Arsip

Archive for the ‘Education’ Category

Pembelajaan IPA Kolaboratif dengan Teka-teki Sains (TTS)


Pembelajaran IPA Kolaboratif dengan TTS

Pembelajaran IPA Kolaboratif dengan TTS

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit bagi sebagian peserta didik. IPA sebagai disiplin ilmu yang diajarkan secara terpadu (terintegrasi) mencakup aspek fisika, kimia, biologi, kebumian, dan antariksa. Hal inilah yang kadang menjadi penyebab IPA dirasa sulit karena dari segi konten yang cukup banyak ditambah beberapa bagiannya memerlukan perhitungan matematis.

Tak kenal maka tak sayang. Demikian idiom yang sering kita dengar. Mungkin demikian yang dialami peserta didik dalam pembelajaran IPA. Pengalaman masa lalu merasa “IPA itu sulit” menjadi mindset yang perlu diubah. Untuk menjembatani hal tersebut, diperlukan model dan metode pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning) dan bermakna (meaningfull learning) untuk menumbuhkan minat dan ketertarikan peserta didik terhadap pembelajaran IPA.

Program WIB NETTV

Program WIB NETTV

Salah satu program televisi Waktu Indonesia Bercanda (WIB) yang ditayangkan stasiun TV swasta NETTV cukup digandrungi peserta didik. Salah satu segmen yang menarik dan menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) adalah Teka-Teki Sulit (TTS). Peserta didik sering meniru dan mengadaptasi program tersebut dalam permainan di kelas. Realita inilah yang membuat penulis (sebagai pendidik IPA) mencoba menggunakan model pembelajaran kolaboratif dengan metode diskusi berbantuan Teka-Teki Silang (TTS) IPA.

Pengkondisian Kelas Baca selanjutnya…

Iklan

Menggugat Sekolah!

10 Oktober 2016 2 komentar

Salam United Science,

Setelah sekian lama tidak aktif nge-blog lagi, pagi ini saya dapat sebuah pencerahan, mungkin aufklarung, hehe. Di hari yang cukup istimewa 9 Muharram 1438 H, bertepatan dengan Hari Tasu’a dimana disunnahkan untuk berpuasa.

Saat menunggu antrian kamar mandi sebagai anak rantau yang menumpang hidup di Jogja (baca: ngekos), saya sempatkan menikmati video berbagi YouTube dan bertemulah saya pada sebuah video yang cukup membuat saya “tertarik” dan lebih dalam lagi.

Video yang saya temui berjudul “I Just Sued the School System” (Saya Menggugat Sistem Sekolah). Video ini membuka fakta dan realitas pendidikan di “sekolah” kita. Sebuah video yang sangat “berimbang” menampilkan fakta dan argumen yang “mendidik”. Sekolah saat ini belum berkembang mengikuti perkembangan zaman. Sekolah dianggap “memenjarakan” kreativitas dan inovasi. Sekolah hanya mendidik “robot manusia” yang seragam.

Sebuah analogi yang menarik yang saya temukan di video ini. “Memaksa ikan untuk memanjat pohon”. Sebuah realitas yang benar-benar terjadi ketika semua anak “dipaksa” memiliki keahlian yang seragam tanpa memperhatikan bakat dan minat yang dia miliki. Tragis!

 

Simak sendiri videonya. Kita boleh memandang dan mengintrepretasikan maksudnya. Secara pribadi, memang perlu ada perubahan besar dalam “sistem persekolahan” yang ada saat ini. Mari kita dampingi anak-anak kita menemukan bakat dan kehebatannya masing-masing. “Pendidikan yang memerdekakan, pendidikan yang mencerahkan dan memanusiakan!”

Salam,
Ary Gunawan | @arygoen | Ikatan Guru Indonesia Sleman-DIY

Catatan Ngobrol bareng MPR RI


Sebuah kesempatan berharga bisa menjadi bagian dari sebuah acara penting “Netizens Jogja Ngobrol bareng MPR RI”. Acara ini dilaksanakan Jumat-Sabtu, 18-19 Maret 2016 di Eastparc Hotel Jogja.Pengalaman pertama kumpul dengan rekan Komunitas Blogger Jogja sekaligus pengalaman pertama ngobrol langsung dengan petinggi MPR RI.

Kesempatan ini bukanlah sebuah keberuntungan. Rutinitas blogging dan aktif menjadi seorang citizen journalist membuka peluang untuk ikut serta di momentum penting ini. Melalui proses seleksi, alhamdulillah berkesempatan ambil bagian sebagai seorang guru-blogger.

Bang Zul, Ketua Majelis yang easy going

Exif_JPEG_420

Suasana Diskusi Bersama Bang Zul

Keseruan pun dimulai. Sosok yang selama ini hanya bisa dilihat di layar kaca dan berinteraksi lewat jejaring sosial Twitter akhirnya bisa bertemu langsung. Sosok itu tidak lain adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Bapak Dr. (HC). Zulkifli Hasan, S.E., M.M. Bang Zul hadir sebagai narasumber utama didampingi oleh Sekretaris Jenderal MPR RI Bapak Ma’ruf Cahyono, S.H., M.H. Tidak kalah fenomenal, Sekjend MPR ini merupakan Sekjend termuda dalam sejarah MPR RI.

Bang Zul memaparkan pandangannya tentang empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yang sekarang dikenal sebagai empat pilar MPR RI (pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi). Keempat pilar tersebut adalah Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika. Keempat pilar ini merupakan ruh dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara sejak republik ini didirikan dan diperjuangkan kemerdekaannya.

Mata hati saya semakin terbuka tentang ketatanegaraan setelah mendengar pemaparan atau lebih tepatnya inisiasi dari Bang Zul. Realitas yang ada dalam kehidupan berbangsa kita, ruh dan semangat bernegara ini mulai memudar tidak setegas atau se-booming dahulu. Perubahan tata kelola negara pasca-reformasi melahirkan kebebasan yang mungkin dirasa semakin tidak terarah.

Apabila kita bandingkan dengan era Orde Baru (tentu dengan segala kekurangannya) kondisi saat ini jauh berubah, khususnya mengenai kehidupan demokrasi. Peralihan sistem demokrasi perwakilan menuju demokrasi langsung ini ternyata menimbulkan berbagai tantangan, khususnya mengenai cita-cita pendiri bangsa dalam pilar bernegara tersebut. Baca selanjutnya…