Pelangi Dhuha


Pagi yang redup menuntun kakiku melangkah menuju bangunan di sudut sekolah–sebuah masjid–tepatnya masjid yang mulai ‘hidup’ akhir-akhir ini. Azhar–nama  indah yang disematkan–menandai keagungan rumah Allah ini. Ramai, kata yang paling pas menggambarkan ‘hidupnya’ Azhar belakangan. Banyak hati mulai terketuk untuk menyapa Khaliq-Nya. Entah, benar-benar ingat atau emang lagi musimnya beribadah ‘menyuap’ Tuhannya demi sebuah predikat keduniawian yang tidak pantas dipertuhankan, lulus ujian. Allah tidak buta bukan???

-fath-

Kulepas sepatu Loggo hitam bertali yang telah menemaniku berpetualang fikir hampir tiga tahun ini. Bergegas, kuletakkan ransel Junglesurf baru hadiah Ummi–sosok penyabar yang selalu menjadi figur panutan anak-anaknya–tercintaku, yang acap kali kulukai hatinya karena kebandelanku.

Tubuh Tiramku (tinggi ramping–pen) seakan tertarik menuju tempat wudhu. Menyegerakanku menyucikan diri sebelum menyapa-Nya. Perlahan, kubasuh satu per satu sampai sempurna rukun dan sunnahnya. Kurasakan air mulai membasahi kulit sawo matang yang semakin gelap ini. Sejuk dan damai mulai menyentuh kalbuku. Bersyukur pada-Nya masih bisa merasakan hidup sampai hari ini.

“Allahu Akbar!!!” takbir kukumandangkan memulai rakaat pertama Dhuha pagi ini.

Aku berusaha sekuat hati mengkhusyukkan shalatku walau hanya sebentar. Aku ingin curhat  dengan-Nya. Ingin kusampaikan keluh kesahku, doa dan harapku. Ingin meminta maaf atas kesombonganku pada-Nya selama ini.

“Hik… hik… hik…” sayup-sayup isak tangis kudengar dari balik hijab. Sentak menggoyahkan kekhusyukan yang susah-payah kuperjuangkan. Rakaat terakhir shalatku tidak fokus karena ketakutan mulai menggoyahkan imanku.

Dimensi fikirku terbang jauh keluar dari ‘sangkarnya’–mengingat Allah–karena terusik suara itu. Sempat terpikir olehku, itu suara makhluk ghaib sebangsa bidadari, sundelbolong atau teman-temannya yang lain. Maklum, sejak aku masuk sekolah ini, banyak cerita misteri yang datang silih berganti walaupun sedikitpun tidak pernah kuhiraukan. Tapi kenapa hari ini semua terasa berbeda? Apa yang terjadi dengan diriku? Entahlah…

Kucoba teguhkan hatiku lagi. Kusebut asma-Nya dalam zikirku berharap ketenangan batin. Sampai akhirnya, perlahan damai mulai menghinggapiku, menjernihkan fikirku lagi.

-fath-

Masih terlalu pagi. Sekolah masih sepi. Kuberanikan menengok siapa gerangan yang menangis di balik hijab, pemisah shaff shalat putra dan putri. Kaget, di sudut kulihat seseorang terpekur dalam zikirnya sambil tersedu. Hatiku bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan gadis itu. Aku takut dia sedang sakit atau punya masalah yang begitu berat yang menyayat hatinya.

Kuberanikan diri mendekat, menghampiri gadis itu. Langkahku gemetar, takut dia menyangka aku berbuat yang tidak-tidak. Bismillah, kubulatkan tekadku mendekat dan menyapanya.

“Assalamu’alaikum.” Sapaku.

“Wa’alaikumsalam.” Jawab gadis itu tertunduk menahan tangis sambil menghapus air mata yang terlihat menganak sungai di pipinya.

Kulihat matanya memerah sedikit bengkak. Rasa ibaku pun datang seketika teringat Ummi yang sering menangis karena khawatir aku pulang malam, khawatir terjadi apa-apa denganku.

Ngapunten, kalau boleh tahu wonten napa nggih? Saya tadi sempat dengar Mbak menangis. Mungkin ada yang bisa saya bantu?” Tandasku.

Gadis itu hanya diam terpaku. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Tak sengaja sempat kulihat wajahnya sekilas. Dia terlihat anggun dan lembut. Rasanya aku pernah melihat dia sebelumnya tapi mungkin karena kegugupanku aku tidak dapat mengingatnya lebih jelas. Hampir lima menit kami berdua bergeming.

Sampai akhirnya…

“Assalamu’alaikum.” Terdengar salam dari luar pintu yang mengagetkanku.

Tanpa pikir panjang aku bergegas menyingkir menjauhi gadis itu. Aku takut akan timbul fitnah diantara kami berdua. Aku kembali ke balik hijab, duduk dan diam.

“Astrid, ada apa? Kok kamu nangis?” tanya gadis yang baru datang tadi.

“Nggak ada apa-apa kok Rum. Cuma lagi sedih aja. Nggak usah khawatir gitu. Ini aku udah senyum. He…” jawab gadis itu meyakinkan sahabatnya.

“Nggak usah bohong!”

“Nggak bohong kok, beneran nggak ada apa-apa.”

“Jangan-jangan ada hubungannya dengan laki-laki tadi ya. Kamu diapakan? Dia berbuat yang nggak-nggak ya sama kamu? Jujur aja, biar nanti aku yang turun tangan.” Lanjut sahabat gadis itu khawatir.

Aku semakin takut akan terjadi kesalahpahaman yang ujung-ujungnya jadi fitnah buatku dan gadis itu, Astrid. Apa yang harus aku perbuat supaya masalah ini tidak berlanjut membesar. Aku berharap gadis itu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku nggak ingin kejadian tadi menjadi bumerang bagiku kelak.

“Udahlah nggak usah dibahas. Aku juga nggak apa-apa kok. Anggap nggak ada apa-apa. Biasa aja Rum.” Astrid berusaha menenangkan sahabatnya walaupun dari gaya bicaranya dia terlihat jelas menahan kesedihan dan kegelisahan yang mendalam.

“Pokoknya, kalau sampai ada apa-apa. Aku orang pertama yang akan menghajarnya. Dia belum kenal sahabatmu ini, Arum juara karate provinsi.” Emosi Arum semakin meledak.

“Hus, kok jadi emosian gini. Nyebut Rum… Inget jangan diperdaya nafsu. Aku nggak apa-apa kok. Jadi kamu tenang aja ya. Istighfar…” Dari celah hijab, kulihat gadis itu–Astrid– memeluk Arum. Sungguh mengingatkanku dengan Ummi.

Seketika, Arum menangis sambil beristighfar. Tidak lama berselang, dua sejoli itu bergegas meninggalkan masjid menuju kelas. Aku pun menyusul dari belakang beberapa saat kemudian dengan membawa segudang tanya yang belum sempat terjawab. Ada apa dengan gadis itu? Siapakah dia?

Dia sempat menoleh ke belakang melihatku dan tersenyum. Terlihat teduh dan menyejukkanku. Aku yang gugup hanya membalasnya dengan menunduk. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Amin.

-fath-

  “… Kuingin kau tahu, diriku disini menanti dirimu, meski kutunggu hingga ujung waktuku…” nada dering ‘Cinta Dalam Hati-nya Ungu’ membangunkan lelapnya tidurku. Akupun bergegas bangun. Kuraih HP yang tergeletak di atas meja. Ada panggilan masuk dari nomor baru yang belum kukenal. Ketika kuangkat, langsung dimatikan.

“Oh, ternyata cuma missedcall ! Siapa ya?” batinku.

Belum sempat terjawab, kulihat jam dinding, tepat pukul 02.30 WIB. Memang sudah waktunya shalat malam. Setengah sadar, sekuat tenaga kubangunkan badan yang masih lemah. Segera bangkit keluar mengambil air wudhu. Sempat kuterdiam sejenak, melihat langit pagi itu. Penuh bintang dan terlihat cerah sekali. Subhanallah, begitu indah dan mengagumkan. Ditemani desis angin, kuambil air wudhu, terasa dingin tapi menenteramkan.

Kudirikan shalat malam. Kucoba ikhlas menghadap-Nya dan mengkhusyukkan diri tunduk pada-Nya. Merenungi semua dosa dan memohon ampun pada-Nya. Berdoa dan berharap kebaikan di usia yang masih tersisa. Tetes air mata tanpa kuminta ikut menemani khusyuknya zikirku hingga akhirnya aku lelap kembali dalam tidur, begitu dalam, begitu nikmat.

“… Kuingin kau tahu, diriku disini menanti dirimu, meski kutunggu hingga ujung waktuku…” nada dering ‘Cinta Dalam Hati-nya Ungu’ lagi-lagi membangunkanku. Sengaja nggak kuangkat, sampai akhirnya berhenti berdering. Kuraih hapeku, belum sempat kupegang, sebuah Short Messages Service alias SMS masuk.

Asslm_

Tliskn rncna2 hdpmu dg pnsil, tp briknlah pnghpusnya pd Allah. Biarknlah Ia mghpus bagian2 yg slah & mnggntikn dg rncanaNya yg indh utk hdpmu. Met shalat Subuh Mas. Jazklh khair u/ yg kmrn.

“SMS siapa ya? Bahasanya lumayan juga, apalagi isinya. Membuatku makin bersemangat memulai hari ini. Kusempatkan waktu membalas sebelum bergegas ke masjid. Tapi bingung juga mau balas gimana. Aku juga nggak tahu siapa yang ngirim soalnya.

“Jangan-jangan salah kirim? Udah ke-PD-an, nanti salah sasaran berabe. Jadi aku mesthi gimana dong? Pikirku.

Setelah sedikit menerawang. Akhirnya, kubalas juga SMS ‘misterius’ itu. SMS dari nomor baru yang begitu baik membangunkanku mendahului teman setiaku–jam weker–yang selama ini membangunkanku, tentunya nomor dua rajinnya setelah Ummi.

“Dhist, ayo berangkat. Ummi sama Abi udah siap ini.” Ummi memanggilku dari ruang tamu.

Nggih Mi. Nanti Dhist nyusul. Nembe ngirim SMS.” Sahutku.

“Ya udah, nanti Dhik Ara diajak bareng ya. Dia lagi wudhu di belakang.”

“Siap Mi! Ada Dhist, semua beres pokoknya!” Jawabku dengan PD-nya.

Ummi pun berlalu pergi meninggalkanku. Aku masih termenung memikirkan huruf-huruf yang ingin kurangkai untuk membalas SMS ‘aneh’ tadi. Akhirnya kelar juga. Sebuah SMS siap kukirimkan.

Wa’alaikumslm_

Suwun nggih sdh bngunin sy QiyamulLail pg ini_ Ngpnten, jnngan snten? Klo kbrtan sy g’maksa.

Sjrh takkn prnh sdktpn mnctt lgkh org2 bysa. Ia hnya akn mnctt dg tnta emas lngkh org2 luar bysa yg mmbwa prbaikn & kbrmnfaatn di knan-krinya. TTP SMGT! Krna tiap dtik hdp ni adlh prbaikn, pmbljarn & ksngghan mraih ridha-Nya. Keep on fighting!!!

SMS yang terlalu panjang–hampir tiga teks–kukirimkan. Ucapan terima kasih, pertanyaan ditutup dengan sebuah kata penyemangat. Tidak begitu spesial tapi semoga saja bisa mengimbangi SMS sebelumnya, minimal draw, seri ataupun remis juga boleh. Yang penting nggak berakhir kekalahan tragis lewat adu pinalti. He…

“Puk…!” Ara menepuk bahuku sedikit mengagetkan. Adikku satu-satunya, paling cantik lagi, sesuai dengan namanya Latifa Az-Zahra. Nama itu adalah doa Abi dan Ummi untuknya. Walau kadang-kadang sedikit manja, tapi aku sangat menyayanginya. Dia asyik banget dikerjain, bahkan kadang-kadang Ummi atau Abi harus turun tangan mendamaikan kami. Tapi itu yang buat rumah jadi makin asyik. Nggak ada berantem, nggak ramai.

Aku nggak sadar Ara udah berdiri di sampingku siap tempur, maksudnya siap berangkat.

“Oh, kamu Ra. Udah siap tho? Ditungguin lama banget.“

“Mas Dhist aja yang nggak tahu. Ara udah berdiri dari tadi tahu! Hayo, lagi SMS-an sama siapa? Jangan-jangan…” ledek Ara.

“SMS teman. Bukan siapa-siapa kok. Cuma iseng.”

“Hati-hati lho Mas! Jangan sampai kebablasan. Takutnya ada something bisa repot. He… “

“Tenang aja! Kamu kenal Mas Dhist khan? Nggak macem-macem deh.”

“Percaya, percaya banget. Palingan kalau nggak kepepet. He… “ Ara sedikit bergurau.

“Ya udah, ayo cepet berangkat. Kalau telat panjang urusannya. Diinterogasi diakhirat udah siap? He… “ Balasku sambil menggapai tangan Ara mengajaknya bergegas.

“Iya-iya Mas. Pelan-pelan aja. Tangan Ara sakit tahu!”

Sorry Dhik. Habis kamu rewel, bikin gemes deh.” Kucubit pipinya yang makin tembem.

“Dasar, Mas Dhist bikin gara-gara. Awas ya! Nanti gantian kucubit, pokoknya lebih sakit”

Kulihat Ara makin kesal, langsung aja aku berlari. Kejar-kejaran nggak bisa dihindarkan lagi. Larinya begitu cepat. Ara memang wanita perkasa mengikuti jejak Ummi yang penyabar tapi pekerja keras  Napasku terengah-engah sampai akhirnya tiba di masjid. Terpaksa, adegan ini harus bersambung dulu, minimal sampai episode baru sehabis jamaah Subuh. Episode Dhist-Ara ini hampir setiap pagi terulang. Kejar-kejaran masjid pulang-pergi, kaya bus kota, berakhir dengan perdamaian saat sarapan. Tentu, Abi dan Ummi sebagai hakimnya. He…

-fath-

Seperti biasa, jam 06.15 WIB aku sudah sampai di sekolah. Kuparkirkan New Shogun 125–kuda besi setiaku–yang setiap hari menemaniku menyusuri jalan-jalan desa, gang-gang sempit sampai ke sekolah. Penuh tantangan, tapi itu yang membuat hari-hariku makin hidup.

Rutinitas harian yang hampir tidak pernah kutinggalkan, apalagi sejak naik ke kelas XII ini, shalat Dhuha sebelum masuk sekolah. Seperti biasa, sekolah masih begitu asyik dengan sepinya walau surya sudah bersinar cukup terang pagi ini. Selesai wudhu, kuteringat sesuatu–peristiwa aneh kemarin–yang tiba-tiba mengusikku. Namun, kucoba melupakan semuanya dan berusaha hening dan khusyuk­kan shalatku.

Baru beberapa jengkal kakiku melangkah keluar. Hape yang kusimpan di saku bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Entah dari siapa. Tanpa menunggu lama, kubuka pesan itu. Nggak salah lagi, SMS ‘misterius’ itu, tepatnya balasan SMS-ku tadi pagi. Begini isinya,

Ngpntn, Mas Yudhistira_ Sy ad’ kls Mas yg Mas temui Dhuha kmrn_ Ad’ yg cngeng_ Sy dpt no Mas dr bltn Tabir_ Klo g’slah, Mas tho Pimrednya? Sy emg lg dpt mslh, lmyan brat tp sy g’snggp hdpi sndri_ Sy hnya bsa nngis Mas_ Ngpnten nggh_ Astrid

Oh, ternyata benar. Yang SMS sekaligus bangunin aku semalam Astrid, gadis yang kutemui Dhuha kemarin. Rasa ingin tahuku semakin meluap-luap. Apa yang terjadi dengan gadis ‘misterius’ yang sudah berkurang kemisteriusannya ini.

“Masalah apa yang membuatnya terlihat begitu tersiksa? Begitu beratkah? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mencampurinya? Mungkinkah aku diam melihat orang lain, bahkan saudaraku seiman menderita sendiri? Haruskah? Aku harus bagaimana?” rentetan tanya menyelimutiku beberapa saat.

Akhirnya hati kecilku yang menjawab semuanya. Kuberanikan diri membuka diri agar dia mau berbagi. Sekedar menumpahkan bebannya. Mungkin aku bisa membantu memikulnya. Sekedar memberi semangat atau ikut mencari solusi.

Oh, nggh! G’apa2 Dhik_ Mgkn mslah bgt brat,tp akn jauh lbh ringn klo ad’ brbgi dg shbt/org tua ad’.InsyAllah akn jauh lbh baek. Tabir ada rbrik curhat,mgkn bs dimnfaatkn_ Mgkn da sdkt ilmu yg bs dibg. Bkan promo lho! He2. Mdh2an ad’ tmukn solusi trbaek. Suwun_

Kukirim SMS itu. Mudah-mudahan bisa sedikit membantu. Ada yang kelupaan, aku belum sempat kenalan ya? Namaku Fathan Yudhistira, anak pertama dari dua bersaudara. Aku anak kelas XII, tepatnya semester VI, menunggu detik-detik terakhir ‘diusir’ secara halus dari SMA-ku tercinta, SMA terfavorit se-Kabupaten, SMA paling serem. Maklum aja bekas rumah sakit. Apalagi bersebelahan dengan tempat peristirahatan terakhir jasad-jasad yang ditinggalkan jiwanya menghadap Khaliq-Nya, maksudnya pemakaman. He…

Kembali ke kisah…

Beberapa saat, pesan baru masuk lagi. Kali ini balasan dari Astrid–Gadis Dhuha itu– lagi. SMS-nya singkat, jelas tapi sarat makna.

Suwun nggh Mas_ InsyAllah, saranny akn sy jlni_ mnt doany mawon_ Met bljr_ Ngpntn udh gnggu_

“Mungkin buru-buru, jadi nggak sempat merangkai kata kali ya?” Pikirku.

“Huz, kamu kenapa Dhist? Kok punya pikiran gitu? Istighfar? Nyebut Dhist! Eling… Jangan sampai kebablasan…” Hati kecil mengingatkanku.

“Astagfirullah!!!” kuelus dadaku hening. Merasakan jantungku masih berdetak menyebut asma-Nya, tetap berdetak walau aku sempat melalalikannya beberapa saat. Ampunilah hamba-Mu ini…

Jauh lebih singkat kubalas,

Nggh_smg yg trbaik brsama qt. Laa Tahzan inallaha ma ana!

Kututup kenangan SMS-an pagi ini. Hape  harus kumatikan. Tata tertib sekolahku yang mewajibkannya. Kadang ironi, banyak sekali siswa yang melanggarnya. Dalihnya sering membuat hati miris, peraturan ada untuk dilanggar. Walaupun terkesan humor belaka, tapi jika mendarah daging entah bagaimana nasib bangsa ini kelak. He…

Fardu utama pagi ini akan kumulai, menuntut ilmu bersama teman-teman. Membuka cakrawala dan memperkaya hati. Semoga dicatat oleh para malaikat-Nya sebagai amal ibadah yang tak terputus. Semoga menjadi pemberat Mizan kebaikan di akhir waktu nanti. Amin.

-fath-

 “Dhist, ayo ngenet! Cari materi buat tugas Bu Titik.” Ajak Iqbal, teman sekelasku. Sahabat setiaku sejak kelas X dulu. Redaksi Tabir juga.

“Aku udah ngerjain ki. Malahan udah dikumpulin. Emangnya kamu belum Iq?” Sahutku.

“Yah, kamu kok gitu sih? Nggak ajak-ajak. Pokoknya kamu harus nemenin aku. Titik nggak pakai koma. Wajib ‘ain hukumnya! Please!” Iqbal memaksaku dengan penuh harap.

“Iya-iya. Tak temenin friend! “

“Ayo berangkat! Aku nebeng Bouraq-mu aja ya? Itung-itung hemat energi, hemat bensin maksudnya. He…”

“Rebes! Let’s go!”

“Oye!”

Aku bingung mau ngapain. Lagi nggak mood ngenet. Tugas udah rampung. Aku emang lumayan rajin, terutama tugas Bahasa Indonesia. Perlu dicatat, aku paling hobby yang namanya nulis, nggak bagus-bagus amat. Tapi rasanya seneng.

Akhirnya, daripada nganggur, kucoba buka-buka email redaksi tabir. Banyak banget inboknya. Seperti biasa, rubrik Curhat paling banyak peminatnya. Biasanya yang kebagian tugas jawab aku, tentu mesthi konsultasi dulu sama Pak Fari, Guru Agama Islam yang ngrangkep tugas jadi supervisor–pembina–buletin Tabir.

Saking banyaknya, aku bukanya ngacak aja. Aku terpaku pada satu judul curahan hati sobat Tabir, nama beken pembaca setia tabir. Haruskah Berpisah Atas Nama Cinta. Judulnya menantangku membacanya.

Isinya begitu mengetuk nuraniku. Seorang anak–seorang gadis–yang   dilanda ketakutan besar karena kedua orang tuanya berniat untuk berpisah. Padahal, gadis itu sama sekali nggak ingin keluarganya porak-poranda gara-gara perceraian. Dia ingin keluarganya kembali utuh, bahagia dan saling menyayangi seperti dulu. Dia bingung bagaimana menyatukan dua hati yang disatukan atas nama cinta yang kini dilanda prahara.

Setiap hari, pertengkaran selalu menghiasi rumahnya. Kedamaian seakan telah pergi jauh meninggalkan keluarga ini. Gadis itu hanya bisa menangis dalam setiap Dhuhanya, hanya bisa berharap dalam setiap Tahajudnya. Dia perlu solusi. Itu yang membuatku makin bertekad membantu meringankan bebannya.

Aku sendiri ikut membayangkan. Seandainya suatu saat keluargaku yang mengalaminya. Ummi dan Abi ingin berpisah. Aku nggak ingin semua itu terjadi. Percerian memang dibolehkan tetapi Allah sangat membencinya. Kelak, yang akan menjadi korban tentu buah hati, tanda cinta mereka berdua.

Tanpa kusadari. Air mata menetes. Sosok tegar yang sering kutampakkan, luluh seketika. Jiwa kegaranganku entah pergi kemana. Aku begitu rapuh. Seumpama teman-temanku tahu aku menangis, aku pasti dledek habis-habisan.

“Preman kok nangis???” pasti kata-kata itu yang keluar dari mereka.

Segera saja, kusimpan email itu ke flashdisk Kingston 2 GB yang hampir penuh dengan artikel, puisi dan cerpen-cerpen yang kubuat kala senggangku.

“Semoga redaksi Tabir bisa membantu!” batinku.

Kumasukkan saku, dan segera kututup. Kuberjalan menghampiri Iqbal yang masih asyik mengedit friendsternya. Terlihat begitu happy, sangat kontras dengan yang kualami. Karakter Iqbal yang membuatku selalu bersemangat. Dia jarang bersedih. Senyum hampir tak pernah lupa menghiasi wajahnya. Santai tapi berkelas. Mungkin itu yang pantas nggambarin Iqbal. Jangan pikir negatif! Aku masih normal lho.

“Iq, udah selesai belum?”

“Belum nyari. He…” jawabnya santai.

“Lha, dari tadi ngapain? Dibela-belain kesini malah asyik ngutak-utik friendster melulu!”

“Maaf, habis aku baru punya banyak kenalan baru nih. Sampai lupa, belum cari. He…”

“Cepetan, udah sore nih! Aku mesthi ngajar privat. Kalau telat bisa dipecat. Gawat Brow!”

“Bercanda. Udah selesai dari tadi kok. Aku lihat kamu masih asyik, jadi aku nggak mau ganggu. Makanya iseng-iseng gini. Emang ngapain tho?”

“Rahasia. Nanti ceritanya sambil jalan aja.”

“Ya, udah. Ayo pulang” Iqbal gantian mengajakku.

“Ayo! Tapi bayarin dulu ya. He…”

“Siap Boz!” Iqbal memberi hormat.

“Makasih ajudan!” sahutku.

Sambil jalan kuceritakan semuanya tadi. Seperti biasa, Iqbal hanya mengamini saja. Aku udah cerita panjang lebar jawabnya cuma santai. “Terserah kamu aja Dhist! Aku ngikut aja!”  Jawaban Iqbal nggak memuaskanku. Dia terkesan cuek. Tapi itu yang membuatku dekat dengannya. Kadang-kadang ide-ide brilian muncul darinya. Bahasan-bahasan unik Tabir sebagian besar idenya. Gress dan orisinal, lain dari yang lain. Tetap santun walau bahasanya gaul. Bagaimanapun juga, Iqbal is my best friend forever!!!

Kuantar Iqbal ke kembali ke sekolah, mengambil jamaluddin, nama motor Honda Suprafit kesayangannya. Bergegas, kuayunkan tanganku, memutar gas dan melesat kembali ke jalan raya. Menuju satu tujuan, rumahku tercinta.

“Aku pulang !!!” teriakku keras dalam hati.

-fath-

Siang itu begitu terik. Aku enggan pulang. Kusempatkan waktuku menghadap pak Fari berkonsultasi masalah email tadi. Astagfirullah, sempat terlupa lagi. Email itu dari Astrid, gadis Dhuha itu. Ternyata dia benar-benar punya masalah. Begitu berat dan mungkin kalau aku jadi dia aku akan merasakan hal yang sama.

Kuceritakan panjang lebar semua peristiwa yang kualami. Pertemuanku dengannya, membaca SMS-nya, bahkan sampai membuka emailnya. Nggak ada satupun yang terlewat. Kamipun sempat bertukar pikiran mencari solusi untuknya. Sempat pula berdebat kecil mencari alternatif lain. Semua kutulis dalam bahasa yang santai siap kukirimkan sebagai balasan, tentunya setelah diedit pak Fari. Beliau begitu ahli memilih kata. Maklum, sewaktu kuliah beliau aktif ikut teater dan sedikit banyak mengerti psikologi, terutama psikologi remaja. Begitu yang aku tahu dari sosok pak Fari, sahabat, guru, sekaligus pembimbing spiritulaku.

Suwun Pak! Saya segera kirimkan balasan ini. Mudah-mudahan sobat Tabir itu puas dan bisa membantu menyelesaikannya.”

“Amin! Ngati-ati Nang! Nggak usah ngebut. Jalanmu masih panjang!”

“Nggih, Pak! Mangga… Assalamu’alaikum.” Aku berpamitan dan berlalu pergi. Menuju satu tujuan, warnet.

“Waalaikumsalam.” Sayup-sayup kudengar pak Fari membalas salamku.

“Warnet, I’m coming…” teguhku.

-fath-

To      : as3d@yahoo.co.id

From    : tabir_curhat@yahoo.co.id

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuhu,

Afwan, baru bisa balas.

Perceraian merupakan hal yang diperbolehkan oleh Allah, namun Allah juga sangat membencinya. Sobat, dalam kehidupan berumah tangga, terjadi sedikit konflik itu adalah hal yang wajar. Ibarat masakan, seperti bumbu penyedap saja untuk menguji kesabaran dan keteguhan hati sebuah pasangan. Mungkin, ketika konflik ini bisa dilalui, suatu saat nanti kebahagian akan menanungi keluarga Sobat.

Seseorang akan diuji Allah sesuai batas kemampuan umat-Nya. Tidak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Ingat firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah [2]: 153). Sobat, janji Allah itu pasti, sama sekali tidak perlu kita ragukan lagi.

Sobat bisa ‘mendamaikan’ orang tua dengan mendekati keduanya. Ingatkan mereka masa-masa indah yang pernah dilalui. Ajak mereka berbicara dari hati ke hati. Mulailah dari ibu, yang mungkin lebih mudah didekati karena sesama wanita. Untuk ayah, Sobat bisa meminta bantuan keluarga, pakdhe, kakek atau teman baik ayah sobat. Semua itu mungkin, ketika kita yakin dan berani memulainya. Kehendak Allah itu tergantung persangkaan hamba-Nya.

Sobat, apapun kelak yang terjadi, semuanya adalah kuasa Allah. Selalu dekatlah diri dengan Allah. Perbanyak amal shalih dan doakan kedua orang tua sobat kebaikan di dunia dan akhirat karena doa anak shalih termasuk amal jariyah yang tak terputus walau mereka sudah pergi.

Jangan pernah membenci mereka. Berusahalah selalu menjadi penengah dan lilin harapan untuk kedamaian keluarga. Semoga yang terbaik selalu bersama Sobat.

Afwan jiddan atas segala kata yang tidak berkenan. Hanya sebuah nasihat, mudah-mudahan bermanfaat. Berjuanglah Sobat! Harapan itu masih ada.

Jazakumullah khairan katsiran,

Billahitaufik walhidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuhu,

Redaksi Tabir

Bersama Menuju Kebaikan!

Kukirimkan email itu. Berharap bisa bermanfaat, setidaknya sedikit membantunya.

“Semoga saudariku ini mendapat limpahan kebaikan dari-Mu, Ya Allah! Mudahkanlah urusannya dan ridhailah hidupnya dengan ketaatan bersama-Mu. Amin” sepotong doa kukirimkan mengakhiri kunjungan terakhirku ke warnet minggu ini. Esok libur, waktunya beristirahat, melepas penat dan menyiapkan tenaga untuk berjuang minggu berikutnya.

“Perjuangan akan dimulai oleh orang-orang yang cerdas, akan dijalankan oleh orang-orang yang cerdas dan kelak akan dimenangkan oleh orang-orang yang ikhlas dalam perjuangannya.” Kutulis dalam agenda harianku, sepotong kisah hidupku minggu ini.

Semoga esok akan jauh lebih baik. Kuakhiri dengan sebuah semangat, “Perubahan diri adalah irama hidup seorang muslim. Tinggalkan beban dan larilah…” Kata-kata penyemangat dari pak Fari. Melegakkan batinku… Sungguh melegakan…

-fath-

Hari-hari berlalu begitu indah mungkin sangat indah. Entah kenapa aku makin dekat dengan gadis Dhuha itu. Setiap pagi aku gantian membangunkannya Qiyamul Lail, mengiriminya kata-kata penyemangat yang sering kudapat dari pak Fari. Memintanya menebar senyuman dan memintanya untuk selalu ikhlas menghadapi hidup.

Aku sendiri kadang merasa takut. Takut semakin dekat dan semakin berharap ataupun memberi harapan padanya. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri, seperti Ara. Ara yang kini makin dewasa, makin cantik dan makin islami. Nggak urakan lagi seperti dulu. Mungkin, Allah sudah mengabulkan doa-doa Ummi dalanm tiap Tahajudnya.

“Jaga hati Nak! Hati seorang wanita itu terlalu lembut dan tidak pantas kamu sakiti” wejangan dari Ummi ketika kuceritakan semuanya.

“Insya Allah, Mi! Doakan Dhist sanggup nggih!”

“Doa Ummi selalu menyertaimu. Jika kamu dekat dengan-Nya, Insya Allah Dia akan selalu dekat denganmu.”

Nggih Mi!”

Kedekatanku dengan gadis Dhuha–Astrid–itu hanya sebatas SMS atau missedcall , nggak lebih dan nggak berani lebih dari itu. Aku tahu kedekatan yang ‘berlebihan’ tidak baik bagiku dan lebih tidak baik baginya. “Fitnah itu siap mengintai kita setiap saat sadar atau tanpa kita sadari. Waspadalah!” kuingat nasehat Abi sebelum beliau berangkat ke Yogya, tiga hari yang lalu menunaikan tugas dinas dari kantornya. Abiku emang pekerja keras, itulah keteladanan bagiku, bagi seorang anak pertama yang menjadi harapan keluarga suatu saat nanti.

-fath-

Menjaga hati ternyata begitu sulit. Kurasakan kehilangan ketika gadis Dhuha itu tidak membangunkanku Qiyamul Lail, tidak mengirimkan kata penyemangat hari ini, tidak mendengar kabarnya. Dunia terasa aneh, lain dari biasanya. Terasa hampa nggak ada gairah memulainya.

“Ya Allah, apakah yang terjadi dengan hatiku? Sudah menjalarkah virus cinta ini? Bukankah dulu aku hanya sebatas menganggapnya adik, tidak lebih. Apakah panah asmara yang mulai menghujamku? Begitu sakit, Ya Allah!” Hatiku bertanya-tanya.

Aku mungkin terlalu bodoh menyadarinya. Aku tak kuasa menjaga hatiku. Puasa-puasa sunnahku, Qiyamul Lailku, Dhuhaku, belum mampu membentengi kalbuku. Semakin sakit ketika kucoba meraskan semua getar-getar cinta itu. “Ya Allah, jagalah hati hamba untuk selalu mencintai-Mu! Teguhkan azzam hamba di jalan-Mu, jalan yang Kau ridhai.” Sepotong doa kusampaikan pada-Nya. Semoga sampai di ‘Arsynya dan segera mendapat jawab, mengobati kosongnya hatiku, kosong yang menyakitkan…

Mungkin, doaku langsung dijawabnya. Sekitar lima orang gadis, beberapa diantaranya angkatanku, menghampiri dan mengajakku ke sebuah tempat, parkiran motor.

“Assalamu’alaikum!” sapa salah satu diantara mereka.

“Wa’alaikumsalam. Ada apa ya Mbak?”

“Maaf sebelumnya. Kami mengajak Mas kemari membawa sebuah ketakutan. Membawa sebuah tanya dan membawa sebuah keingintahuan yang besar, Mas.”  Afum–teman Astrid yang sempat melihatku di masjid–bertanya dengan penuh kekesalan. Tampak jelas di raut mukanya.

“Masalah apa nggih?” Jawabku bingung. Aku takut ada hal buruk yang akan terjadi padaku.

“Jujur aja Mas, apa yang Mas lakukan ke Astrid? Sekarang dia masuk rumah sakit. Jawab yang jujur Mas! Nggak usah ditutup-tutupi lagi. Semua udah jelas.” Salah satu diantara mereka melanjutkan.

Aku harus menjelaskan semuanya. Fitnah tidak boleh berlanjut. Aku takut aroma permusuhan semakin menjadi. Niat baikku membantu Astrid mungkin disalah-artikan orang lain karena ketidaktahuan mereka. Hatiku pun bergolak.

“Saya melakukan apa? Saya nggak tahu apa-apa?” aku makin takut. Ternyata kejadian beberapa waktu lalu benar-benar menjadi bumerang bagiku.

“Dulu saya lihat Astrid menangis di masjid. Ada mas di dekatnya! Ngaku aja mas, jangan munafik! Mas apakan Astrid?” Rum semakin garang.

“Demi Allah, saya tidak berbuat apa-apa. Saya hanya ingin tahu kenapa dia menangis. Cuma itu, nggak lebih.” Jawabku penuh kepasrahan. Sedikit meredam emosi.

“Nggak usah berdusta Dhist! Nggak mungkin orang tiba-tiba nangis. Pasti kamu apa-apain Astrid khan?” Hanum, angkatanku tapi beda kelas, menyambung.

“Mbak-mbak, Demi Allah, saya tidak berbuat apa-apa sama Astrid!” aku makin terpancing.

“Huz, mana ada penjahat mau ngaku?” celetuk salah seorang diantara mereka lagi.

“Beri saya kesempatan menjelaskan. Bisa tidak?” nadaku makin tinggi, tapi nggak bermaksud marah.

“Ya udah. Cepet nggak usah basa-basi apalagi berbelit-belit!” Hanum menengahi.

“Begini ceritanya, saya dulu nggak sengaja denger Dhik Astrid menangis. Waktu itu, saya sedang shalat Dhuha, karena penasaran, saya nekat mendekat dan bertanya, tapi belum sempat dijawab, Rum datang. Aku langsung buru-buru balik ke shaf putra. Nggak sempat bilang apa-apa, takut disangka yang nggak-nggak. Eh, ternyata akhirnya jadi begini. Astagfirullahalazim!” paparku panjang lebar meyakinkan mereka.

“Cuma itu aja? Nggak ada yang lain?” Rum melanjutkan.

Jenengan tahu nggak? Astrid itu punya masalah besar yang dipendamnya sendiri.”

“Masalah apa? Kenapa dia nggak cerita?” Rum makin ingin tahu.

“Astrid dulu sempat ngirim curhat ke Tabir, sedikit banyak saya  tahu masalah yang dihadapinya. Bahkan sempat aku bahas solusinya sama pak Fari. Jenengan-jenengan sebagai saudaranya tidak tahu? Kemana kalian selama ini? Apakah tidak sadar setiap hari Astrid memendam masalah, tersenyum dengan menahan luka? Kemana jenengan? Kemana?” emosiku nggak terkontrol lagi. Sedih karena Astrid masuk rumah sakit, sedih karena dihakimi dan lebih sedih lagi ternyata sahabat-sahabat Astrid yang harusnya membantunya, memberi nasehat tidak tahu apa-apa.

“Masalah apa Mas? Kenapa Astrid nggak cerita?” Mereka terlihat penasaran, rasa ingin tahu makin meledak namun masih diselimuti amarah.

“Lebih baik jenengan semua jenguk dia. Biar Astrid sendiri yang menceritakan semuanya. Mungkin dengan kedatangan jenengan semua, dia akan bangkit, dan semangat untuk tegar menghadapi masalah-masalahnya.” Lanjutku sedikit memberi solusi.

“Aku masih ragu semua perkataanmu tadi Dhist? Aku belum yakin semua itu. Astrid itu dekat sekali sama aku.” Hanum memotong. Dia terlihat belum bisa mempercayaiku seperti yang lain. Mungkin dia memang perlu bukti nyata yang sulit aku wujudkan. Pertemuan kami tanpa skenario yang disengaja. Penuh kebetulan. Hanya Astrid yang bisa menjawab semuanya.

“Terserah jenengan saja. Biar semuanya jelas. Tidak ada lagi prasangka. Lebih baik segera saja temui Astrid. Tanyakan semuanya. Biar clear!” Sambungku lagi.

“Baiklah! Untuk kali ini kami percaya pada Mas. Tapi nanti kalau Astrid berkata sebaliknya. Aku orang pertama yang akan meminta pertanggungjawaban Mas!” Rum mengakhiri perdebatan ini. Kulihat mereka makin ‘jinak’ tidak segarang tadi. Fitrah kelembutan wanita mulai menanunginya. Makin terlihat teduh.

“Insya Allah, saya siap. Titip doa untuk Astrid. Semoga cepat sembuh dan dimudahkan urusanya. Assalamu’alaikum.” Aku berlalu pergi kembali ke kelas.

“Waalaikumsalam.” Terdengar lirih, mereka membalas salamku.

Hari ini begitu asing. Belum pernah terbayangkan sebelumnya, aku diinterogasi. Ternyata benar, apa yang kita anggap baik belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Hidup memang misteri, nggak dapat kita prediksi meski tanda-tandanya begitu nyata. Khaliq memang Maha Kuasa.

Aku berjalan dengan penuh tanya. “Apa yang terjadi dengan Astrid? Dia sakit apa? Kenapa tidak mengabariku? Begitu parahkah?” Dalam hati aku selalu berharap dia baik-baik saja. Dia gadis perkasa. Walau dia pernah menangis, tapi tangisnya itu yang kelak menyuburkan bumi dan menyejukkan hati….

-fath-

 “… Kuingin kau tahu, diriku disini menanti dirimu, meski kutunggu hingga ujung waktuku…” nada dering ‘Cinta Dalam Hati-nya Ungu’ untuk kesekian kalinya berdering. Ada sebuah telepon masuk.

“Assalamu’alaikum Mas!” Lembut salam menyapaku, terdengar begitu lemah.

“Wa’alaikumsalam. Ngapunten, niki sinten nggih? Ada perlu apa?” Jawabku.

“Saya Astrid, Mas.”

“Oh, Dhik Astrid. Sudah sembuh tho?” Aku sedikit kaget. Tiba-tiba Astrid meneleponku. Baru pertama kali aku mendengar suaranya langsung setelah pertemuanku yang dulu. Walau kadang kali missedcall , belum pernah aku mendengar suaranya.

“Alhamdulillah sudah baikan, Mas. Saya telepon jenengan mau menyampaikan permintaan maaf sekaligus terima kasih atas perhatian dan bantuan Mas selama ini. Semua sudah saya jelaskan. Mereka semua mengerti dan memakluminya. Teman-teman saya, termasuk Mbak Hanum semua ada disini. Mereka titip maaf buat Mas.”  Sambung Astrid lagi.

“Speakernya tolong diaktifkan. Biar Mas jawab maafnya langsung Dhik!”

“Nggih.”

“Sudah saya maafkan. Saya juga minta maaf sudah membuat jenengan semua berprasangka. Mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran berharga untuk masa yang akan datang.” Lanjutku.

Nggih, sama-sama Mas!” Serentak Astrid dan teman-temannya menjawab.

“Ya udah. Istirahat yang cukup Dhik. Biar cepat sembuh. Jangan lupa berdoa! Oh, iya. Salam buat bapak dan ibu. Salam buat teman-teman juga nggih!”

“Insya Allah, Mas!”

“Assalamu’alaikum” kuakhiri telepon Astrid dengan perasaan lega. Aku mendengar dia sudah sembuh. Masalahku dengan teman-temannya juga berakhir dengan indah. Semoga esok lebih baik. Kubereskan semua buku-buku yang berserakan. Kumasukkan tas dan bersiap tidur. Doa singkat kupanjatkan menjelang tidurku, kematian sesaat. “Dengan menyebut asma-Mu aku hidup, dan dengan menyebut asma-Mu pula aku mati.” Tidak begitu lama aku sudah tertidur pulas, dalam dan semakin dalam. Semoga mimpi indah menemani tidurku…

-fath-

 Asslm_

Aq mo crta Mas_ Rncna Allah mmg mstrius_ Trnyt, ada nikmt diblik ujian_ Alhmdlh Bpk&Ibu udh akur lg_ Sktku atas kuasa Allah tlh mnyatukan mreka kmbli_ Allah bgt baik_ Aq smbh,org tuaku jg akur_ Trmksh ya Mas bwt smuanya_ Allah tlh mmbwt rncna indh utkq tnp aq sdari_

Sebuah pesan baru masuk. SMS pertama Astrid yang masuk ke hapeku. Kabar gembira yang membuatku ikut terharu. Sebuah keluarga yang hampir porak-poranda kembali disatukan oleh Sang Maha Cinta lewat sebuah uji kesabaran. Buah hati, tanda cinta, kembali mengeratkan cinta yang hampir luruh. Sungguh rencana-Nya memang begitu misterius, tapi berakhir begitu indah.

“Alhamdulillah. Gadis Dhuhaku menemukan senyum yang lama menghilang. Dia telah menemukan kembali hidupnya dalam damainya sebuah keluarga. Semoga kebaikan selalu bersamanya!” pintaku.

Aku terlanjur merasakan something yang tak mungkin terdefinisikan. Gadis Dhuha itu sudah mengisi hatiku, menjadi bagian hari-hariku. Walau hanya beberapa saat, dia sudah begitu berarti. Aku tak ingin semua terlalu jauh, tapi ‘rasa’ itu tak mungkin kutolak, tak mungkin juga kuabaikan begitu saja. Kuhanya bisa memendamnya. Entah, bagaimana perasaannya kepadaku sama sekali tak kuhiraukan.

Sempat kuberniat mengungkapkannya, tapi kuteringat Sabda Rasulullah, suri teladan terbaik umat ini, “ Barangsiapa yang jatuh cinta (kepada lawan jenis), kemudian dia tetap menjaga kesucian dirinya dan menyembunyikan rasa cintanya, lalu mati, maka dia mati syahid.” (Diriwatkan Al-Hakim, Khatib, Ibnu ‘Asakir dan Ad-Dailami). Kuteguhkan azzamku untuk memendam rasa cinta ini.

Kuuntai sebuah doa, menenteramkan hatiku. Semoga suatu saat nanti Allah, Sang Maha Cinta melabuhkan cintaku pada orang yang tepat, yang benar-benar ditakdirkan menjadi partner hidupku selamanya dalam beribadah kepada-Nya.

W3_

Alhmdlh Dhik_ Mas ikt snang_ Smg kluarga yg kmbli utuh itu mnmbah kdamaian hti dlm bribdh kpdNya_ Brjuanglah trus adikku_ Smg kbaikn sllu brsamamu_

Semua berjalan seperti biasa dan terus berulang setiap hari entah kapan akan menemui. Saling missedcall saat membangunkan Qiyamul Lail atau berbagi kata penyemangat. Rasanya enjoy walau harus sekuat tenaga menata hati dan menjaga sikap. Belajar ikhlas untuk menerima kenyataan. Jika suatu saat nanti aku harus berpisah dengan gadis Dhuhaku. Mungkin dia akan menemukan tambatan hati untuk berlabuh suatu hari nanti, mungkin denganku atau dengan yang lain.

Aku tak berhak berharap dan memang tak sepantasnya berharap. Dia sekarang adikku. Seorang kakak harus selalu menjaga adiknya. Menjaga kehormatan dan kesucian adiknya. Tidak melukai atau menyakiti hatinya.

“Ya Allah, semoga yang terbaik selalu bersama kami! Andai suatu saat nanti kami berjodoh, pertemukan kami dengan keridhaan-Mu, Ya Allah!” pintaku lagi.

Astrid, Gadis Dhuha itu telah menjadi bagian hidupku. Kenangan manis bersamanya masih akan menjadi irama hidupku sekarang, esok dan selamanya…. Gadis Dhuhaku, nantikanku di batas waktu…

Andainya cinta boleh kuberi nama,
Maka akan ada namamu disana.
Andainya rindu boleh kutitipkan lewat kuntum bunga,
Maka tak cukup satu juta bunga membawanya…

 

-selesai-

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila terdapat kemiripan tokoh, setting, karakter, dan peristiwa semuanya bukanlah kesengajaan tetapi hanyalah kebetulan semata. Mohon diikhlaskan dan semoga dapat memberikan pencerahan.

@Wonogiri, 7 Mei 2009
Fathan Yudhistira, sebuah nama pena dari sosok nyleneh Ary Gunawan

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: