De Regenbogen


 “Cepetan Dik (bukan lagune ‘Wali’ lho-pen)! Keluarkan barang PR-nya…!” teriakan-teriakan senior terus menggema di benakku walo sudah hampir 2 minggu aku berseragam putih abu-abu. MOS (Masa Orangtua Susah-pen) en Kemah Wisata sukses kulalui, walo agak kepaksa, ikhlas 50:50 gitu deh. Maklumlah, alumni putih biru, rada childish dikit kan wajar.

Walo sebel sama senior udah nyampe ubun-ubun–gara-gara ngasih barang PR seabreg–sulit-sulit lagi, tetep masih ada satu kenangan manis alias sweet memory pas MOS. Nggak laen nggak bukan, PK (Penanggungjawab Kelas-pen) X.6–kelasku, Kak Daffa namanya. Doi yang selalu ngasih semangat adik-adiknya, termasuk aku. Gaya bicaranya yang santai tapi tetap berwibawa, buat kami semua terkesima dan menaruh hormat padanya. Pokoknya, kalo Kak Daffa nyalonin diri jadi ketua OSIS, pasti menang mutlak deh. Huz, kok malah jadi tim sukses gini. Sekali mendengar tutur katanya, hati jadi illfeel, dag-dig-dug-duer kaya bom hampir meledak (lebay kalee-pen). He…he…he…

***

“Bagi nama-nama berikut, sepulang sekolah berkumpul di kelas XI IPA 5, untuk mengikuti seleksi ekskul Paskib. Hendra Utama, Galih, Asfita Eka Risma, Fira Artika…. Sekian terima kasih!” suara pengumuman lewat speaker kelas yang nggak begitu jelas kedengaran. Tapi,bener apa nggak, tadi sempat kudengar namaku disebut-sebut. Yup, Asfita Eka Risma–itulah nama pemberian ortuku sejak 16 tahun yang lalu aku dilahirkan di muka bumi ini. Aku anak perempuan pertama dan satu-satunya. Meskipun namaku Eka, ternyata calon adik-adikku (Dwi, Tri, Catur, dst-pen) nggak dateng-dateng. Takdir Illahi, ketika aku 2 tahun, rahim Bunda terpaksa diangkat karena ada indikasi kanker, hal itu aku tahu ketika aku masuk SMP. Haduh, kok jadi curhat gini.

 Aku sama sekali nggak nyangka bisa masuk seleksi Paskib, yang notabene ekskul paling bergengsi di sekolah. Tapi ternyata nggak semudah yang aku bayangin, mau jadi anggota Paskib mesthi ngikutin pelantikan, yang mau nggak mau kudu nginep di sekolah. Yang bikin males, pasti ada barang PR dan ‘monster’ kedisiplinan yang nggak bisa ditinggalin–bentakan. Aku jadi bingung, mau ikut apa nggak, utamanya takut nggak dapet izin dari ortu. Tapi nggak tahu kenapa (mungkin dapet instruksi dari langit-pen), akhirnya aku ikut juga.

Pelantikan.

Akhirnya datang juga (bukan promosi lho!-pen). Barang PR dengan susah payah sukses dikumpulin tapi tetep aja gelang-gelang hukuman melingkar di tangan. Sungguh terlalu! Acara utama caraka, keliling kompleks camp, di kaki bukit, jam 3 pagi, dingin, takut dirujak jadi satu. Setiap pos yang dilewati semuanya nguji mental, ngerjain, aneh-aneh tapi lumayan menghibur juga sih.

“Dik, titip ini untuk Bung Karno nanti di pos persahabatan! Bilang dari Bu Fatmawati, RA Kartini, Teuku Umar de el el” beberapa senior serempak menyerahkan barang titipan padaku. Ada bunga, coklat, daun kering bahkan bungkus permen. “Harus sampe, kalau nggak…!” lanjut mereka. Emang unik, senior-senior Paskib semua pake nama pahlawan. Bukan sok nasionalis tapi udah jadi tradisi.

“Bung Karno? Masa’ harus ke Blitar, nganterin ke pemakaman. He2. Siapa ya yang mirip Bung Karno? Kayae nggak ada deh!” pikirku terus terngiang hingga aku sampe ke pos PBB, pos terakhir sebelum pos persahabatan. Senior yang jaga pos ini Kak Daffa, mantanku dulu. Bukan mantan pacar lho, tapi mantan PK. Doi ternyata juga ikut Paskib, malahan jadi KP (Ketua Pelaksana-pen) kelihatannya. Aku sempat lihat dia ngobrol serius sama Pak Anto, pembina Paskib. “Jangan-jangan, kak Daffa si ‘Bung Karno’ itu?” pikirku.

“Titip puisi ini untuk Bung Karno! Baca yang keras di depannya nanti. Sanggup???” perintah Kak Daffa.

Runtuh seketika, prediksiku kalo Kak Daffa adalah Bung Karno. “Masa’ titip untuk dirinya sendiri? Jadi, Kak Daffa bukan Bung Karno? Terus siapa dunk?” kutermenung sejenak.

“Sanggup tidak???” Kak Daffa mengulang perintah.

“Sanggup Kak!” jawabku cepat, singkat dan tegas sambil tetap berintuisi siapa gerangan Bung Karno, cowok atau cewek. Ato jangan-jangan nggak ada.

Dan akhirnya…

“Sudah tahu kan? Ini pos terakhir pelantikan Paskib tahun ini, Pos Persahabatan. Silakan adik-adik semua menyerahkan barang titipan yang dibawanya. Seperti biasa, satu titipan sampai, berkurang satu gelang hukuman. Tiga hitungan mundur, 3, 2, 1, Mulai!” Kak Daffa memimpin.

Berputar-putar, mondar-mandir kesana-kemari menyerahkan titipan. Ada yang dengan mudah mengakui nama samarannya. Ada juga yang ribet, aksi tutup mulut diam seribu bahasa. Nggak kerasa hampir sejam mencari, tinggal barang titipan untuk Bung Karno yang belum tersampaikan. Masih bingung, tanya senior-senior nggak ada yang mau ngaku, termasuk Kak Daffa.

Sampai akhirnya aku nekat. Kunaik di atas sebuah batu besar. Semua peserta pelantikan–termasuk para senior,  kaget. Pandangan matanya tertuju padaku. Lalu, kubaca puisi dari Kak Daffa, keras-keras.

“Bung Karno, entah siapapun dirimu. Kan kubaca puisi teristimewa untukmu dari Kak Daffa, sang Ketua Pelaksana. Pelangi di Fajar Hari…”

Baru judul kubaca, Kak Daffa memotong, “Stop, jangan diteruskan!”

“Kenapa Kak? Pesan ini harus kusampaikan.”

“Ya udah stop dulu. Aku mau buat pengakuan dosa. Maaf kalo udah nggak mau ngaku. Akulah Bung Karno palsu itu. Sudah puas khan? Mana barang titipannya?” sahut Kak Daffa, sambil menghampiriku.

“Ini Kak.” Kuserahkan titipan-titipan itu.

“Terima kasih. Mana gelang hukumannya, tak ambil semua?”

Kualunkan tanganku, kemudian diambil semua gelang-gelang hukuman yang melingkar di tanganku. “Aku salut atas keberanian dan kecerdikanmu!” sapa Kak Daffa lirih di dekatku.

***

“Satu komando! Semua peserta berkumpul di lapangan sekarang!” terdengar instruksi dari seorang senior. Langkah seribu bayangan, semua peserta berlari menuju lapangan. Terdengar instruksi lagi, “Semua mata harus ditutup! Sekarang!”. Kami sudah bisa membayangkan, pasti kami akan disiram air kembang tujuh rupa, so kami semua sudah punya siasat balas dendam. Tapi ternyata, semua diluar perkiraan. Hampir 10 menit mata ditutup, tapi air nggak segera membasahi tubuh. Kami semua mulai tenang, tapi hanya sesaat.

“Sekarang boleh dibuka!”

Mataku belum terbuka sempurna, guyuran air kembang itu terjun menghujam tubuhku. Sempat kulihat Kak Daffa di depanku, aku yakin dia yang menyiramku. Senior-senior kali ini sungguh luar biasa, skenario mereka berbeda 180 derajat dari tradisi tahun lalu. Menyiram ketika kami membuka penutup mata.

Kak Daffa, sang Ketua Pelaksana tampil ke muka.

“Dengan ini kalian resmi dilantik menjadi anggota Paskib sekolah. Jangan ada dendam di antara kita. Bagi yang nggak ikhlas silakan kakak-kakaknya gantian disiram. Air masih banyak!”

Sentak semua yunior berlari mencari air. Ada atraksi kejar-kejaran, teriak-teriak dan maen petak umpet. Aku yang sudah lelah, hanya diam melihat parodi pelantikan ini. Tiba-tiba, Kak Daffa datang membawa seember air, mendekatiku. Aku pasrah nggak mau nglawan, siap diguyur lagi. Tapi aneh, Kak Daffa ternyata nggak mau ngguyur aku.

“Ini airnya, nggak mau bales kakak? Daripada disimpan malah jadi dendam lho!”

“Nggak usah kak. Aku sudah ikhlasin kok.”

“Ya udah kalo gitu. Maaf yang tadi ya!”

Baru beberapa langkah Kak Daffa berbalik, niat dendamku pun kueksekusikan. Kuambil ember penuh air itu dan kusiramkan. Kak Daffa sama sekali nggak marah, malah tersenyum senang.

“Belum mandi ya Kak? Kok nggak marah?”

“Rasanya emang ngagetin, jadi asyik aja. Sekarang kita udah impas kan? 1 = sama tho?(eh, itukan lagunya ‘Kunci’-pen). Imbang, seri alias draw. Nggak dink, asyik remis aja ya. Kan kalo seri bisa pake adu penalti. He…he…he…” Kak Daffa sedikit nglucu, tapi rasanya wagu.

“Kak Daffa bisa aja. He…he…he…” sahutku sambil tertawa.

***

Pelantikan sudah ditutup. Nggak kerasa, sudah hampir maghrib. Teman-teman udah pada dijemput ortu-ortunya. Sekolah udah hampir sepi. Jemputanku belum dateng. Mau pulang naik bus, sudah kesorean, mau telepon nggak bawa, kan emang nggak boleh bawa. Uang sakupun hanya dibatasi 10 ribu.

Sekolah tinggal Kak Daffa, Mas Abdul, dan Mbak Hani yang lagi bersih-bersih lapangan. Mulai Bersih, Selesai Bersih, itulah visi Paskib. Kak Daffa yang melihatku duduk sendiri datang menghampiri, tentunya bareng Mas Abdul dan Mbak Hani yang sudah selesai beres-beres.

“Kok belum pulang Dik?” tanya Kak Daffa.

“Belum Kak, belum ada yang jemput”

“Telepon aja!” tandas Kak Daffa sambil mengulurkan hapenya.

“Nggak usah Kak, ngrepotin.”

“Nggak apa-apa. Daffa lagi kaya, Dik. Jangan disia-siain.” Mas Abdul melanjutkan.

“Pinjem buat SMS aja ya Kak.”

“Silakan”

Adzan maghrib baru saja berkumandang. Tetapi jemputanku belum datang juga, SMS pun nggak dibales. Mbak Hani yang sudah selesai dari tadi, disandera Kak Daffa nemenin aku. Sholat Maghrib sudah kutunaikan, berjamaah dengan Mbak Hani sambil nunggu jemputan.

“Belum dateng juga Dik?” tanya Kak Daffa.

“Belum Kak.”

“Kakak telepon aja ya! No-nya masih ada ni. Nama bapakmu siapa?”

“Terserah kakak aja. Bapakku Rohmat Haryadi” Jawabku pasrah.

“Ehm, Pak Rohmat Haryadi. Kakak coba hubungi kalo gitu.” Kak Daffa terlihat teringat sesuatu tapi entah apa.

Kulihat Kak Daffa ngobrol lama dengan Ayah. Kelihatannya sudah akrab, padahal baru pertama kali bicara, lewat telepon lagi.

“Dik, Bapakmu lagi ngurus proyek ke luar kota, dapet tender baru, katanya pulang besok pagi. Terus Ibumu, lagi nengok Pakdhe Kar, sakitnya kambuh. Rumahmu mana? Jauh nggak?”

“Girijati Kak. Lumayan jauh tapi bus sudah nggak ada.”

“Kalo gitu biar kamu bareng Mbak Hani aja, kebetulan kan juga satu arah. Nanti barang-barangnya biar tak balikin sama Abdul aja. Tolong ya Han!”

“OK, Bung Karno! Ayo Ris, kita pulang!” Mbak Hani menggandeng tanganku menuju parkir motornya. Let’s go, akhirnya aku bisa pulang juga. Terima kasih ya Allah. Sembari mengucapkan salam, kulambaikan tanganku tanda terima kasih sekaligus perpisahan. Motor Mbak Hani melaju lumayan cepat, kutinggalkan kenangan pelantikan. “Rumahku, i’m coming!”

***

SMA-ku ini termasuk sekolah unggulan. Mulai tahun ini, dibuka kelas baru, International Class. Ayah dan Bunda mendukungku masuk kelas itu. Mereka sangat berharap aku lolos seleksi. Sebenarnya, dulu aku ingin masuk SMA Nusantara, sekolah favorit jauh di luar kota. Tapi mereka tidak mengizinkan, takut ada apa-apa katanya. Maklumlah, aku kan anak satu-satunya.

Dengan doa dan usaha yang lumayan keras, akhirnya aku lolos seleksi. Kutinggalkan kelas X.6 yang sudah kutempati hampir sebulan ini. International Class, kelas baruku sudah menunggu. Kelas baruku ini memang super asyik, fasilitas lengkap, tentunya biaya juga semakin besar. Alhamdulillah, keluargaku termasuk berada. Bapak seorang Guru Matematika SMP punya kerjaan sambilan jadi kontraktor, nglanjutin usaha kakek. Sedangkan Bunda, seorang ibu rumah tangga sejati, mengelola toko kecil-kecilan di depan rumah. Mereka berdua bekerja keras untuk aku. Aku bangga banget dengan mereka. I love my parents.

“Risma, kemarin yang hubungi bapak itu siapa? Pacarmu tho nduk?”

“Bukan pacar Pak, dia senior Paskib. Namanya Kak Daffa.”

“Daffa tho? Nama yang bagus. Ki nomere, perlu ora?” Bapak kelihatannya nggak asing dengan nama itu, kayaknya udah pernah kenal gitu. Tapi, kenal dimana? Nggak tahu juga dink.

“Mana pak? Risma simpen dulu nggih!”

Akhirnya secara kebetulan aku dapet no hapenya Kak Daffa. Cuma punya lho, nggak tak hubungin sampe suatu saat aku butuh banget bantuannya. Saat itu adalah mau ulangan matematika. Aku tahu banget, Kak Daffa lumayan jago matematika. Dia ikut team olimpiade Mat sekolah. Pokoknya top banget deh. Bapak Guru Mat, tapi SMP, untuk pelajaran SMA beliau dah nggak begitu lancar. Maklumlah 18 tahun ngajar Mat SMP terus.

Ass. Kak,5f ggu.Sy mo tny, rms L sg3 jk diket 2 sdt &1 si2 it gmn? Sy prlu bgt Kak bwt ul mat bsk.Trimksh ya Kak. Risma Paskib.

Nggak beberapa lama, tiba-tiba hapeku berdering standar. Kali ini RBT ‘Dik-nya Wali’ nggak aktif, belum sempat kuperpanjang.

“Assalamu’alaikum. Ini benar no hapenya Risma? Ini dari Daffa.”

Aku kaget. Ternyata kak Daffa telepon. “Waalaikumsalam. Benar Kak, ini Risma.” Jawabku

“Hapenya ada speakernya nggak? Kalo ada tolong diaktifin!”

“Ada Kak.”

“Sudah aktif kan? Untuk rumus luas segitiga jika diketahui 2 sudut dan 1 sisi, seingat saya, kalo nggak salah itu rumusnya begini, Luas sama dengan sisi yang diketahui misalkan a dikuadratkan dikalikan sin dua sudut yang bukan dihadapan a tadi, ato sin B dan sin C Kalo sudah hasilnya dibagi 2 kali sin sudut yang berada di hadapan a tadi, ato sin A. Pasti bingung ya?”

“Ya kak, bisa diulangi rumus singkatnya saja!”

“Rumus singkatnya begini L= a2  X sinB X sinC / 2 sinA.

“Terima kasih ya Kak. Ngomong-ngomong, kok speakernya harus diaktifin, emangnya ada apa tho?”

“Nanti suatu saat kamu juga tahu. Udah dulu ya, selamat belajar. Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Mendapat angin segar, setiap kali SMS soal Mat terus balas ditelepon, aku mulai ganti topik pertanyaan. Yup, kali ini aku sering banget SMS Kak Daffa, tanya soal agama. Tapi entah kenapa, setiap kali SMS masalah agama, nunggu jawabannya pasti lewat semalam. “Rumahnya Kak Daffa itu dimana sih?  Pelosok, ato nggak ada sinyal, lowbat terus mati lampu kali, ato jangan-jangan towernya ditebang. He..” pikirku sudah mulai nggak sabar. Walo begitu, semua SMS selalu dibales walo nggak segera.

Bahasanya pun santai, tapi banyak singkatannya, namanya juga SMS (Short Messages Servicespen) kalo panjang-panjang namanya pasti ganti jadi LMS, Long Messages Services. He… Alhamdulillah, sejak kenal dengan Kak Daffa, aku mulai berubah, nggak drastis-drastis amat tapi step by step gitu. Dulu aku termasuk cewek urakan, rada tomboy tapi hobi bikin cowok-cowok mati kutu karena aku tolak. Alasannya cuma satu, masih kecil belum boleh sama ortu. Sekarang, kalo mau ditembak, aku udah punya jaket anti peluru cinta, ‘belumlah saatnya’. Kini, aku mulai berjilbab seperti Bunda, mulai rajin mengaji dan ikut kajian. Akupun kini tahu, kenapa Kak Daffa nggak mau membalas SMS-ku, dan setiap kali menghubungiku minta speaker diaktifin. Jawabannya singkat, menghindari fitnah dan zina. Lalu kenapa dia membalas SMS-ku soal agama? Masih jadi tanda tanya besar dalam benakku. “Jangan-jangan…” kumulai berprasangka. Tetapi kucoba tenangkan diri dengan possitive thinking (husnudzan) aja.

Sedikit banyak, Kak Daffa punya peran penting dalam mengubah perilaku hidupku. Kuingin berterima kasih pada Kak Daffa. Tapi masih bingung gimana caranya. Mungkin dapet petunjuk dari langit lagi, aku bertemu Kak Daffa di tempat paling rame di sekolah, bukan kantin lho tapi perpustakaan.

“Kak terima kasih ya! Risma bisa berubah seperti ini atas nasehat kakak. Alhamdulillah, mulai hari ini Risma akan coba istiqomah berjilbab. Doain ya Kak!” lirih ku berbicara dengan Kak Daffa.

“Alhamdulillah dan amin. Semoga yang terbaik selalu bersamamu.” Kak Daffa kemudian berlalu pergi.

Beragam tanya mulai menyeruak, membuatku gelisah. “Kenapa Kak Daffa, aneh begitu, seakan menghindar dariku. Apa ada yang salah padaku? Bukankah ini yang terbaik?”

***

Keesokan paginya, Surya—teman sekelasku—datang menyerahkan sebuah bingkisan, nggak misterius, hanya sebuah kotak kecil terbungkus kertas koran ‘Bola’ bekas.

“Ris, ini tadi di depan gerbang aku ketemu Mas Daffa, dia nitip ini sama aku, nggak tahu juga apa isinya? Kado ultah kali, atau jangan-jangan kamu ada hubungan ya dengan senior Paskib itu? Hayoo.” Surya meledek.

“Hubungan dari Hongkong. Ya, kenal aja. Makasih ya Sur!”

Rutinitas hari ini cukup padat. Aku hampir tiga jam praktikum di laboratorium. Sampe kelupaan ada titipan dari Kak Daffa. Sudah kuputuskan untuk membukanya di rumah aja. Kebetulan nanti nggak pulang sore, nggak ada jam tambahan plus ekskul juga lagi libur. Belum tak promosikan ya tadi, kalo di International School ada jam tambahan English Only sepulang sekolah, khusus hari Senin. Latihan cas-cis-cus bahasa Inggris pokoknya.

Sampai di rumah, kubuka bingkisan dari Kak Daffa. Betapa kagetnya aku, ternyata isinya sebuah cermin, bukan bunga, coklat atopun boneka. Bingung, itu yang pertama kali menghinggapiku. “Kenapa cermin? Ada apa dengan cermin?(cinta kali-pen). Ato mungkin Kak Daffa pengin aku berkaca kali ya, melihat wajahku yang makin cantik, senyumku yang menawan ato pipiku yang kemerahan (narcis banget ya jadi orang-pen)” pikirku.

Sentak, analogiku salah besar. Ketika kulihat sepucuk surat terbungkus amlop paperline ‘Sinar Dunia’,. terselip di antara kertas koran ‘Bola’ pengganti kertas kado itu. Yuph, surat dari Kak Daffa.

Pasti bingung tho kenapa Kak Daffa kasih kamu cermin? Nggak usah dipikirin. Udah dapet pelajaran optik Fisika tho? Subbab cermin kalo nggak salah. Apa yang kamu lihat di cermin itu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain khan? Nah, begitu juga perubahan kamu sekarang, semuanya karena usahamu sendiri, bukan orang lain, termasuk kakak. Kakak selama ini hanya menjadi sosok cermin yang membantumu melihat dirimu yang sesungguhnya, Risma yang baru. Namun, semua itu nggak mungkin terjadi tanpa sumber cahaya, yang nggak lain adalah cahaya Illahi yang telah menuntunmu untuk berubah. Walopun ada cermin, kalo gelap juga nggak mungkin  bisa digunakan ya nggak? Maka, terus bersyukurlah pada Allah atas hidayahNya ini.

Banyaklah belajar dari Mbak Ranty, dia sepupu kakak yang selama ini menjawab semua SMS-mu Risma. Maafkan kakak, nggak bilang ini sejak awal. Kalo nggak salah dia jadi murobbimu khan? Menimbalah ilmu dengannya, Adikku. Sampaikan maafku untuk Pak Rohmat, katakan amanahnya nggak sempurna aku tunaikan. Kakak bangga padamu. Tetap istiqomah ya!

“Insya Allah, Kak! Risma akan berusaha.” Yakinku dalam hati.

Tetapi kegelisahanku belum terjawab, Amanah apa yang diemban Kak Daffa dari bapak? Mungkinkah Kak Daffa mengenal bapakku sebelumnya? Kak Daffa, kau memang selalu misterius.

***

“Risma, kapan Daffa diajak main kesini? Sudah lama lho bapak nggak ketemu.” Terdengar bapak bertanya dari serambi depan.

“Bapak kenal dekat sama Kak Daffa nggih?” sahutku sambil berjalan mendekat.

“Ya kenal banget. Dia itu mantan murid bapak di SMP. Daffa itu pinter banget makanya jadi lulusan terbaik angkatannya. Bapak sempat bertemu dia saat pendaftaran. Anak bapak yang paling cantik ini juga sudah bapak titipkan sama dia lho. Biar dijaga dan dibantu sekolahnya. Lha, kamu nggak tahu tho Nduk?”

“Kok saya nggak lihat bapak ngobrol sama Kak Daffa dulu? Ngobrolnya wonten pundi?”

“O, iya bapak lupa belum cerita. Dulu pas kamu ngisi formulir pendaftaran, bapak ketemu Daffa di Musholla, lagi sholat Dhuha, kalo nggak salah.”

Nggih empun, Pak. Saya ke kamar dulu mau ngerjain PR” kuberlalu menuju kamar.

Yo wis, garap sing temenan biar dapat nilai top.” Sayup-sayup kudengar wejangan bapak.

Tanyaku selama ini terjawab sudah. Selama ini, Kak Daffa mencoba menjalankan welingan bapak buat njagain aku. Makanya, sejak pelantikan dulu—sejak dia tahu bapakku—dia semakin terlihat baik padaku. Dia rahasiakan semua itu padaku, agar aku bersikap wajar saja. Sama seperti sikapku pada senior-senior yang lain. “Kak Daffa, amanahmu sudah kau tunaikan dengan sempurna. Kau memang kakakku yang terbaik yang pernah aku miliki. Terima kasih Allah, kau telah memberiku hidayah untuk berubah lewat sosok cermin—Kak Daffa. Semoga hambamu ini tetap istiqomah di jalanMU, semata-mata karena mengharap ridhoMU!” doa singkat, kuuntai mengiringi tidurku ditemani suara jangkrik dan desis angin kemarau, dingin tetapi melelapkanku. I hope tomorrow will be better than today. Alunan nada Cinta Hakikinya ‘Raihan’ melelapkan tidur semakin dalam dan terus semakin dalam…[fath]

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila terdapat kemiripan tokoh, setting, karakter, dan peristiwa semuanya bukanlah kesengajaan tetapi hanyalah kebetulan semata. Mohon diikhlaskan dan semoga dapat memberikan pencerahan.

@Wonogiri, 4 Oktober 2008
Fathan Yudhistira, sebuah nama pena dari sosok nyleneh Ary Gunawan

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: