Arsip

Archive for the ‘Kata Hati’ Category

Catatan Senja #1

5 September 2014 Tinggalkan komentar

Rasanya sudah lama tidak aktif ngeblog. Kesibukan dan rutinitas memang cukup padat dan melelahkan. Alhasil, jarang sekali bisa singgah di rumah maya yang sudah lama kubuat ini. Hiks 😥
Iseng-iseng, sempat membuka jejaring sosial tumblr, terlihat ada postingan yang menarik sekaligus menyentuh.  Ini dia postingannya.
Mencintai seseorang itu bisa dibentuk sesederhana mungkin
Diam-diam mempermudah segala urusannya
Diam-diam membantu kesulitannya
Diam-diam memperhatikannya
Diam-diam mencatat segenap hal-hal yang ia suka dan inginkan
Kemudian diam-diam pula mewujudkannya

Kau kira siapa yang paling mampu melakukannya?
: Allah.

Betapa beruntungnya mereka yang dicintai-Nya diam-diam itu.

Lintang Wahyu Mukti

http://laninalathifa.tumblr.com/

CINTA DIAM-DIAM. Itu kata kuncinya. Ehm, terkadang kita terlalu sempit mengartikan cinta dan selalu mengkonotasikan cinta itu ke dalam cinta lawan jenis, cinta sesama makhluk. Namanya juga manusia, mudah sekali lupa atau ‘melupakan’. Sang Maha Cinta (baca: ALLAH SWT) adalah Zat Yang Maha Kasih, Zat Yang Maha Sayang. Postingan tadi jujur sangat menohok relung batin kita. Apakah kita menyadari betapa cintanya ALLAH? Subhanallah… DIALAH YANG MAHA MENCINTAI KITA. Sudahkah kita membalas cinta-NYA? (ask to yourself)

Semoga kita menjadi hamba-Nya selalu mencintai-NYA, selalu berusaha menjadi hamba yang dicintai-NYA 🙂

Yogyakarta, Senja 5 September 2014

Salam Santun,

Yudhistira

Iklan

Catatan Lazuardi #3: Dimensi Galau (ending)


“Komitmen untuk sebuah rasa cinta tanpa harus mengharap balasan cinta, cukuplah bersungguh-sungguh membuktikannya, tak peduli apa yang terjadi dan paham betul konsekuensinya, setidaknya orang yang kita cinta itu tahu kalau kita benar-benar mencintainya.” (Heavenly Forest)

Demam Film Korea: Belajar Kehidupan

Dahsyat!!! Kata itu yang spontan terucap dariku setelah untuk pertama kalinya aku’dipaksa’ menangis lagi setelah hari bersejarah: 20 Mei 2010. A moment to remember, drama Negeri Gingseng (baca: Korea) telah merobohkan benteng ketegaran yang susah payah ‘kubangun’ setelah kesedihan panjang: kekaguman yang terkandaskan. Film sederhana, sedikit ilmiah dibalut romantisme dan ketulusan cinta. Kontras dengan film-film negeriku, hampir semua ber-isense horror dan seks. Nggak bisa dipungkiri juga sih, masih ada beberapa film bagus: yang diangkat dari novel2 Best Seller tentunya. Namun, hanya sepersekian jumlahnya dibandingkan film-film ‘belum bermutu’ yang makin menjamur (apalagi setelah film manca, terutama Hollywod, dilarang tayang di bioskop tanah air).

Sisi-sisi hidup penuh makna digambarkan begitu polos, sederhana, dalam kisah-kisah yang biasa. Sineas Korea emang pandai mendandani kisah kehidupan menjadi elegant, berbobot dan mengajak kita berfikir dan menebak alurnya, dan akhirnya tebakan kita pasti salah! Sengaja, memang begitu trik yang digunakan. Kita seolah-olah ikut bermain di dalamnya, terhanyut dalam emosi film, berfantasi jauh, dan akhirnya terbawa arus. Kadang haru, tertawa, dan tidak jarang menangis.

“Cinta hanyalah memberikan sedikit ruang untuk rasa benci”, potongan dialog dalam “A Moment to Remember”. Begitu sederhana, tapi cukup berkelas. Menegur kesalahan seseorang dalam bersikap melalui kata yang begitu halus, tapi dalam. Apabila dianalogikan dengan sebuah hadits, “Janganlah kamu mencintai seseorang berlebihan, karena mungkin suatu saat dia akan menjadi orang yang paling kamu benci. Dan janganlah kamu membenci seseorang berlebihan, karena mungkin suatu saat dia akan menjadi orang yang paling kamu cintai.” Sungguh, sineas Korea jauh lebih paham tentang hal itu dari kita. Subhanallah, ilmu itu datang hanya kepada orang yang siap menerimanya.

Baca selanjutnya…

Catatan Lazuardi #2: Analogi Bisu


Aku memang tertakdirkan hadir di penghujung jalan,
Hadir di akhir-akhir tanpa tahu kapan harus berhenti,
Hadir membawa analogi bisu, tak bermakna,
Singgah tanpa bekas,
Berkoar tanpa terdengar,
Biarlah dalam diam, kini aku berjuang,
Biarlah dalam doa, kini aku berperang,
Bersama ketulusan, bersama ikhlas, bersama mimpi dan harapan,
Biarlah deru caci maki, sapuan kasar menghendus ragaku,
Tak akan kecewa jikalau masih ada tapak yang terbekas,
Langkah-langkah pejuang tanpa peluh tangis,
Pejuang teriring senyum menuju keabadian,
Dalam diam, hanya dalam diam, diam, dan diam…
Diamku bukanlah penyerahan,
Diamku bukanlah kekalahan,
Diamku hanyalah penyambutanku akan kemenangan,
Menang tanpa harus membawa kesombongan,
Menang tanpa harus membuat orang lain merasa dikalahkan,
Semua hanya analogi bisu, morfologi buta,
Tapi itu semua yang akan kubuktikan pada dunia yang selalu menertawakanku…

(Midnight, 00:07)

Harga diri.

Masihkah benda abstrak itu kumiliki? Setidaknya walau secuil, aku masih punya. Aku sadar bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanya anak desa, cupu, dari keluarga sederhana, sama sekali nggak ada yang bisa kubanggakan. Harta tak punya. Kekuasaan tak ada. Keturunan dari rakyat jelata. Dimana harga diriku??? Bukankah manusia dinilai Allah berdasarkan keimanan dan ketaqwaannya???

Untukku yang sejak dilahirkan, dibesarkan dengan kasih sayang oleh abah-ummi, dididik dengan agama yang benar, diberikan nasihat dan bimbingannya sampai aku menjadi seperti sekarang. Mungkin tidak terbersit pula dalam hidupku, hidup orang tuaku melihat anak kesayangannya dihinakan seperti sekarang. Seakan aku di-judge tidak bermoral, penjahat kehidupan, atau mungkin dengan arogannya meng-kafirkan seseorang. Kalimat terakhir mungkin menyiratkan atau bahkan menyuratkan emosi dan kekecewaan. Tapi itulah yang kurasakan. Astaghfirullah…

Baca selanjutnya…