14 Februari


 “Tir, Tira!!! Siang bolong kok dah ngelamun? Kesambet mbak Susi (suster ngesot-pen) lho!” sapa Tiyan sambil menepuk bahuku dari belakang. “Eh, kamu Yan? Ganggu aja. Ada perlu apa sich?” sahutku setengah sadar terbangun dari buaian lamunan. “Ni, da titipan dari Sari, katanya sich dari Ning, itu tu anak sebelah. Belum aku apa-apain lho, masih disegel rapi pokokE masih orsi tur garansi!” lanjut Tiyan sedikit bercanda sambil menyodorkan bungkusan misterius. Matakupun tertuju ke arah bungkusan itu dengan penuh rasa penasaran. “Makasih Yan!” jawabku singkat sambil mengulurkan tangan menggapai bungkusan yang dipegang Tiyan. Segera saja bungkusan itu aku masukkan laci. “Buka pulang sekolah aja ah!” pikirku dalam hati.

Pikiranku nggak bisa konsen, selalu tertuju pada bungkusan misterius itu. “Isinya apa ya? Bunga, coklat atau jangan-jangan bom lagi? Terus ngapain aku dikasih kado ya? Ultah masih 3 bulanan lagi, valentine masih 2 minggu. Jangan-jangan salah kirim!” Rasa ingin tahuku sudah meledak-ledak. Ragam hipotesis dan prediksi terngiang-ngiang di benak seakan enggan beranjak pergi. “Tet…Tet…Tet!!!” bel pulang sekolah berbunyi. “Akhirnya pulang juga!!!” tuturku lirih sedikit lega. Ingin rasanya cepat-cepat pulang buat buka bungkusan misterius  tadi. Kebetulan hari ini nggak ada ekskul en les privat, so aku bisa pulang lebih cepet dari biasanya.

***

Sampai di rumah, setelah semuanya beres (MKP-pen) segera saja aku buka bungkusan tadi perlahan. Betapa kagetnya aku melihat isi bungkusan tadi. Ternyata isinya sebuah buku, buku yang selama ini ingin aku baca yang belum sempat aku pinjem atau aku beli. Yang jelas bukan Ayat-Ayat Cinta atau Dalam Mihrab Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy yang Best Seller itu. Tapi sebuah buku Hardcover karangan IQaJ judulnya TTOyJCdMR (inisial aja ya, nanti dikira promosi-pen). Di cover depannya tertempel sesobek kertas tertuliskan,

“010208 at 11:45. Special for my friend!!! Bacalah jika sempat, simpanlah bila kau ingat! Jangan dibaca SKS (Sistem Kebut Semalam-pen) ya akh! Satu hari cukup satu halaman aja. InsyaAllah akhi akan temukan sebuah keindahan! From your friend, Ning!.”

Nggak salah lagi, bungkusan itu dari Ning, sahabat seangkatanku. Tak kenal maka ta’aruf. Peribahasa arab made in Indonesia itu kayaknya nggak melenceng-melenceng jauh. Gara-gara aktif di kegiatan yang sama, hubungan silaturahmi aku ma Ning jadi lebih dekat. SMS jalan terus tapi komunikasi face to face-nya mati suri. So, hubungan persohib-an kita jadi nggak sehat. Kalo SMS sejuta kata bisa terangkai, kebalikannya kalau mau ngomong langsung bilang “ya” aja susah banget, lha wong ketemu aja nggak berani, ngelihat wajahnya aja dah malu gimana gitu.

Jujur, dari lubuk hati yang paling dalam, rasa suka itu mulai muncul menyelinap ke relung hatiku. Namun, sebisa mungkin kutahan, kucoba yakinkan diri ini, ini hanya kekaguman lantaran pribadi Ning sungguh sangat mengesankan dan membekas dalam ingatan. Menurutku, doi itu masuk kriteria cewek idaman. Cara berpakaiannya close all aurat (jilbaber-pen), ramah, nggak jaim-jaim amat, yang jelas keibuan en tentunya pinter plus cantik pisan. SepertinE aku lagi kena virus CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis-pen) ya nggak lain gara-gara epidemi VSA.

“MaksudE Ning itu apa ya? Aku jadi bingung. Baca buku aja kok ada aturanE, kaya main Bridge waE?” aku ngomong sendiri sambil terus memandangi buku itu. “Ya udah lah! Yang penting ngikut aja, dah dapet buku gratis, tinggal baca aja apa susahnya!”  kataku lirih meyakinkan hati. Kumulai baca buku itu di sela-sela kesibukanku.

***

“Ahad, 10 Februari,”kubaca pamflet yang nempel di mading Rohis. Pamflet acara bedah buku Ya Allah Aku Jatuh Cinta yang ditulis Ust. Burhan Sodiq. “Ikut, kayaknya asyik deh! Apalagi bareng-bareng ma anak-anak Rohis!” pikirku dalam hati. Segera saja aku berlari ke perpust, nyari Tiyan, kali-kali aja mau aku ajak ikut. “Yan, Ahad kamu ada acara nggak?” tanyaku penuh  harap. “Haduh brow, Ahad tho? Aku arep mudik brow wis kangen Ummi! EmangE mau ngapain?”  sahut Tiyan. “Gini brow, sebenerE aku mau ngajak kamu ikut bedah buku. Kalo nggak bisa ya udah, nggak apa-apa kok. Aku bisa berangkat sendiri. Wis tenang brow, aku dah punya SIM, nggak jadi buronan en sarapanE polisi lagi!” jawabku sedikit kecewa. “Afwan lho Tir!!!”Tiyan merasa sedikit bersalah.

***

10 Februari akhirnya datang juga. Alarm yang aku set pas pukul 3 pagi, berdering membangunkanku dari lelapnya tidur. Sengaja, soalE aku mau Qiyamullail dulu terus seperti biasa nonton LaLiga, khan lumayan masih bisa lihat babak II. Jam sudah pukul 7 pagi, segera saja aku mandi, beres-beres terus berangkat deh! Eh, sampe lupa sarapan terus pamit ortu biar dapet doa restu termasuk uang bensin. “Mi, Tira berangkat dulu ya! Assalamu’alaikum!” aku minta izin sama Ummi. Abi hari ini nggak ada di rumah, lagi dinas ke luar kota, ya tadi malem dah sempat izin sich tapi via SMS doank. “Walaikumsalam. Hati-hati Nak, rindik-rindik wae. Biar lambat asal selamat!” sahut Ummiku sedikit memberi wejangan.

Kumainkan gas motor berharap nggak terlambat sampe tempat bedah buku. Alhamdulillah aku nyampe belum telat. PesertanE juga baru sedikit yang datang, separuh lebih yang datang akhwat-akhwat. Ternyata dari SMA-ku yang datang ikhwannya cuma aku aja, tapi temen-temen dari Farohis (Forum Aktivis Kerohanian Islam-pen) banyak kok yang datang. So, aku nggak cuma jadi kambing congek, minimal punya kenalan atau temen ngobrol.

 Acara dimulai rada molor dikit. Ustadz Burhan Sodiq mbedah bukunya asyik banget. Gayanya remaja abis, materinE ringan tapi syarat makna. Dari muqadimah sampe penutupnya semuanya tentang cinta dan cinta nggak melenceng dari itu. Maklumlah, buku yang dibedah temanya kan remaja en cinta, pokokE pas banget buat aku. Aku mulai tercengang ketika beliau menyampaikan, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah dia memberitahu bahwa dia mencintainya.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).

Sambil kubuka sekilas bukunya, seakan menyindir dan menyentuh kalbuku. “Ya Allah, benarkah aku sedang jatuh cinta???” tanyaku dalam hati. Ustadz Burhan Sodiq juga menyampaikan,” cinta itu fitrah, agama Islam tidak melarang seseorang mencintai orang lain selama dalam koridor syar’I, cinta nggak harus diwujudkan dengan pacaran karena cinta bukan pacaran. Tapi bingkailah dalam tatanan pernikahan. Kalau belum siap? Pendamlah!!!” Akupun mulai bertanya-tanya,”Apakah yang sedang aku rasakan ini? Kekaguman atau cinta? Apa pula yang harus aku lakukan?”

***

Semalaman aku nggak bisa tidur. Masih terngiang perkataan Mas Burhan. Aku coba menerawang, mencari sedikit intuisi. Sampai akhirnya, akupun lelap terbuai mimpi. Kuambil buku pemberian Ning, kubaca halaman selanjutnya. Akhirnya, di benakku terbersit angan tuk mengungkapkan isi hatiku pada Ning tepat saat aku menemukan keindahan yang dibilang Ning,. Keindahan yang tersembunyi dalam buku itu.

Hari-hari kulalui biasa, entah kenapa 2 hari terakhir ini aku belum ketemu Ning, sebatas melihatnya dari jauhpun belum sama sekali. “Apa Ning nggak masuk sekolah? Jangan-jangan dia sakit atau…atau…” rentetan tanya menyelinap masuk ke dimensi fikirku. Teman-teman pada asyik ngobrolin soal acara dance, dinner de el el, buat ngerayain valentine tanggal 14 Februari nanti. Bahkan entah kenapa aku lupa kalau besok itu Valentine’s Day. Maybe, aku memang lagi sibuk-sibuknya ngurus ini itu. Kalau dipikir-pikir, sejak dulu aku emang nggak pernah ngerayain VD itu, so rasanya biasa-biasa aja, nggak ada yang beda.

***

Kulanjutkan membaca buku pemberian Ning itu. Nggak terasa dah nyampe hal 13. Ketika aku asyik membaca kata demi kata, hapeku berdering. Segera kulihat sebuah Short Messages Service alias SMS masuk.

“Ketika tiba perpisahan, janganlah engkau berduka sebab apa yang paling kau kasihi darinya mungkin nampak lebih nyata dari kejauhan. Seperti gunung yang tampak lebih agung dari padang dan daratan. Ukhti Ning,”kubaca SMS dari Ning.

Akupun jadi semakin bingung dan gelisah. Nggak biasa-biasanya Ning kirim SMS dengan nada sedih seperti ini. “Ada apa dengan Ning Ya Allah?”tanyaku dalam hati terasa ada sesuatu yang mengganjal. Entah apa akupun nggak tahu persis? “Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa!”harapku lirih.

14 Februari, sekolah sedikit berbeda dari biasanya. Di taman sekolah, kulihat teman-teman berebut memberi coklat dan bunga pada primadona sekolah, nggak terelakkan sampe ada yang berantem pula. Dari jauh, aku hanya bisa tersenyum. “Kurang kerjaan banget sich mereka? Ngasih coklat aja nunggu 14 Februari! Emang hari biasa kenapa? Coklat kan setiap hari juga enak!” pikirku dalam hati. Kuberkeliling sekolah, maksud hati nyari Ning tapi nggak ketemu.

“Put, kamu lihat Ning nggak?” tanyaku pada Putri, teman semeja dan sekelas dengan Ning. “Nggak tahu tu Tir! Ning dah tiga hari ini nggak masuk, katanya sakit. Ini surat dokternya!” sahut Putri, yang lagi sibuk buka-buka kado valentine dari teman-temannya. “Makasih ya Put!” tandasku sembari berjalan menuju kelasku, Eleven Science Five (XI IA 5, maksudE biar rada SBI gitu-pen).

“Ning sakit apa ya? Mudah-mudahan nggak parah! Kok dia nggak ngabarin aku?” rentetan tanya menyelinap di dimensi fikirku. “Ya Allah, berikan kesembuhan untuk Ning!” harapku. Selama pelajaran, aku nggak bisa konsen babar blas. Selalu gelisah mikirin Ning. Untung aja pelajaran hari itu nggak berat-berat amat, gurunya lagi sibuk. So, cuma dikasih catatan doank!

***

Sampai di rumah (tentunya abis selesai MKP-pen), kulanjutkan membaca buku pemberian Ning, tepat halaman 14. Kulihat secarik kertas, bertuliskan tinta merah jambu, sepertinya dari Ning. “Apakah ini keindahan itu?” tanyaku dalam hati. Nggak pakai lama, kubaca surat itu,

“Congratulation! Akhi pasti dah baca sampai halaman ini kan? Pas hari ke 14 sejak Ning kasih buku ini. Syukran!Akhi dah mau nurut perintah Ning. Maybe, saat akhi baca surat ini, Ning dah jauh pergi akh! Pergi ke dunia lain yang nggak mungkin akhi jangkau. Ning mau ngomong akh, sebenarnya Ning ada sedikit “rasa” dengan akhi. Entah perasaan kagum, naksir atau cinta, atau apalah namanya. Ning takut kalau akhi juga punya rasa yang sama, bukannya ke-GR-an lho akh! Aku takut rasa itu akan merusak persahabatan kita selama ini. Aku ingin mengungkapkan semua itu, sebelum kita benar-benar terpisah jauh…dan semakin jauh. La Tahzan en tetep semangat ya akh!”

Air matakupun menetes jatuh membasahi buku itu, tepat halaman 14 tanggal 14 Februari. Rasa sedih kini tak terbendung lagi.

“Ning mau pergi kemana? Pindah sekolah atau…?” ingin tahuku meledak-ledak. Semuanya akhirnya terjawab sudah. Hapeku berdering. “Kalau memang, kau pilihkan aku. Tunggu, sampai aku datang. Nanti kubawa kau pergi ke surga abadi. Kini, belumlah saatnya. Aku membalas cintamu. Nantikanku di batas waktu!”nsp-Nantikanku di Batas Waktu-nya Edcoustic semakin menambah kesedihanku. Kulihat sebuah SMS dari Ning masuk. “

Salam perpisahan! Special for Akh Tira. Maybe, ni sms terakhir dan yang paling akhirku buat akhi. Saat akhi baca SMS ini, aku memang dah benar-benar pergi, kembali ke pangkuan-Nya. Bila sejak kita berkenalan sampai akhi selesai baca SMS ini, Ning punya banyak salah, ngapunten ya akh! Jangan sedih, lepas kepergianku dengan senyum kebahagiaan! Selamat tinggal Akh! Yang pernah jadi sahabatmu, Ning!” kubaca SMS terakhir Ning dengan isak tangis.

“Innalillahi wa innaillaihi raji’un! Ning benar-benar telah pergi jauh! Kembali kepada-Nya, sang Penciptanya. Ya Allah, berikan Ning tempat yang layak di sisi-Mu! Ya Allah, sampaikan salamku pada Ning, katakan Aku juga mencintainya!”

Sudah satu tahun terakhir ini Ning sakit-sakitan. Kanker otak stadium IV sudah menggerogoti tubuhnya. Begitulah yang dikatakan orang tua Ning pada pak Riyan, pembina kami. Di balik senyumannya, dia menahan rasa sakit yang terus mendera. “Ning, aku akan selalu mengenangmu, sahabatku!” janjiku yakin dalam hati.

Memang benar yang dikatakan Mas Burhan Sodiq, “Cinta menyakitkan bila Anda putuskan hubungan dengan seseorang. Itu malah lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu. Tapi cinta yang paling menyakitkan, bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui perasaanmu terhadapnya.” Aku belum menjadi pecinta sejati, aku hanya seorang secret admirer yang terlambat menyadarinya, kalau aku telah jatuh cinta.

“Ya Allah, ampunilah segala kekhilafanku selama ini! Bukakanlah pintu maaf dan ampunanMu! Berilah kesempatan hambamu yang dhaif ini untuk berubah, menjadi hambaMu yang shalih! Ya Allah, jika aku jatuh cinta lagi, cintakanlah aku kepada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu agar aku bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu. Dan jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku padaMu!” untaian doa aku panjatkan mengiringi kepergianku dari pemakaman Ning, sahabatku, tepat 14 Februari, yang akan terus membekas dalam kenangan sekarang, esok dan selamanya.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila terdapat kemiripan tokoh, setting, karakter, dan peristiwa semuanya bukanlah kesengajaan tetapi hanyalah kebetulan semata. Mohon diikhlaskan dan semoga dapat memberikan pencerahan.

@Wonogiri, 5 Februari 2008
Fathan Yudhistira, sebuah nama pena dari sosok nyleneh Ary Gunawan

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: