Beranda > Artikel, Inspirasi > Aku Berbeda

Aku Berbeda


Aku Berbeda (ilustrasi)

Aku Berbeda (ilustrasi)

PASTI kamu merasakan perubahanku akhir-akhir ini. Semua pasti akan terasa sangat berbeda. Begitupun aku yang menjalaninya. Perubahan ini bukan semata inginku. Keadaan yang memaksaku melakukannya. Ehm, sejujurnya aku berusaha sangat kuat melawan hatiku sendiri. Semua demi menebus kesalahanku.

Kesalahan

Sejak awal aku harusnya menyadari apa yang terjadi dan tidak memaksakan egoku. Aku harus bercermin dan melihat diriku sendiri. Aku tak mungkin merusak indahnya harapan dan angan seseorang (bahkan yang saat ini selalu aku semogakan dalam doa). Seharusnya aku tahu diri dan bisa menempatkan diri dan menjaga hati ini.

“Hanya bunga yang indah yang dikelilingi banyak kumbang.” Pesan mahadahsyat di perjalanan siang kemarin yang membuka mata batinku. Kau memang begitu istimewa (untukku) dan ketika kau bertanya kenapa? Aku pun tak bisa menjelaskannya. Semua mengalir begitu cepat bahkan aku sendiri tak menyadarinya sejauh ini aku terjatuh, sejauh ini aku terhanyut.

Kesalahan. Mungkinkah ini sebuah kesalahan? Aku menaruh hati pada seseorang yang ‘mungkin’ sudah melabuhkan hatinya bagi orang lain. Mungkin pula ‘dia’ adalah pelabuhan hati seseorang. Mungkin aku tahu semua itu sejak awal dan berusaha seolah-olah “buta” dan melawannya.

Pantaskah aku “berpura bahagia” untuk kebahagiaanku? Adilkah jika aku mengharapkan balasan kasih darinya? Ehm… Semua serba bias. Aku sendiri masih terdiam dalam tanya. Apakah ini nyata? Ketika aku harus “jatuh”, aku ingin jatuh dalam pelukan kebahagiaan yang hakiki. Namun, semua sudah terjadi. Membiasakan hati yang tak biasa ini sungguh menyiksa. Aku nggak bisa berdusta, aku sudah “memilihnya”. Aku harus merelakan hati ini sedikit terluka, hanya sedikit, sebagiannya lagi aku bahagia. Aku merasa merdeka, merdeka mencintai, merdeka mengasihi, merdeka dengan semua yang terjadi tanpa harus berdusta pada hati ini.

Tidak ada sesal

Semua berjalan dengan alur cerita terbaik. “Bukankah sinetron atau drama yang laris selalu penuh konflik?” Ah, aku terlalu mendramatisisasi keadaan. Dunia sufi (suka film) membuatku sering berperan ganda: selalu bahagia meskipun menderita, dan saat ini aku sedang memerankannya. Semoga saja aku sukses menjadi aktor terbaik🙂

Teruntuk kau yang selalu aku semogakan, berbahagialah. Aku akan membersamaimu dalam bahagia. Kau yang kukenal selalu ramah. Kau yang kukenal selalu sumringah. Semoga aku masih bisa melihat semua itu lebih lama lagi…

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: