagai sebuah karya (entah novel ataupun cerpen), sayangnya selalu tak selesai dan berakhir separuh perjalanan (lebih tepatnya perjalanan yang baru akan dimulai).

Sosok “Bidadari Selatan” kini masih dalam dunia khayal. Belum menjelma menjadi sosok nyata yang diyakini hadirnya. Terbiasa menjadi sosok berbeda dalam cerita-cerita yang biasa kubuat di masa lalu membuat “keraguan” dan “ketakutan” terkadang menyertai. “Jangan menjadikan seseorang seperti yang kamu inginkan, karena sama artinya kamu melihat sosokmu dalam dirinya.” Saya teringat pesan itu. Rasa bersalah itu yang kemudian membuatku selalu stag di posisi ini.

Pernah terpikir menjadi sosok “lain” demi tampil sempurna di depan “Bidadari Selatan” suatu saat nanti. Belajar menjadi seorang detektif yang selalu berusaha mencari informasi tentang sosoknya. Mungkin aneh dan tidak logis, sosoknya saja belum real, bagaimana bisa tahu tentangnya? Berimajinasikah? Berkhayalkah? Atau yang lain? Wajarlah tanda tanya itu muncul.

“Bidadari Selatan” dapat muncul dimana saja dan dalam diri siapa saja. Keanggunan pribadi akan tercermin dari akhlak dan perilaku. “Sebaik-baik perhiasan di dunia adalah wanita yang shalihah.” Setidaknya hadits itu sangat familiar. Karakteristik “Bidadari Selatan” merupakan derivate dari wanita shalihah. Tentunya banyak gambaran akan hal tersebut.

Memilih

“Hidup adalah pilihan. Ketika kita sudah memilih sesuatu, maka bersiap untuk kehilangan atau melepas sesuatu yang lain.” Nasihat bijak untuk itu memang perlu benar-benar dipertimbangkan sangat matang. Menyiapkan hati untuk kehilangan dan lepas dari zona nyaman itu susah. Selama ini saya lebih suka mencari aman dan menghindarkan diri dari resiko. Namun, sejak hadirnya “Bidadari Selatan”, saya sudah memantapkan hati untuk memilihnya, menjadi seorang yang pantas dan layak bersamanya (sok dramatis, hehe).

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari sebuah kekeliruan besar yang saya perbuat. Tidak semestinya berubah hanya untuk seseorang. Keikhlasan tidak akan muncul ketika masih berharap sesuatu. Motivasi yang berasal dari orang lain sifatnya sementara. Ketika sosok itu sudah tidak ada maka hilanglah motivasinya. Motivasi terbaik adalah datangnya dari dalam diri.

Terimakasih “Bidadari Selatan” telah menjadi jalan hidayah-Nya untukku memperbaiki diri. Dahulu aku berusaha untuk memilikimu. Namun, kini izinkan aku fokus memperbaiki dan memantaskan diri. Semoga Tuhan mempertemukanku denganmu dalan takdir baik-Nya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: