Catatan Ngobrol Bareng MPR RI (bagian 2)


Tulisan ini adalah kelanjutan seri sebelumnya Catatan Ngobrol Bareng MPR RI. Catatan kali lebih banyak akan berbagi tentang Ngobrol bareng Sekretaris Jenderal (Sekjend) MPR, Bapak Ma’ruf Cahyono, S. H., M. H. Sosok yang “istimewa” menurut saya. Mas Ma’ruf memegang posisi yang cukup penting dan strategis di Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Beliau juga merupakan Sekjend termuda dalam sejarah MPR Republik Indonesia.

Exif_JPEG_420

Ramah Tamah dengan Sekjend MPR RI, Ma’ruf Cahyono, S. H., M. H.

Pribadi yang Humoris

Acara “Netizen Jogja Ngobrol bareng MPR RI” ini adalah kesempatan pertama bertemu Mas Ma’ruf. Beliau hadir sejak awal acara sebagai moderator dalam sesi pembuka pemaparan materi oleh Ketua MPR, Dr. (H.C). Zulkifli Hasan, S.E., M.M. Bahasa yang terukur dan pandangan yang visioner membuat saya tertarik untuk menimba ilmu lebih banyak dari beliau.

Selera humor beliau cukup tinggi dan “akademis”. Jokes sering dilontarkan untuk menghangatkan suasana. Semangat “muda” inilah yang membuat MPR menjadi lebih berwarna. Mendekatkan diri antara senator dengan publik, khususnya netizen.

Tata Negara untuk Netizen

Mas Ma’ruf dalam perannya sebagai Sekjend MPR memberikan ruang yang terbuka untuk berdialog dalam sesi ramah-tamah. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, beliau menyampaikan tentang tugas pokok dan fungsi (tupoksi) MPR pasca-reformasi dan usaha-usaha yang dilakukan MPR sesuai dengan tupoksi tersebut. Tentunya, masih dengan gaya humoris beliau untuk menghangatkan suasana malam di Eastparc Hotel Jogja.

Ada beberapa point penting yang bisa penulis catat dalam diskusi malam itu. Intinya, netizen harus mulai mengerti tata negara dan peduli terhadap kondisi berbangsa dan bernegara. MPR memiliki beberapa badan yaitu Badan Pengkajian MPR, Badan Sosialisasi MPR, dan Badan Anggaran. Semua bagian memiliki tugas dan fungsi yang berbeda.

MPR mempunyai beberapa tugas penting kaitannya sosialisasi terhadap publik, yaitu:

  1. Memasyarakatkan Ketetapan MPR (Tap MPR)
  2. Memasyarakatkan empat pilar bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika
  3. Menyerap aspirasi masyarakat

MPR RI memiliki cita-cita dan tekad kuat untuk: (1) Menjadi Rumah Kebangsaan; (2) Mengawal Ideologi Pancasila; dan (3) Menjaga Kedaulatan Rakyat. Dalam pelaksanannya di lapangan, cita-cita dan tekad tersebut tidak mungkin berjalan sendiri. MPR membutuhkan bantuan dan dukungan banyak pihak termasuk diantaranya netizen.

Mengapa netizen? Netizen dewasa ini dijadikan sebagai salah satu kekuatan sosial baru di masyarakat. Perkembangan dunia informasi, khususnya melalui media sosial memiliki peran yang besar terhadap perubahan bangsa. Hal ini sudah nyata secara realitas dan bukan hanya sekedar idealita. Begitu banyak social movement yang terjadi dimulai dari gerakan di media sosial. Baca selanjutnya…

Catatan Ngobrol bareng MPR RI


Sebuah kesempatan berharga bisa menjadi bagian dari sebuah acara penting “Netizens Jogja Ngobrol bareng MPR RI”. Acara ini dilaksanakan Jumat-Sabtu, 18-19 Maret 2016 di Eastparc Hotel Jogja.Pengalaman pertama kumpul dengan rekan Komunitas Blogger Jogja sekaligus pengalaman pertama ngobrol langsung dengan petinggi MPR RI.

Kesempatan ini bukanlah sebuah keberuntungan. Rutinitas blogging dan aktif menjadi seorang citizen journalist membuka peluang untuk ikut serta di momentum penting ini. Melalui proses seleksi, alhamdulillah berkesempatan ambil bagian sebagai seorang guru-blogger.

Bang Zul, Ketua Majelis yang easy going

Exif_JPEG_420

Suasana Diskusi Bersama Bang Zul

Keseruan pun dimulai. Sosok yang selama ini hanya bisa dilihat di layar kaca dan berinteraksi lewat jejaring sosial Twitter akhirnya bisa bertemu langsung. Sosok itu tidak lain adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Bapak Dr. (HC). Zulkifli Hasan, S.E., M.M. Bang Zul hadir sebagai narasumber utama didampingi oleh Sekretaris Jenderal MPR RI Bapak Ma’ruf Cahyono, S.H., M.H. Tidak kalah fenomenal, Sekjend MPR ini merupakan Sekjend termuda dalam sejarah MPR RI.

Bang Zul memaparkan pandangannya tentang empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yang sekarang dikenal sebagai empat pilar MPR RI (pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi). Keempat pilar tersebut adalah Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika. Keempat pilar ini merupakan ruh dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara sejak republik ini didirikan dan diperjuangkan kemerdekaannya.

Mata hati saya semakin terbuka tentang ketatanegaraan setelah mendengar pemaparan atau lebih tepatnya inisiasi dari Bang Zul. Realitas yang ada dalam kehidupan berbangsa kita, ruh dan semangat bernegara ini mulai memudar tidak setegas atau se-booming dahulu. Perubahan tata kelola negara pasca-reformasi melahirkan kebebasan yang mungkin dirasa semakin tidak terarah.

Apabila kita bandingkan dengan era Orde Baru (tentu dengan segala kekurangannya) kondisi saat ini jauh berubah, khususnya mengenai kehidupan demokrasi. Peralihan sistem demokrasi perwakilan menuju demokrasi langsung ini ternyata menimbulkan berbagai tantangan, khususnya mengenai cita-cita pendiri bangsa dalam pilar bernegara tersebut. Baca selanjutnya…

Aksi Berbagi Komunitas #SedekahRecehan


Aksi Berbagi Komunitas #SedekahRecehan

Foto Bersama Komunitas #SedekahRecehan

Berikut ada kutipan berita citizen journalism yang sudah penulis unggah di beberapa situs berita online nasional. Menurut penulis, ini kegiatan yang bagus sehingga penulis repost lagi di blog pribadi ini. Komunitas #SedekahRecehan merupakan komunitas hobi yang sudah bermetamorfosis meluas menjadi gerakan sosial. Simak ya beritanya, semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi 🙂

Sejumlah pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam komunitas #SedekahRecehan melakukan kegiatan sosial di sekitar titik nol kilometer Yogyakarta. Kegiatan sosial yang dilakukan berupa aksi berbagi nasi bungkus makan malam untuk dhuafa, seperti petugas kebersihan, tukang becak, maupun pedagang asongan yang dijumpai.

“Kegiatan aksi berbagi nasi bungkus merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Komunitas #SedekahRecehan setiap bulannya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun kepedulian sosial dan ikut berbagi manfaat dengan sesama.” Demikian disampaikan Rizal Nasrul, salah satu relawan #SedekahRecehan.

Dengan semangat “Recehan kita, senyum dhuafa”, Komunitas #SedekahRecehan terus berusaha memperluas jaringannya. Bermula dari kegiatan hobi mengumpulkan uang receh sisa belanja akhirnya bermetamorfosis sebagai gerakan sosial. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan yaitu penyaluran beasiswa pendidikan untuk anak asuh dari recehan yang dikumpulkan anggota, kegiatan aksi berbagi nasi bungkus setiap bulan, dan kegiatan amal sosial di beberapa panti asuhan.

“Aksi berbagi kali ini sedikit berbeda. Kami mengajak elemen mahasiswa lain untuk bergabung yaitu dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA (HIMA IPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kami menebarkan virus One Man One Box, Satu orang satu bungkus nasi. Alhamdulillah, puluhan paket bisa kita distribusikan selain donasi dalam bentuk tunai yang kami salurkan untuk beasiswa anak asuh dan santunan panti asuhan.” Demikian disampaikan Ary Gunawan, Koordinator #SedekahRecehan.

Relawan #SedekahRecehan dan anggota HIMA IPA UNY berkeliling kawasan titik nol kilometer Jogja untuk membagikan paket nasi bungkus yang dibawa. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk menyelesaikan aksi ini. Sekitar 50an paket berhasil disalurkan pada dhuafa.

“Kami berharap bisa ambil bagian dalam kegiatan sosial semacam ini. Sungguh memberikan dampak positif dalam hal kepedulian dan semangat berbagi. Ayo terus sebarkan virus One Man One Box.” Pungkas Trian, relawan #SedekahRecehan dari HIMA IPA UNY.

*Tulisan ini sudah di-publish sebagai citizenjournalism di Okezone.com dan Liputan6.com

Berminat bergabung bersama Komunitas #SedekahRecehan?
Silakan Bergabung di grup Komunitas #SedekahRecehan